Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 31


__ADS_3

Sudah dua hari Febi minggat kerumah orangtuanya. Dikiranya Rafa akan menjemputnya, tapi Rafa malah tidak peduli sama sekali.


"Cinta sudah mulai berani melawanku Ma. Rafa juga tidak memperdulikan aku." Ungkapnya meluapkan emosi.


"Tenang sayang, Mama punya senjata ampuh untuk membuat Cinta dan Rafa kembali tunduk." Mendekati Febi yang sedang kesal.


"Apa memangnya, Ma?" Penasaran.


Sebentar Fita mengatur nada bicaranya. Lalu dia mendekatkan mulutnya ke telinga Febi.


"Kamu ingat, Cinta pernah keluar tanpa cadarnya. Lalu, saat itu dia menjadi tersangka pembunuhan." Bisiknya.


Febi membelalakkan matanya. Dia sudah lupa kejadian dua belas tahun yang lalu.


"Terus maksud Mama gimana?"


"Kamu itu punya otak dibuat untuk mikir." Menjitak kepala Febi.


"Mama..." Teriaknya kesal.


"Kamu tahu, kenapa Rafa tiba tiba mau menerima kamu, padahal kamu mengandung anak pria lain?" Tanya Fita.


Febi menggeleng tidak mengerti.

__ADS_1


"Itu karena Mama memegang rahasia besar tentang Rafa. Jika Mama mengungkapkan rahasia itu, Cinta yang akan menanggung akibatnya." Tersenyum senang.


"Rahasia apa, Ma? Terus kenapa raahasia Rafa menyebabkan Cinta menanggung akibatnya?" Heran tidak mengerti apa yang dijelaskan Mamanya.


"Kematian anak Cina dirumah tua." Melangkah menuju dapur.


Febi terdiam mencoba mengingat kejadian yang dimaksud oleh Mamanya. Sekilas Febi dapat mengingat sebilah pisau berlumur darah dipegang erat oleh tangan bocah laki laki. Sedangkan bocah Cina yang dimaksud Mama tergeletak ditanah dengan keadaan penuh dengan darah.


Febi merasakan mual saat mengingat sekelumit kejadian itu. Dia berlari menuju wastafel dan muntah.


"Febi, kamu kenapa nak?" Mengeluskan punggung Febi.


Dia terus muntah dan muntah. Bayangan darah membuatnya semakin mual.


"Mama tidak tahu pasti sayang. Yang Mama tahu, Rafa dan Cinta berada disana saat itu. Tapi, sebelum polisi datang Rafa sudah pergi lebih dulu, hingga menjadikan Cinta tersangka." Jelasnya sambil memapah tubuh Febi untuk kembali ke ruang tengah.


"Mama sudah kenal Rafa sejak dua belas tahun lalu?"


"Tidak. Tapi saat Mama dan Papa kerumah orangtua Rafa tepat saat Rafa membawa Cinta pergi dari rumah ini. Pada saat itulah Mama melihat foto saat Rafa masih kecil. Saat itulah Mama ingat bocah yang bersama Cinta hari itu adalah Rafa." Ungkapnya.


"Itu juga alasan kenapa Rafa mau menerima kamu." Sambungnya.


"Lalu, bagaimana bisa Cinta bertemu Rafa, Ma?" Semakin penasaran.

__ADS_1


"Mama juga tidak tahu pasti sayang. Yang Mama tahu, saat itu ada yang menelpon Mama. Katanya disuruh ke rumah tua itu kalau mau menyelamatkan putri Mama. Ya, Mama panik, karena Mama kira kamu yang diculik. Mama datang kesana setelah menelpon polisi. Mama tiba lebih dulu di rumah itu dari pada para polisi." Menghela napas sebentar.


"Saat Mama tiba, Cinta tidak memakai cadarnya. Dia duduk lemas di tanah sambil menangis. Lalu, Mama melihat bocah lain memegang pisau berlumur darah, sementara bocah Cina itu sudah tewas didepan mereka." Menjelaskan kejadian hari itu.


Febi terdiam. Dari cerita Mamanya Febi tidak berada disana. Tapi mengapa dia juga melihat kejadian itu seperti yang diceritakan Mamanya.


"Aku dimana hari itu, Ma?" Bertanya dengan wajahnya yang mulai pucat.


"Hari itu kamu masih di sekolah. Saat Cinta dibawa ke kantor polisi, Mama langsung kesekolah menjemputmu. Apa kamu lupa?" Bertanya heran pada Febi.


"Tidak, Ma. Aku ingat, tadi aku hanya memastikan ingatan Mama." Ungkapnya sedikit gemetar.


Meninggalkan Febi dan Fita yang sedang bernostalgia mengingat masa lalu. Di kantor, Rafa merasa tidak tenang. Dia memikirkan cara untuk membuat Fita berhenti mengancamnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Mengotak atik layar ponselnya.


"Kenapa? Kenapa sampai saat ini aku masih belum menemukan bukti apapun? Apakah benar Cinta yang membunuh bocah Cina itu?" Mengingat lagi kejadian dua belas tahun lalu.


Saat itu Rafa melihat Cinta mencabut pisau dari perut bocah itu. Dan saat itu terdengar sirine polisi. Entah mengapa Rafa langsung belari, dia mengambil alih pisau itu dan mendorong Cinta agar menjauh. Tidak lupa Rafa juga mengelap tangan Cinta yang penuh darah itu dengan bajunya.


"Oh Cinta, kenapa kamu melupakan kejadian itu. Tapi, ada bagusnya juga kamu lupa." Ujarnya.


Rafa menjambak rambutnya. Lalu berteriak untuk melepas rasa yang mulai membuatnya susah bernapas.

__ADS_1


__ADS_2