Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
AMPP S2 ( Bab 6)


__ADS_3

Tiga hari Cinta tidak sadarkan diri. Hari ini matanya mulai terbuka. Kepalanya terasa sangat pusing. Tapi, Cinta berusaha untuk bangun, karena dia merasa sangat lapar.


"Kenapa aku bisa ada di kamar?" Kebingungan.


Cinta mencoba berdiri meski tubuhnya terasa sangat lemah. Perlahan dia melangkah menuju pintu, dan saat hampir membuka pintu kamar, Cinta pun terpikirkan sesuatu.


"Mas Rafa belum pulang. Jelas dia akan pulang dalam satu minggu lagi." Mengingat sesuatu.


Dalam ingatannya, rasanya Cinta dapat melihat bayangan orang lain di rumah ini saat dia masih tergeletak dilantai. Segera saja Cinta mengunci pintu kamarnya, lalu menggeser sofa untuk membantu menghalangi pintu agar tidak bisa di dobrak dengan mudah.


"Ya Allah selamatkan aku." Cinta pun langsung menuju kamar mandi, dia yang sangat kehausan itu pun meminum air yang berasal dari shower. Lalu dia mandi dan berganti pakaian. Setelah merasa lebih segar, Cinta pun sempat melaksanakan sholat dan berdoa agar semua akan baik baik saja.


Masih belum ada pergerakan apa apa. Pria itu masih asik menikmati kemewahan rumah dan juga makanan yang banyak. Dia masih belum mengetahui kalau ternyata Cinta sudah sadarkan diri.


Dan di kamarnya Cinta mencari handphone miliknya namun tidak ada disana. Dia tidak bisa memberitahu siapapun tentang keadaannya.

__ADS_1


Selama tiga hari ini, pria asing itu hanya bersenang senang dirumah itu tanpa berusaha membangunkan Cinta atau memastikan mengapa Cinta bisa pingsang begitu saja. Dia tidak peduli, karena yang dia inginkan saat ini adalah istirahat sambil menikmati makanan dan pasilitas rumah mewah itu. Sebab hampir dua tahun terakhir dia selalu diperlakukan seperti hewan dan harus memakan makanan basi.


Cinta di kamarnya, kembali mengalami mual dan muntah. Dia bahkan tidak bisa meninggalkan kamar mandi.


"Beruntunglah kamar ini kedap suara. Kalau tidak, orang itu pasti sudah datang ke sini." Ucapnya saat merasa mualnya sedikit berkurang.


"Berapa lama aku pingsan?" Mengecek jam tangan Rafa yang ada di dalam nakas. Jam itu memiliki tanggal di sana. Jadi, Cinta bisa melihat tanggal berapa hari ini.


"Ya Allah, ternyata aku sudah pingsan selama tiga hari." Mengurut keningnya yang terasa masih pusing.


"Semoga semuanya baik baik saja." Mencoba mengingat ingat lagi.


Sekilas dalam ingatannya, Cinta dapat mendengar lelaki itu bicara dan tertawa. Dan Cinta juga terkadang sedikit sadar saat dirinya hanya sendiri di kamarnya.


"Ya. Aku yakin orang itu laki laki. Aku yakin dia tidak menyentuhku sedikitpun. Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan." Rutunya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa aku mual dan muntah. Ah mungkin karena aku tidak makan hampir empat hari ini." Menyangkal pikiran pikiran buruknya.


"Tidak mungkinkan, aku hamil dalam emapat hari. Tidak, tidak, tidak, Cinta. Yakinlah pria itu tidak menyentuhmu. Kalaupun kamu hamil, pelakunya tetap Rafa suami kamu." Celotehnya mencoba menenangkan dirinya.


Cinta teringat, dia menyimpan tespek didalam laci nakasnya. Segera diambilnya dan langsung memeriksakan dirinya.


"Positif!" Cinta menangis haru melihat hasil itu. Tapi, kemudian dia kembali ragu dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


"Tenang Cinta, kamu harus tenang. Jangan berpikir yang aneh aneh. Yakinlah ini anak Rafa." Menarik napas dan menghembuskan perlahan.


"Hikkss..." Cinta menangis sejadi jadinya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Haruskah bahagia, atau bersedih.


Dia ingin tersenyum bahagia. Tapi, dia takut terjadi sesuatu saat dirinya tidak sadarkan diri. Terlebih dia sudah tiga hari tidak sadarkan diri.


"Mas Rafa akan segera pulang. Aku akan menceritakan semuanya. Aku yakin mas Rafa akan percaya padaku. Kalau mas Rafa tidak percaya dan mengusirku, tidak apa. Aku akan tetap merawat bayiku, dan setelah lahir akan aku tes DNA. Jika ternyata benar anak mas Rafa, dia pasti akan menerima aku lagi. Ya, aku harus yakin dan kuat mulai sekarang." Kembali menangis.

__ADS_1


__ADS_2