Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 54


__ADS_3

"Mbak Febi yakin mau melakukan ini?" Tanya seorang wanita yang lebih muda darinya dengan seragam perawatnya.


"Aku yakin. Aku punya masa depan yang harus aku wujudkan, dan itu tidak bisa terwujud kalau bayi ini masih terus menumpang dirahimku." Ucapnya menegasakan.


"Baiklah, kalau begitu silahkan mbak Febi berbaring." Bersiap memakai perlengkapan.


Febi pun berbaring di tempat khusus untuk pasien melahirkan. Sementara Fita memunggu dengan perasaan was was dan khawatir diluar ruangan itu.


'Maafkan aku, aku tidak menginginkanmu. Lelaki itu merayuku dan menjanjikan padaku untuk menjadi nyonya di rumah Rafa. Tapi, aku terlalu jijik melihat Rafa yang terus terusan membela Cinta dan menjadikan Cinta nyonya sekaligus ratunya.' Batinnya.


Air matanya menetes saat itu juga. Meski bagaimanapun perasaan kasihan dan menyesal pun ada dalam hatinya. Namun, kebencian terhadap laki laki yang memiliki hak atas bayi itu jauh lebih membuatnya muak dan bertekat menghilangkan bayi dalam kandungannya.


Meninggalkan Febi yang tengah berjuang, di apartemennya Joy sedang memberikan penjelasan pada dua orang pria tegap suruhannya untuk segera mencari Jesika.


"Bawa dia hidup atau mati. Aku akan memberi bonus untuk kalian, kalau bisa membawa Jesika dengan utuh kehadapanku dalam waktu dua hari." Tegasnya memerintahkan pada pesuruhnya itu.


"Siap Tuan. Akan kami pastikan untuk segera membawa Jesika dalam keadaan utuh dan waktu yang cepat." Ucap mereka semangat.


Kedua suruhannya itu pergi meninggalkan rumahnya. Dan pada saat itu, Joy mendapat telepon dari Febi.


"Ada apa Febi?"


"Aku sudah bebas." Ucap Febi terengah, karena baru saja selesai mengeluarkan bayinya secara paksa.


"Pulihkan dirimu. Setelah itu, kita akan mulai menghancurkan Rafa dengan merebut Cinta darinya."

__ADS_1


"Ya, aku sudah memerintahkan seseorang untuk terus memberikan pil itu pada Cinta. Obat itu yang terbaik, aku jamin Cinta akan kehilangan seluruh ingatannya." Jelasnya terbata karena kondisi yang masih sangat lemas.


Setelah mendengar itu Joy segera mengakhiri pembicaraan itu. Dia tersenyum senang mendengar apa yang dikatakan Febi padanya.


'Cukup hanya mengingatku saja Cinta. Lupakan semuanya. Aku akan membuatkanmu istana. Kita akan hidup bahagia, jika kamu melupakan semua ingatan itu.' Batinnya.


"Aku sangat mencintaimu, Cinta. Hanya, aku terlalu ceroboh dan masih sangat kecil saat itu. Lupakanlah semua kenangan mengerikan itu, sayang. Kembalilah padaku." Ucapnya menatap foto Cinta yang didapatnya dari Febi.


Sementara itu, Cinta baru saja selesai sholat Isya. Dia mulai gelisah, karena Rafa belum juga pulang dan tidak ada kabar sama sekali.


"Kenapa belum pulang juga?" Menatap layar ponselnya.


Tok... tok...


Cinta tidak menjawab, dia langsung membukakan pintu untuk Mila. Dengan wajah tegasnya dia menatap Mila.


"Kenapa lama?" Tanya Cinta.


"Maaf nyonya, tadi saya sedang mengerjakan sesuatu di dapur." Ucapnya.


"Ya sudah. Kembalilah kadapur." Mengambil alih tehnya.


Begitu Mila pergi, Cinta langsung membawa segelas teh itu kedalam kamar mandi. Ditumpahkannya seluruh isi teh itu.


"Aku tidak sebodoh itu Febi. Kalian mencoba menghilangkan ingatanku. Aku akan terus berjuang untuk mengembalikan ingatanku." Menegaskan sambil menggenggam erat gelas itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Cinta mendengar suara mobil Rafa. Dia pun segera melangkah keluar dari kamarnya. Sangking bahagianya mendengar kepulangan Rafa, Cinta berlari menuruni anak tangga.


Imah dan maid lainnya hanya menatap terpesona dengan kecantikan Cinta. Senyuman bahagian dibibir Cinta semakin membuat mereka terpesona.


Cinta terus berlari, sedangkan Rafa baru saja keluar dari mobil.


"Selamat malam, Tuan." Sapa sekuritinya.


Rafa hanya menundukkan kepalanya sedikit, dan meneruskan langkahnya menuju rumah.


Pada saat itu, Cinta membuka pintu dan menatap Rafa dengan senyuman bahagia. Dia tidak memakai cadarnya. Rafa terdiam sejenak melihat Cinta menyambut kepulangannya.


Entah apa yang dirasakan Rafa hingga dia merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum pada Cinta. Dengan senang hati Cinta berlari mengejar Rafa, dia menghambur dalam pelukan Rafa.


"Ada apa? Apa kamu menungguku?" Mengangkat tubuh Cinta dan membawanya berputar sebentar.


"Apa terlalu banyak pekerjaan?" Tanya Cinta saat Rafa menurunkan tubuhnya.


"Begitulah." Jawabnya singkat.


Cinta kembali memeluk tubuh Rafa dengan sangat erat. Rafa dapat merasakan Cinta sedang merindukannya dan ingin bermanja padanya.


"Kenapa tidak memakai cadarmu. Ini diluar rumah loh?" Mengingatkan.


Saat tersadar, Cinta menyembunyikan wajahnya masuk kedalam jas Rafa. Melihat tingkah Cinta seperti itu membuat Rafa menggeleng gemas. Segera dirangkulnya tubuh Cinta untuk segera masuk ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2