Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 43


__ADS_3

12 Tahun yang lalu.


Segerombolan anak SMP baru saja keluar dsri gerbang sekolah. Mereka berhamburan untuk segera pulang. Tidak terkecuali dengan seorang siswi yang menutup seluruh wajahnya kecuali mata dengan kain cadar.


"Hey Cinta, kamu jalan kaki lagi pulangnya?" Sapa seorang teman sekelas Cinta.


Cinta hanya mengangguk mengiyakan. Sedangkan diseberang sana Febi sudah masuk kedalam mobil. Dia dijemput oleh Papanya menggunakan mobil.


"Sebenci itu mereka sama kamu Cinta." Menepuk pelan bahu Cinta.


Tidak ada respon dari Cinta. Dia hanya diam memperhatikan mobil pakdenya berlalu meninggalkan dirinya.


'Bunda, Ayah… aku rindu kalian." Batinnya.


Dengan langkah semangat seperti biasanya, Cinta melangkah menyusuri jalanan. Jarak dari sekolah ke rumah selama satu jam lebih perjalanan berjalan kaki. Bukan tidak ingin naik angkot atau ojek. Tapi, Cinta tidak punya cukup uang. Dia hanya dikasih 10 ribu untuk satu minggu.


Cinta sudah sangat kelelahan. Keringat dinginnya mulai bercucuran. Suhu tubuhnya juga terasa sangat panas. Seluruh tubuhya terasa gemetar dan sangat capek. Sebenarnya Cinta demam tinggi sejak tadi malam, tapi karena sudah kelas tiga dan sebentar lagi ujian kelulusan, Cinta tetap sekolah.


"Haus..." Ucapnya saat melihat jualan es cendol melintas dihadapannya.


Dia berhenti sejenak di bawah pohon, mencoba mencari air di dalam tas ranselnya. Ternyata botol minumnya sudah kosong. Raut wajahnya sedih, dia benar benar kehausan. Sementara jarak perjalanan ke rumah masih sangat jauh.

__ADS_1


Sementara itu sebuah mobil melintas melewati Cinta yang duduk lemah di bawah pohon. Seorang bocah seusianya duduk nyaman di kursi belakang mobil. Sementara sopirnya memperlambat laju mobil sambil memperhatikan Cinta dari pantulan kaca spion mobil.


"Den, kasihan anak itu." Ujarnya.


"Siapa, pak?" Tanya bocah itu cuek.


"Itu anak yang duduk di bawah pohon. Sepertinya dia kelelahan."


Bocah itu menoleh kebelakang. Dia melihat sekilas anak yang dimaksud supirnya, lalu terhalang karena ada truk yang lewat.


"Berhenti, pak. Sepertinya dia pingsan." Teriak bocah itu gaduh didalam mobil.


Pak sopir pun mengehentikan mobilnya, dia mebalik arah dan mendekati Cinta.


"Den Rafa, dia demam tinggi." Ujarnya khawatir.


"Bawa kerumah saja, pak Bay." Saran bocah bernama Rafa itu.


Segera pak Bay, sopirnya itu menggendong tubuh Cinta. Membaringkannya di kursi belakang. Sedang Rafa mengizinkan kepala Cinta untuk berbantal di pahanya.


"Suhunya sangat panas pak Bay." Mengambil botol air minumnya. Lalu, Rafa membasahi ujung cadar Cinta dengan air minumnya, ditempelkan ujung cadar yang basah itu ke dahi Cinta.

__ADS_1


"Kita bawa kerumah sakit saja, Den." Saran pak Bay.


"Tidak. Bawa kerumah saja. Nanti kalau di rumah sakit, urusannya akan lama. Mereka terlalu memilih milih pasien." Ujarnya merasa kesal, karena pernah mendapat perlakuan tidak baik saat ke rumah sakit.


"Baik, Den."


Mobil melaju kencang menuju rumah majikannya itu. Dan sepanjang perjalanan majikan kecilnya itu terus mengompres dahi Cinta dengan telaten.


Tidak terasa mereka tiba di rumah. Rumah yang sangat besar dan mewah. Lengkap dengan penjaganya.


Pak Bay membawa tubuh lemah Cinta kedalam rumah. Sedangkan Rafa membawa tas ransel milik Cinta.


"Kekamar itu saja pak." Perintahnya menunjuk lorong menuju kamar rahasia tempat dia menyimpan segala rahasianya.


Segera pak Bay membawa Cinta ke kamar bernuansa serba putih didalamnya. Dibaringkan tubuh Cinta di atas tempat tidur yang sangat besar dan empuk.


"Pak Bay, ambilkan obat penurun panas." Perintahnya.


Dan saat pak Bay mengambil obat, Rafa memberanikan diri melepaskan cadar Cinta. Tidak bermaksud apapun dia ingin membasahi wajah Cinta agar sedikit mengurangi panasnya.


Dengan hati hati Rafa mengelap wajah Cinta dengan handuk basah.

__ADS_1


"Kenapa kamu jalan kaki? Kemana orangtuamu?" Ucapnya lirih memperhatikan raut wajah lelah dan pucat milik Cinta.


"Andai kembaranku masih hidup, dia pasti cantik seperti kamu. Izinkan aku menjadi temanmu." Ucap Rafa memegang jemari tangan Cinta.


__ADS_2