Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 6


__ADS_3

Hari berganti hari, perlakuan Rafa masih tetap sama pada Cinta. Dan Cinta pun masih sering menangisi nasibnya yang tidak bisa menjadi istri seutuhnya dimata lelaki yang sudah menikahinya itu.


"Nyonya, ada telpon dari Tuan."


Seorang Maid masuk membawakan telepon kekamar Cinta.


Segera Cinta mengambil alih ganggang telepon itu dan meletakkan ditelinganya.


📱"Iya Tuan." Jawabnya gugup.


📱"Pakai pakian terbaik dan segeralah datang ke kantor. Aku kasih waktu 20 menit."


Sebentar mata Cinta menatap beberapa Maid yang datang memasuki kamarnya.


📱"Bbabaik Tuan."


📱"Ingat 20 menit. Kalau telat, malam ini aku pastikan kamu tidak akan lolos dariku." Tegasnya.


📱"Baik, Tuan."


Panggilan berakhir. Cinta langsung menuju kamar mandi dengan mengambil salah satu gaun dari para Maid yang berbaris di depannya memegang berbagai macam gaun.


"Apa kita akan melihat wajah Nyonya tanpa cadar? Mumpung Tuan tidak pulang malam ini." Tanya seorang Maid dengan begitu berani tanpa peduli dengan cctv yang ada.


"Hush, jangan ngomong seperti itu. Nyonya seorag wanita berharga yang selalu dilindungi dan dihargai oleh Tuan." Tegurnya.


"Mmh, padahal cantikan aku dari Nyonya kampungan itu." Celotehnya.


"Kamu tu punya mulut ya di jaga. Kedengaran Tuan Rafa baru tau rasa."


"Hhmm," Memalingkan wajah tidak suka.


Sementara dari balik pintu kamar mandi, Cinta mendengarkan semuanya. Dan dia hanya memilih tersenyum saja, lalu melanjutkan berganti pakaian.


Sekitar lima menit Cinta keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian rapi lengkap dengan cadarnya. Semua wajah Maid menyambutnya dengan senyum, kecuali si penggunjing yang merasa iri pada Cinta.


Segera Cinta di antar hingga naik ke mobil. Dan kini mobil yang di bawa Pak Bay melaju meniti jalanan menuju perusahaan di mana Rafa sedang menunggu.


Dengan wajah dingin dan tatapan tajam Rafa menyambut kedatangan Cinta. Dia marah, karena Cinta telat hampir satu menit.


"Maafkan saya Tuan. Jalanan macet. Semua ini bukan salah Nyonya." Jelas pak Bay.


Cinta hanya tertunduk diam dan sedikit gemetar. Dia ketakutan, bahkan air matanya serasa akan tumpah saat ini juga.


"Pak Bay boleh pulang sekarang."


"Baik Tuan. Tapi, kapan saya akan kembali menjemput Nyonya?"


"Tidak usah. Nyonya akan pulang bersama saya."


Mendengar itu, segera saja pak Bay melajukan mobilnya menuju rumah. Sedangkan Cinta masih berdiri mematung.


"Kamu tidak bisa jalan?" Bentak Rafa kesal melihat Cinta yang masih terdiam.

__ADS_1


"Bisa, Tuan." Ucapnya ragu.


Perlahan Cinta melangkah, ya Cinta kesulitan melangkah karena hak tinggi yang dipakainya.


Rafa yang tadinya mulai melangkah, tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Jangan panggil Tuan." Ucapnya lebih lembut dari sebelumnya.


"Hah?" Tanya Cinta bingung.


"Lalu saya harus panggil apa Tuan?" Masih menundukkan pandangan.


"Panggil, Sayang." Tegas Rafa.


Mendengar itu mata Cinta terbelalak kaget sekaligus bingung. Sedangkan Rafa sudah melanjutkan langkahnya.


Ting…


Pintu lift terbuka. Cinta dan Rafa kini sudah berada di dalam lift. Cinta berdiri kaku di samping Rafa. Sedangkan Rafa berdiri tegap tak perduli dengan Cinta yang berdiri di sampingnya.


"Maaf Tuan…"


"Sayang, panggil sayang." Ucap Rafa dingin.


Rasanya lebih serem saat Rafa ngomong dengan nada dingin dari pada bentakan.


"Mmm… maaf sayang, kenapa saya harus datang…"


"Karena kamu istriku. Aku ingin mengenalkan istriku pada klien dan juga rekan kerja."


Rafa menatap tajam kearah Cinta yang ternyata juga menatapnya. Tatapan keduanya beradu. Dada Cinta terasa sesak karena napasnya yang tak beraturan.


"Hanya ingin memperkenalkan saja." Jawab Rafa singkat.


Cinta mengangguk saja. Dia merasa tidak ada gunanya bertanya. Toh tidak akan dijawab juga.


"Sini tangan kamu."


Cinta mengerutkan keningnya. Dengan perasaan bingung, Cinta mengulurkan tangannya kearah Rafa. Dan segera saja Rafa menggenggam tangan Cinta.


"Tetap seperti ini sampai acara selesai." Tegas Rafa.


"Baik Tuan."


Mata tajam Rafa menatap Cinta.


"Bbaik ssaayang." Ulang Cinta.


"Good girl." Mengelus puncak kepala Cinta yang berlapis jilbabnya.


Ting…


Pintu lift kembali terbuka. Kini mereka tiba di aula besar kantor. Dimana semua rekan bisnis, klien dan tamu lainnya berkumpul.

__ADS_1


Saat Rafa dengan gagahnya menggenggam tangan Cinta memasuki aula, semua mata menatap. Mereka tersenyum, ada yang takjub dan ada juga yang mencibir.


Cinta hanya diam, tangannya yang digenggam Rafa terasa lali dan berkeringat. Tangan itu juga sangat gemetar.


"Tenanglah, cukup tersenyum dan jangan melepas genggaman tangan ini." Bisik Rafa di telinga Cinta.


Cinta menghela napas dalam, lalu dia mencoba mengembangkan senyum dibibirnya. Ya, meski tidak akan ada yang tahu, apakah Cinta tersenyum atau marah. Karena wajahnya ditutupi cadar. Yang terlihat hanya mata saja.


Beberapa orang berbisik karena hal itu. Mereka belum pernah tau kalau ternyata istrinya Rafa seorang wanita bercadar. Yang ada dalam bayangan mereka saat mendengar kabar Rafa menikah, istrinya seorang wanita sexi yang stylist dan keren.


"Ok semuanya. Perkenalkan wanita cantik di samping saya ini adalah istri saya. Wanita luar biasa sabarnya dalam menghadapi kelakuan buruk saya." Tuturnya sambil tersenyum bangga.


Melihat senyum itu Cinta sempat menaruh harap. Karena senyuman itu terlihat sangat tulus. Dan tanpa disadarinya sepasang mata menatap tajam kearahnya.


"Hai Cinta, saya sekretaris langsung Tuan Rafa." Ucap seorang wanita yang sejak tadi menatap tajam padanya.


Wanita itu sangat cantik, bak model dan juga terlihat cerdas. Wajahnya menunjukkan dirinya wanita karir yang berwibawa. Segera Cinta menyambut uluran tangan wanita itu.


"Kamu cantik sekali." Pujinya.


"Terimakasih, Mbak…"


"Ah iya, saya Jesika." Sambungnya.


"Mbak Jesika." Sambung Cinta.


Keduanya saling tersenyum. Kehadiran Jesika mengurangi sedikit rasa gugup di hati Cinta. Sedangkan Rafa hanya ikut tersenyum tipis dan terus menggenggam tangan kiri Cinta dengan erat.


Dan para klien hanya mengangguk dan saling berbisik membicarakan Cinta.


"Tuan, boleh saya membawa Nyonya Cinta berkeliling perusahaan? Ya sekedar melihat-lihat." Saran Jesika.


Sebentar Rafa menatap tangan cinta yang masih digenggamnya. Lalu perlahan dilepaskannya.


"Silahkan." Melepas genggaman seutuhnya.


Ada perasaa takut dan rasa tidak enak di hati Cinta. Tapi meski begitu, dia tidak bisa menolak ajakan Jesika. Terlebih saat Rafa sendirilah yang mengizinkan Jesika untuk membawanya pergi.


"Nyonya tenang saja. Saya hanya ingin berbincang lebih dekat dengan nyonya dan memberitahu nyonya beberapa hal yang mungkin tidak nyonya ketahui." Tuturnya.


Cinta hanya diam dan terus melangkah di samping Jesika, seirama dengan langkah kaki Jesika.


"Nyonya, saya ingin memberitahu sesuatu yang sangat penting tentang hubungan saya dengan tuan Rafa." Tutur Jesika.


Sambil mengajak Cinta untuk duduk di salah satu pelataran kantor yang mana langsung menatap gedung-gedung di luar sana yang tidak kalah tinggi dengan gedung perusahaan milik Rafa.


Hati Cinta mulai terasa aneh. Tapi dia mencoba untuk tetap tenang saja.


"Sebenarnya… saya bukan hanya sekretaris tuan Rafa." Menatap tajam mata Cinta.


"Saya juga… sebagai teman tid*r tuan Rafa." Sambungnya tanpa malu.


Mata Cinta terbelalak kaget. Hatinya memerintah untuk menampar Jesika yang sembarangan berucap. Tapi, sesaat Cinta tersadar, bisa saja apa yang dikatakan Jesika benar adanya.

__ADS_1


Sebab lelaki sempurna seperti Rafa tidak mungkin hanya hidup sendiri tanpa wanita disisinya.


__ADS_2