Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 68


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu sejak Cinta menemui Joy. Semua masih tenang tenang saja. Jack masih terus memantau keselamatan Cinta. Namun, Imah dengan diam diam, menyibukkan diri, tanpa sepengetahuan siapapun.


Tidak ada yang curiga dengan apa yang dilakukan Imah. Karena dia merupakan Maid kepercayaan Rafa. Namun, siapa tahu selama ini kebaikan Imah, hanya sekedar tipuan semata.


"Nyonya." Mengetuk pintu kamar Cinta.


"Masuk bik. Aku baru saja selesai sholat." Serunya dari dalam.


Imah masuk membawakan segelas susu panas, kesukaan Cinta. Dia tersenyum menatap wajah Cinta yang saat ini masih belum memakai cadarnya.


"Nyonya, ini susu panasnya. Minumlah selagi masih panas." Saran Imah.


Dengan senang hati, Cinta langsung mereguk habis segelas susu itu.


"Terimaka..." Memegang kepalanya yang tiba tiba terasa pusing.


Cinta mengedip ngedipkan matanya, tangannya memegang kepalanya. Sayup dia melihat seulas senyum dibibir Imah. Cinta mulai menyadari, ternyata Imah menjebaknya.


"Bik... ap... aapa yang... bibik lakukan padaku?" Tanya Cinta terbata bata, lalu kehilangan kesadarannya.


Saat Cinta sudah kehilangan kesadaran, Imah memanggil Mila. Lalu meminta Mila segera memalai pakaian Cinta. Ya, tubuh Mila memang sama tinggi dengan Cinta.


"Bantu aku mengangkat tubuh Cinta kedalam koper." Ucap Imah.

__ADS_1


Mila membantunya dengan senang hati. Mereka memasukkan tubuh Cinta kedalam koper ukuran besar.


"Yakin Jack tidak akan curiga?" Tanya Mila agak khawatir.


"Tenang saja. Tidak akan ada yang mencurigai saya. Tugasmu, tetap diam di kamar ini sampai aku kembali. Aku akan mengantarkan tubuh Cinta pada Tuan Joy terlebih dahulu." Jelasnya.


"Baiklah." Jawab Mila singkat.


"Ternyata bik Imah lebih menakutkan dari nyonya Febi." Sambung Mila.


"Seorang ibu akan melakukan apapun demi menyelamatkan anaknya." Tegas Imah.


"Ya, aku tahu. Tapi, Jesika sudah terlanjur babak belur, baru kamu mau menyelamatkannya." Sindir Mila.


"Bik Imah, kenapa tidak diangkat saja kopernya?" Tanya Jack yang melihat itu.


"Ah, ini hanya kertas kertas berkas. Saya baru saja membereskan kamar Nyonya. Sekarang saya mau membuang kertas kertas sampah ini." Kilahnya berbohong dengan wajah malaikatnya itu.


"O begitu, baiklah." Ucap Jack yang melanjutkan labgkahnya menuju dapur.


Imah terbebas dari kecurigaan Jack. Dia berhasil membawa tubuh Cinta keluar dari rumah itu.


Sementara, Rafa yang sedang menyantap makan siangnya, tiba tiba saja merasa mual. Lalu dia memuntahkan hampir seluruh makanan yang baru ditelannya.

__ADS_1


Rey yang melihat itu, tersenyum sambil memberi pukulan pelan di perut Rafa.


"Ternyata sudah mau menjadi ayah, nih. Jago juga mainnya tanpa latihan dulu dengan wanita wanitaku." Goda Reyhan.


"Apa maksudmu? Cinta tidak mungkin hamil sekarang. Aku meminum ramuan penghambat darimu." Ucapnya dengan suara serak dan terbata bata.


Reyhan tertawa terbahak bahak. Lalu dia kembali duduk di kursinya.


"Rafa... Rafa. Kamu ternyata polos juga. Obat yang kamu minum hanya obat penambah kekuatan saja. Bukan obat penghalang." Jelasnya.


"Apa?" Teriak Rafa kaget dan agak marah.


Tapi tubuhnya terasa sangat lemah dan kepalanya terasa pusing. Sehingga dia tidak bisa memberi sedikit pukulan saja untuk Reyhan.


"Sorry, Bro. Aku tahu kamu nggak akan mau menyentuh wanita manapun, kecuali istri kamu. Makanya, saat kamu meminta obat penghambat kehamilan, aku bersemangat memberikan obat kuat itu padamu." Melanjutkan tawanya.


"Gillaaaa kamu, Rey. Jadi itu sebabnya Cinta menjerit seakan dia belum pernah melakukan sebelumnya saat pertama aku sentuh?" Tanya Rafa.


Reyhan tersenyum sambil mengangguk.


"Begitulah. Karena semua wanitaku akan menjerit saat bersamaku." Sambungnya.


Rafa merebahkan tubuhnya lemah bersandar pada kursi. Sedikit senyum terlihat disudut bibirnya.

__ADS_1


"Aku akan memiliki bayi... bayi kecil dalam perut Cinta?" Membayangkan semua kebahagiaan itu.


__ADS_2