
Seharian Cinta hanya dikamarnya. Dia masih memikirkan pertanyaan Rafa pagi tadi.
"Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku ceritakan padanya tentang ingatan mengerikan itu?"
Ddrriiitttt…
Ponselnya berdering. Dilayar ponselnya tertera panggilan dari nomor asing. Meski ragu Cinta tetap menjawabnya.
"Assalamu'alaikum, maaf ini siapa?"
"Cinta, sayang. Ini aku Joy."
Mendengar nama itu Cinta terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ada perasaan tidak percaya, saat ini Joy yang sedang bicara padanya.
"Joy?" Ulangnya.
"Iya sayang. Ini aku Joy."
Mata Cinta berkaca kaca. Betapa terenyuh hatinya mengetahui dia bicara dengan Joy. Satu satunya teman, sahabat, kekasih yang dulu selalu ada untuknya. Memberikan kasih sayang saat Cinta kehilangan kedua orangtuanya. Joy juga selalu membelanya saat Cinta disiksa Pakde, Bude dan Febi.
"Joy, kemana kamu selama ini menghilang?" Bertanya diikuti tetesan air matanya.
"Maafkan aku Cinta. Aku terpaksa mengikuti kemauan Mama, Papa. Jika aku menolak, mereka mengancam akan menyakitimu. Kamu tahu, kan? Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." Jelasnya.
Cinta menangis. Rasanya hatinya hancur sekaligus bahagia. Ya, Cinta bahagia bisa bicara dengan Joy. Namun hancur saat mengingat kondisinya saat ini telah menikah.
__ADS_1
"Jangan menangis sayang. Bertahanlah sebentar lagi. Aku akan menjemputmu." Bujuk Joy.
"Tidak Joy. Aku sudah menjadi seorang istri saat ini."
"Benarkah?" Sahut Joy terdengat pura pura tidak tahu.
"Maafkan aku Joy. Aku tidak punya pilihan." Ucapnya dalam tangisan.
"Kamu mencintainya?"
"Aku tidak yakin…" Ungkap Cinta terisak.
"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"
"Baiklah. Jika memang saat ini kamu bahagia. Tapi, saat kamu merasa sulit atau tersakiti, datanglah padaku, sayang. Aku selalu disini menunggumu dan merindukanmu." Ucap Joy.
Cinta hanya mengangguk, lalu segera mengakhiri pembicaraan itu. Dia menangis terisak memeluk bantal.
Saat itu, Rafa datang. Dia mendekati Cinta dan menyibak rambut yang menutupi wajah Cinta.
"Ada apa sayang?" Tanya Rafa lembut.
Cinta segera bangkit dan menghambur dalam pelukan Rafa. Dia melanjutkan tangisannya didada Rafa.
"Menangislah, sayang. Jika memang itu akan menguatkanmu nantinya." Mengelus punggung Cinta.
__ADS_1
Tangisan Cinta semakin deras. Baru kali ini Rafa mengizinkannya menangis. Biasanya Rafa akan memarahinya saat menangis.
"Apa mas mencintaiku?" Tanya Cinta terisak.
Rafa diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini perlakuannya pada Cinta membuatnya bingung sendiri. Jadi, Rafa tidak punya jawaban apapun. Yang dia tahu, saat ini Cinta miliknya dan tidak boleh ada yang merebut darinya.
"Kamu istriku, ratuku dan satu satunya wanita yang aku inginkan. Apa itu tidak cukup untuk menjadi jawaban dari pertanyaanmu?" Mengecup puncak kepala Cinta.
"Aku tidak akan pernah pergi kemanapun, apapun yang terjadi. Kecuali mas yang melepasku." Ucap Cinta sambil mempererat peluknnya.
Berbagai pertanyaan muncul dikepala Rafa, karena sikap Cinta yang sedikit aneh menurutnya. Tapi, pertanyaan itu tidak mungkin diungkapkannya saat ini. Mengingat kondisi Cinta yang sedang sangat rapuh.
"Ingin berbelanja?" Tanya Rafa mencoba menghibur.
Cinta menggeleng kuat. Dia hanya semakin mempererat pelukannya.
"Kamu takut kehilangan aku?"
Cinta mengangguk kuat dan bertambah erat pelukannya.
"Kamu tidak akan kehilangan aku. Apapun yang terjadi, aku akan selalu menjadi milikmu." Membalas pelukan Cinta.
Air mata Cinta kembali mengalir deras. Dia bingung dengan apa yang dirasanya saat ini.
'Maafkan aku Joy. Suamiku adalah yang terbaik untukku saat ini. Maafkan aku mas, tolong jangan lepaskan aku.' Batinnya.
__ADS_1