Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 17


__ADS_3

Pagi ini, adalah hari baru yanng menyenangkan untuk Cinta. Usai aholat subuh, dia tidak melakukan kegiatan apapun. Yang dilakukannya hanya menatap wajah Rafa yang masih terlelap.


Betapa bahagianya Cinta mendapat kesempatan menatap wajah suaminya. Telunjuknya mulai menyentuh alis Rafa, lalu hidung, berakhir di bibir Rafa.


"Eungghh…" Keluh Rafa yang mulai terganggu.


Segera Cinta menghentikan ulahnya.


"Kenapa berhenti?" Tanya Rafa serak khas baru bangun tidur.


Dahi Cinta berkerut, pipinya bersemu dan dia memejamkan matanya begitu melihat mata Rafa mulai terbuka.


Rafa tersenyum melihat tekukan malu diwajah Cinta. Ditariknya tubuh Cinta hingga berbaring didadanya. Rafa mengelus punggung Cinta dan mengecup puncak kepala Cinta yang masih berlapis mukena.


"Kamu tidak membuat sarapan pagi ini?" Tanya Rafa.


Cinta menggeleng. Dia tidak punya keberanian untuk membuka mulutnya.


"Kamu mau tahu, sarapan yang paling aku sukai?"


Lagi-lagi Cinta mengangguk. Ya, hanya anggukan dan gelengan yang berani dilakukannya. Dia masih merasa takut salah saat berucap. Cinta tidak ingin membuat Rafa marah lagi. Makanya, dia memilih untuk menjawab dengan anggukan dan gelengan saja.


Sebentar Rafa menyamankan posisi Cinta yang berbaring diatasnya. Lalu, perlahan Rafa membuka mukena itu.


"Lepaskan mukenanya dulu. Jangan memakai jilbab." Pintanya.


Tanpa protes Cinta bangkit dari posisinya. Lalu melepaskan mukenanya.


"Kemarilah." Menepuk kasur, memberi isyarat agar Cinta mendekat padanya.


Cinta sangat patuh, dia berbaring disamping Rafa dengan berbantalkan bahu kokoh Rafa.


Rafa tersenyum, menatap wajah Cinta yang kini sangat dekat dengan wajahnya. Tangan satunya mulai menyentuh alis, hidung, mata dan bibir Cinta.


Cinta menikmati setiap sentuhan itu tanpa protes. Hal itu membuat Rafa sangat bahagia dan semakin bertindak lebih dan lebih jauh lagi.


Dengan gerakan yang sangat cepat, kini Rafa sudah berada diatas tubuh Cinta. Dengan masih menatap wajah lembut itu.


"Buka matamu, sayang." Ucap Rafa.


Meski ragu, Cinta membuka matanya. Kini, mata mereka saling bertemu.


"Panggil aku sayang. Aku ingin mendengarnya."


Jantung Cinta berdegup kencang. Dia merasa sangat berat untuk mengucapkan kata itu. Bukan tidak mau, hanya saja Cinta merasa masih takut untuk berharap terlalu jauh.


"Ssa…saayyang." Panggilnya ragu.


"Ulangi." Menatap tajam mata Cinta.


"Sayang, mau sarapan apa pagi ini." Ucap Cinta dengan bibir gemetar dan mata berkaca-kaca.


Rafa terkekeh, dia tidak menyangka Cinta akan berucap seperti itu padanya.


"Sarapan pagiku…" Mengecup bibir Cinta.


Sontak saja Cinta memejamkan matanya. Tangannya mulai meremas seprei.

__ADS_1


"Jangan takut, sayang." Berbisik ditelinga Cinta.


Lalu, Rafa mencium lehernya dan membuat tanda merah disana.


"Uengghh…" Keluh tertahan Cinta merasakan aneh dilehernya.


Mendengar suara itu, Rafa semakin tergoda. Kembali dia mencium bibir Cinta dan tangannya mulai menelusuri bagian tubuh lainnya.


'Ini sarapan pagi?' Tanya Cinta dalam hati.


Saat tangan Rafa tiba di tempat itu, Cinta membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tidak ingin membuat suara apapun. Bukan tidak ingin merasakan keindahan sentuhan suaminya. Hanya saja Cinta tidak ingin membuat kebisingan saat beribadah.


"Biasanya, sarapanku hanya sebatas…" Mengecup bibir Cinta lembut tapi menuntut dan lama.


"Tapi, sepertinya mulai hari ini…" Memasukkan lidahnya kedalam mulut Cinta.


"Ini sarapan terlezat." Melanjutkan kegiatannya.


Cinta mengikuti alur saja. Dia tidak protes, hanya mencoba mengimbangi dan mengikuti semua yang diperintahkan Rafa dengan senang hati.


Meninggalkan kegiatas pagi yang indah Cinta dan Rafa. Di kamarnya Febi sedang mengamuk. Dia marah karena Rafa bahkan tidak memperdulikannya sejak kemarin.


"Bukannya melihatku, dia malah menjauh dariku." Rutuknya kesal.


"Semuanya benar-benar menyebalkan. Cinta… jika aku tidak bisa menyentuhmu, akan aku buat orang lain menyentuhmu." Gertaknya penuh amarah.


"Nyonya. Sarapan dulu."


Seorang Maid memanggilnya dari luar kamar. Gadis bernama Mila itu, satu-satunya yang paling perhatian padanya.


"Masuk Mila."


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Febi.


"Belum Nyonya."


"Kalau begitu kamu saja yang makan sarapan ini. Aku tidak lapar sama sekali."


"Tapi Nyonya…"


"Cepat habiskan sarapannya. Setelah itu, aku punya tugas khusus untukmu."


"Tugas apa, Nyonya?"


"Habiskan dulu sarapan itu. Setelah itu baru aku beritahu apa tugasmu." Tegasnya.


"Baik Nyonya." Mulai menyantap sarapannya.


Febi mondar-mandir memikirkan tugas apa yang harus dilakukan Mila.


"Kamu punya dendam pada Cinta?" Tanya Febi tiba-tiba.


Hal itu membuat Mila tersedak dan menyemburkan makanan dalam mulutnya. Mila ketakutan bukan main. Dia menunduk dan langsung berlutut dilantai.


"Maafkan saya Nyonya." Ucapnya gugup.


Bukannya marah, Febi malah tersenyum senang. Dari cara Mila tersedak saja, Febi sudah dapat menebak kebencian Mila terhadap Cinta. Situasi seperti ini akan dijadikan kesempatan untuk menyakiti Cinta.

__ADS_1


"Aku butuh bantuanmu untuk membuat Cinta merasa menyesal tinggal di rumah ini." Ucap Febi.


Mila terbelalak kaget mendengar ucapan majikannya.


"Kita buat Cinta menderita di rumah ini, sehingga dia tidak tahan dan pergi dari rumah ini dengan suka rela." Sambungnya menjelaskan.


"Tapi, Nyonya. Bagaimana kalau Tuan Rafa tahu? Setiap sudut rumah ini ada cctvnya."


"Bermain cantik, damai dan tanpa kegaduhan."


"Caranya?"


"Perlakukan Cinta dengan baik. Buat dia percaya sama kamu seperti dia percaya sama Imah. Setelah akrab, kamu bisa mengajaknya bermain keluar rumah. Dan setelah diluar rumah…." Mulai membayangkan untuk menyiksa Cinta.


"Baik Nyonya. Saya akan berusaha melakukan tugas itu dengan aman tanpa ketahuan Tuan Rafa." Tekadnya.


Saat Febi merencanakan cara untuk menyingkirkan Cinta. Eh Cinta malah sedang dimanja oleh Rafa. Cinta duduk dalam pangkuan Rafa dengan tangan Rafa yang melingkar erat di pinggangnya.


"Kamu lapar?" Tanya Rafa yang tidak bosan mengecup puncak kepala Cinta yang sangat harum.


"Mmh, aku lapar." Rengek Cinta Manja.


"Mau sarapan?"


"Sarapan apa?" Tanya Cinta menoleh menghadap Rafa.


Langsung saja Rafa mengecup bibirnya.


"Sarapan ini." Jawab Rafa.


Tangannya mulai nakal masuk kedalam baju Cinta.


"Geli, sayang. Jangan…" Protes Cinta tanpa bergerak.


Rafa semakin menyentuh perut Cinta dengan jemarinya. Dan bibirnya menelusuri leher Cinta yang hampir penuh dengan tanda merah buatannya.


"Kamu tahu, aku cemburu." Ucapnya menghentikan perbuatannya.


"Cemburu? Sama siapa?" Tanya Cinta penasaran.


"Kamu…" Mencubit hidung Cinta.


"Aku?"


"Iya. Aku cemburu, karena kamu tidak mau menganggapku suami. Sedangkan pria itu kamu berikan kasih sayang." Jelasnya.


Cinta membalik tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Rafa.


"Siapa yang mengatakan itu?" Menyentuh wajah Rafa.


"Ada seorang teman."


Senyum terlihat diwajah Cinta. Lalu, Cinta menyatukan hidungnya dengan hidung Rafa.


"Jangan bertanya tentang masa laluku pada orang lain. Kamu akan salah paham. Karena, mereka tidak tahu kejadiannya. Tanyakan langsung tentang masa laluku padaku. Aku akan menjawab dengan jujur, tanpa mengurangi dan melebihkan ceritanya." Ucap Cinta.


Air matanya menetes. Rafa langsung menghapus air mata itu dengan tangan besarnya.

__ADS_1


"Ternyata wajah istriku sangat mungil. Hampir sama besarnya dengan telapak tanganku." Membekap kedua pipi Cinta hingga membuat bibirnya monyong.


Rafa tertawa bahagia, lalu mencium berkali-kali bibir yang monyong itu.


__ADS_2