Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 55


__ADS_3

Begitu Rafa berangkat ke kantor, Cinta segera menuju kamar bawah tangga. Cinta mencari tombol untuk mematikan cctv menuju lorong kamar rahasia itu.


"Tombol yang mana, ya?" Mencoba beberapa tombol.


"Bukan..." Ucapnya agak sedih, tapi tidak putus asa.


Akhirnya setelah beberapa menit mencari, Cinta berhasil menemukan tombol untuk mematikan cctv menuju kamar rahasia.


"Mila..." Panggilnya begitu keluar dari kamar.


Dengan segera Mila menghampirinya.


"Ada apa Nyonya?"


"Pergilah berbelanja. Bawa kedua temanmu. Ini daftar barang yang harus kalian beli." Memberikan uang dan juga daftar belanjaannya.


"Baik nyonya." Mengambil daftar belanjaan dan uang dari tangan Cinta.


Lalu Mila segera berangkat berbelanja bersama dua maid lainnya yang selalu menjadi temannya saat menggunjing Cinta.


Imah sedang membereskan dapur, dan perkarangan rumah, dibantu oleh tiga maid lainnya.


Saat semua orang sibuk, Cinta memanfaatkan untuk menuju lorong. Cinta berhasil menuju kamar rahasia tanpa ketahuan siapapun.


Kamar itu bernuansa merah dibagian luarnya. Cinta berdiri diam didepan pintu kamar itu. Dia tidak memiliki kunci untuk masuk ke kamar itu. Karena ternyata harus dengan password untuk bisa membuka pintunya.


"Aku coba saja. Semoga berhasil." Menekan angka sembarangan.


Hanya bunyi bib bib yang keluar. Pintu masih terkunci. Cinta terus mencoba tanpa putus asa. Namun, ada peringatan jika sampai lima kali memasukkan password yang salah, maka harus menunggu hingga dua jam baru bisa kembali mencoba.


"Ini percobaan terakhir. Semoga bisa ya Allah. Bismillah." Menekan angka tanggal, tahun dan bulan kelahiranya.


Pintu itu terbuka. Mata Cinta menyipit kaget bercampur haru dan juga perasaan lainnya yang susah dijelaskan.

__ADS_1


"Ah mungkin kebetulan saja sama." Bantahnya, untuk menenangkan hatinya agar tidak terlalu berbangga dulu.


Cinta melangkah masuk perlahan kedalam kamar itu yang ternyata bernuansa putih. Kamar yang sangat indah dan rapi, serta wangi. Kamar ini terawat dengan baik.


"Kenapa kamar ini tidak memiliki cctv? Apa ada seseorang yang tinggal disini?" Ucap Cinta terus melangkah perlahan dengan ragu ragu.


"Bagaimana kalau ternyata ada orang yang tinggal disini?" Menghentikan langkahnya.


Cinta mulai merasa takut dan banyak perasaan yang susah untuk dijelaskan.


"Halo, apakah ada orang disini?" Mulai melangkah menuju kamar mandi.


Dengan ragu Cinta membuka pintu kamar mandi itu. Tidak ada siapapun disana. Kamar mandi itu sangat bersih dan rapi. Tapi, memang lantainya kering, sepertinya tidak ada yang mandi disana.


Cinta kembali melangkah menjalani setiap sudut kamar. Hingga akhirnya langkahnya terhenti saat melihat foto anak kecil yang tidak asing dalam ingatannya.


Diraihnya foto itu, ditatapnya lekat wajah dalam foto itu. Sekilas terlintas dalam ingatan Cinta wajah anak kecil dalam foto itu. Cinta melihat anak itu mendorong tubuhnya ke dinding. Dalam ingatannya, Cinta meraih topeng yang dipakainya. Meski tidak begitu jelas, Cinta yakin anak yang ada dalam foto itu adala anak yang sama yang ada dalam ingatannya.


Tangan Cinta gemetar. Foto itu jatuh kelantai, Cinta pun ikut terduduk lemah dilantai.


"Kamu tidak mungkin melakukan itu kan, Joy?" Menangis terisak.


Cinta tidak mau mempercayai kalau Joy yang mencekik adeknya sendiri hari itu, seperti yang terlintas dalam ingatannya.


"Tidak mungkin. Aku pasti salah mengingat." Teriaknya.


Cinta segera berdiri. Dia menghapus air mata dipipinya. Lalu saat Cinta hendak melangkah meninggalkan kamar itu, Rafa masuk dengan tiba tiba.


"Mas..."


Rafa melangkah mendekati Cinta. Ditatapnya tajam wajah Cinta. Tatapan itu terasa menakutkan bagi Cinta, hingga dia melangkah mundur secara perlahan. Rafa ikut melangkah maju tanpa melepas tatapannya. Langah Cinta terhenti, karena saat ini tubuhnya sudah terhalang tembok kamar.


"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamar ini?" Tanya Rafa dengan suara serak menahan luapan kemarahannya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas..." Ucap Cinta terbata bata.


"Tatap mataku Cinta." Bentaknya.


Sebentar Cinta menarik napas mencoba menenangkan dirinya. Diberanikannya untuk menatap mata Rafa. Dan Cinta berhasil menatap mata Rafa dengan tatapan marah dan juga penuh pertanyaan.


Rafa tidak tahan melihat tatapan itu. Ditariknya kuat tubuh Cinta masuk dalam pelukannya. Hal itu membuat Cinta kaget.


"Sekian banyak barang dikamar ini, hanya foto usang itu yang membuatmu tertarik?" Tanya Rafa pelan.


Kening Cinta berkerut. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Rafa barusan.


"Apa yang membuat kamu penasaran?" melepas pelukannya, dia menatap wajah Cinta yang terlihat baik baik saja. Dia tidak lagi ketakutan seperti tadi.


"Hanya ingin tahu, mengapa kamar ini dirahasiakan." Jawabnya datar.


"Lalu, apa kamu sudah mendapat jawabannya?" Kembali memeluk tubuh Cinta.


"Belum."


Mendengar jawaban itu, Rafa langsung menggendong tubuh Cinta. Dibaringkannya tubuh itu diatas tempat tidur putih yang empuk itu. Cinta hanya diam tanpa melepas pandangannya dari wajah Rafa.


Tangan Rafa mulai melepas cadar Cinta. Dia pun tidak melepas pandangannya pada Cinta.


"Apa kamu bisa mengingat sesuatu?" Tanya Rafa.


Cinta menggeleng pelan. Dia tidak mengingat apapun seperti yang ditanyakan Rafa padanya.


"Mulai hari ini, kamu boleh menggunakan kamar ini. Cari tahulah senua yang membuat kamu penasaran. Namun, saat ada yang membuat kamu takut atau sedih, datanglah padaku. Aku akan menenangkanmu. Aku tidak suka melihat kamu menangis ketakutan sendirian seperti tadi." Ucapnya sambil membelai wajah Cinta.


Sebentar Cinta memalingkan tatapannya dari wajah Rafa. Tapi, tangannya menggenggam erat kedua lengan Rafa yang membelai wajahnya. Lalu, Cinta memejamkan matanya erat erat. Dia seakan mencoba mengingat sesuatu.


Melihat wajah gelisah Cinta, Rafa mendekatkan wajahnya pada wajah Cinta. Dan Rafa memberikan ciuman pada bibir Cinta. Saat itu sontak saja Cinta membuka matanya. Sementara Rafa memang tidak memejamkan matanya, hingga mata keduanya beradu saling pandang tanpa jarak.

__ADS_1


Rafa melanjutkan ciumannya di bibir Cinta, dan itu membuat Cinta kembali memejamkan matanya lagi. Kedua sudut bibir Rafa terangkat, dia tersenyum senang karena Cinta menerima ciuman darinya.


'Aku harap kamu akan tetap kuat saat menerima semua ingatan mengerikan dan menyedihkan dari masa lalumu, sayang.' Batin Rafa mendoakan.


__ADS_2