
(Masih kisah masa lalu) 😉
Saat Cinta masih belum sadarkan diri, Rafa memeriksa ranselnya. Dari sana Rafa mengetahui nama anak yang kini berbaring di kasurnya.
"Cinta Indira. Nama yang indah." Ucapnya tersenyum.
"Den Rafa, Ada Nyonya didepan." Panggil pak Bay memberitahukan.
"Sebentar." Rafa kembali memasangkan cadar Cinta, lalu dia melangkah meninggalkan kamar itu untuk menemui Mamanya.
"Ma," Mendekati Mama nya yang kini berdiri menatap tajam padanya.
"Pulang. Rumah ini boleh kamu tempati saat Mama dan Papa tidak di rumah. Kami sudah kembali sejak dua hari lalu, dan kamu masih tinggal di sini." Bentaknya.
"Iya, aku pulang." Melangkah menuju mobil Mamanya dengan langkah berat.
Pak Bay bingung saat ditinggalkan Rafa begitu saja. Bagaimana dengan anak yang masih belum siuma itu?
Tapi begituh Rafa. Meski dia kadang nakal, tetap saja dia akan sangat menurut pada orangtuanya. Meski sebenarnya, sejak kembarannya 'Rani' Meninggal setahun yang lalu karena keegoisan kedua orangtuanya, Rafa menjadi anak yang pendiam dan hanya bicara seperlunya saja.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Mama dan Papa, Rafa hanya diam. Dia menatap kearah luar.
"Tadi sekolahnya bagaimana?" Tanya Mamanya.
"Seperti biasa, tidak ada yang berubah. Kecuali senyuman Rani yang mulai memudar dari ingatanku." Jawabnya pelan tanpa menoleh pada Mamanya.
__ADS_1
"Berhentilah membahas tentang itu, sayang. Rani sudah tenang di rumah barunya, surga." Mengelus kepala Rafa.
"Andai saat Rani sakit, Mama sama Papa ada disisinya, memeluknya erat memberi kehangatan... Rani pasti masih bersamaku saat ini."
Mendengar ucapan Rafa membuat hati Mamanya terenyuh. Perasaan bersalah memang kerap menghantuinya, karena sering tidak berada disisi anak anaknya.
"Jual saja rumah itu. Mulai hari ini kamu tingga sama Mama dan Papa." Sarannya.
"Tidak mau. Setelah lulus SMP, aku mau tinggal disana. Cukup Mama carikan beberapa pembantu untuk merawat rumah itu." Bentaknya protes sambil menatap tajam mata Mamanya.
Baru kali ini Rafa menatap dan berteriak seperti itu. Dulu dia adalah anak yang sangat sopan dan penurut. Ya, dia menyadari perubahan Rafa terjadi sejak kehilangan saudara kembarnya itu.
Meninggalkan Rafa yang mengamuk pada Mamanya. Di kamar serba putih itu, Cinta mulai membuka matanya. Dia merasa asing dengan tempatnya saat ini. Perlahan dia duduk dan melirik kesegala arah.
"Aku dimana?" Khawatir dan ketakutan.
"Apa aku diculik? Tapi tidak mungkin aku diculik ditempat seindah ini?" Pikirnya.
Dia mencoba mencari jalan keluar, berkeliling diruangan itu. Hingga langkahnya terhenti saat melihat foto cowok dan cewek yang sangat mirip. Dalam foto itu mereka memakai baju yang sama dengan gambar membentuk hurup 'R'.
"Apa mereka kembar?" Kekhawatiran dan rasa takutnya menghilang saat menatap foto itu.
"Hai, aku Cinta. Apa kalian kembar? Kalian beruntung bisa saling menjaga dan bermain bersama. Sedangkan aku, hanya tinggal sendirian. Bunda dan Ayah sudah berada di surga." Ucapnya sambil tersenyum.
Senyuman itu bisa terlihat dari kedua sudut matanya. Karena bibirnya dan hidungnya tertutup kain cadarnya.
__ADS_1
Cekrekk...
Suara pintu terbuka. Segera Cinta berlari kearah pintu. Didapatinya seorang lelaki tua membawa nampan dengan semangkok bubur dan segelas susu.
"Nona sudah bangun?" Sapa pak Bay ramah sambil kembali menutup pintu.
"Bapak siapa? Lalu kenapa aku disini? Apa aku diculik?" Tanya Cinta sambil melangkah mundur.
"Tenang, Nona yang cantik. Nona kecil berada ditempat yang aman. Tuan muda saya membawa Nona kemari, karena Nona pingsan di pinggir jalan." Jelas pak Bay.
Sekilas ingatan itu terbersit dikepala Cinta. Ya, dia ingat merasa sangat haus, hingga akhirnya pingsan di bawah pohon.
"Makanlah dulu buburnya dan habiskan susunya. Setelah itu saya akan mengantar Nona pulang." Meletakkan nampan diatas kasur.
Tanpa menunggu lama, karena memang sangat lapar, Cinta langsung melepas cadarnya dan menyantap dengan lahap bubur itu. Tidak ketinggalan Cinta juga menghabiskan segelas susu.
Pak Bay sangat senang melihat Cinta memakan habis bubur itu. Dia juga akhirnya bisa melihat wajah Cinta yang sangat imut dan menggemaskan.
"Terimakasih makanannya, pak. Maaf saya melepas cadar saya dihadapan bapak. Karena saya benar benar kelaparan. Dan kata Bunda, karna saya masih belum menstruasi, maka masih boleh membuka cadar saya dihadapan orang asing, jika benar benar terdesak." Menjelaskan dengan hati hati.
Pak Bay hanya tersenyum. Dia merasa seperti melihat putrinya sendiri saat melihat Cinta tersenyum ketika mengunyah makanannya tadi.
Cinta sudah kembali memakai cadarnya. Lalu dia menggendong tas ranselnya.
"Boleh antar saya pulang sekarang? Jika terlambat, pakde dan bude akan marah." Ucapnya sedih.
__ADS_1
"Mari Nona saya antar pulang." Pak Bay menuntun Cinta keluar dari ruangan itu menuju halaman depan, dimana mobilnya sedang diparkir.