Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 70


__ADS_3

Rafa pulang dengan mengambil penerbangan paling awal hari itu setelah Reyhan memberitahunya tentang Cinta yang di culik Joy. Dan kini Rafa sudah tiba di bandara. Jack sudah menunggu kedatangan Rafa.


"Tuan maafkan keteledoran saya." Ucap Jack menundukkan badan dihadapan Rafa.


"Kita kerumah Joy sekarang, Jack." Ajaknya yang langsung masuk ke mobil.


Jack pun segera melajukan mobil dengan sangat cepat menebus jalanan. Dia benar benar merasa bersalah karena tidak bisa milindungi Cinta.


"Tuan, saat ini Joy sudah masuk dalam perangkap." Ucap Hana melalui sambungan telepon dengan Jack.


"Dimana Joy saat ini?" Tanya Rafa.


"Dia menuju Singapur untuk menemui Tuan Reyhan." Jelas Hana.


"Baik. Terus awasi dia." Mematikan sambungan telepon.


"Jack, sekarang Imah dimana?" Tanya Rafa geram.


"Dia berpamitan untuk pulang kampung, Tuan. Katanya anaknya sakit."


"Lalu, dimana Mila?"


"Dia memundurkan diri hari itu juga. Saya sudah mencoba mencarinya saat tahu Nyonya hilang. Tapi saya tidak bisa menemukannya."


Rafa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia merasa sangat menyesal karena lagi lagi harus tertipu oleh orang kepercayaannya. Padahal Imah sudah bekerja dengannya belasan tahun. Dan bodohnya lagi, Rafa tidak pernah tau ternyata Jesika adalah anak Imah.


"Brengsekkkkk... Selama ini aku beri dia kepercayaan penuh. Ternyata dia membalasnya seperti ini. Tunggu saja Jesika, akan kubuat kalian menghilang dari dunia ini, jika terjadi sesuatu pada Cinta." Rutuknya.


Sedangkan saat ini, Cinta dikurung di kamar itu. Tia tidak bisa membebaskannya, karena saat ini Tia pun di ikat oleh Joy di depan kamar Cinta. Mulutnya ditutup menggunakan lakban.

__ADS_1


Tia ketahuan oleh Joy, tepat setelah dia melaporkan pada Reyhan tentang Cinta.


"Apa yang harus aku lakukan?" Mondar mandir dalam kamar itu.


Tadinya Cinta diikat di tempat tidur, tapi dia dengan mudahnya melepaskan ikatan itu. Kini dia mencari cara agar bisa membuka pintu kamar itu.


Apartemen Joy saat ini sangat sepi. Dia sudah kehilangan banyak bawahannya, akibat keegoisannya sendiri. Dan kini dia sedang menggali kuburnya sendiri, dengan mempercayai Reyhan. Dengan sombongnya Joy mengirimkan pesan pada Rafa, tentang kemenangannya.


"Sayang bertahanlah, sebentar lagi kita akan keluar dari sini." Mengelus perutnya yang masih datar.


Matanya melihat sesutu yang bisa digunakan untuk membuka pintu itu. Cinta melihat gunting yang terselip di bawah meja kayu tua di samping tempat tidur. Segera diambilnya gunting itu.


Cinta memulai aksinya, dia berusaha membuka pintu menggunakan gunting itu. Dan setelah mencoba berkali kali, pintu terbuka.


"Tia..." Teriaknya saat melihat Tia tergeletak di lantai dengan seluruh tubuh terikat dengan lakban.


Cinta membantunya melepas semua lakban yang melilit ditubuhnya.


"Bom? Dimana?" Melirik kesegala arah.


Tia menunjuk keatas langit langit atap rumah. Benar adanya, bom itu ditempelkan disana menggunakan lakban. Waktunya terus berjalan. Saat ini tinggal 11 Menit lagi.


"Cepat Tia. Kita harus keluar dari sini." Membantu Tia.


"Nyonya, tinggalkan saya. Cepat keluar dari gedung ini. Cepat nyonya." Pinta Tia.


"Tidak Tia. Aku tidak akan meninggalkan kamu." Berhasil melepas lakban itu.


Lalu, mereka berlari menuju pintu. Ternyata, Rafa memasang pengaman pada pintu dengan menggunakan sistem angka.

__ADS_1


"Coba angka 1 empat kali, Nyonya." Saran Tia.


Cinta mengikutinya. Sayangnya kodenya salah. Mereka terus menekan angka yang berbeda, hingga percobaan ke sepuluh masih gagal. Hingga mereka harus menunggu lima menit kemudian. Sementara, waktu bom terus berjalan.


Diluar gedung, Rafa baru saja tiba. Dia berlari hendak masuk kegedung apartemen. Tapi, gedung itu ternyata sudah di gepung polisi. Mereka mendapat laporan tentang bom yang ada di dalam salah satu apartemen di gedung itu.


Orang orang berhamburan keluar dari sana. Rafa memaksa masuk, namun dihalangi oleh para petugas itu.


"Istri saya didalam sana." Teriak Rafa mendorong para petugas itu.


"Tenang, pak. Petugas sudah masuk untuk menyelamatkan semua orang yang masih di dalam." Ujarnya.


"Minggir." Teriak Jack berlari mengambil ancang ancang untuk menabrak para petugas yang menghalangi mereka masuk.


Begitu Jack berhasil menerobos masuk, bom meledak di atas sana. Jack terhenti, sedangkan Rafa berlari cepat menuju tangga darurat. Sedangkan para petugas pemadam kebakaran mulai menyiramkan air pada apartemen yang terbakar di lantai atas itu.


Menyadari Rafa sudah menghilang dari pandangannya, Jack segera menyusulnya.


"Tuan..." Teriaknya ikut naik melalui tangga dsrurat.


Saat Jack tiba di lantai tiga, dia melihat Rafa dan Cinta saling berpelukan. Sedangkan Tia hanya diam di belakang mereka.


"Mas, maafkan aku." Ucap Cinta menyesal, karena terlalu berani melawan Joy sendirian.


Rafa menggeleng. Ditatapnya wajah Cinta dalam dalam, lalu kembali di peluknya erat.


"Tuan, sebaiknya kita keluar dari gedung ini." Ajak Jack mengingatkan. Karena sudah terdengar suara kobaran api yang semakin dekat.


"Ayo, kita keluar dari sini." Menggendong Cinta dan berlari menuruni anak tangga.

__ADS_1


Sementara Tia berjalan lambat, karena kakinya sakit. Dia terseleo saat mencoba menyelamatkan Cinta. Melihat itu, Jack segera mengambil inisiatif untuk menggendong Tia. Awalnya Tia berontak, tapi saat melihat ada darah di dahi Jack, dia pun mulai diam dan mengeratkan pegangannya di bahu Jack.


__ADS_2