
Dua hari ini, hidup Cinta terasa lebih tenang. Rafa mulai memperlakukannya dengan baik. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Rafa mengizinkannya untuk mencium tangannya.
Setiap malamnya, Rafa juga memeluknya erat saat tidur. Rafa memperlakukan Cinta layaknya istri yang sangat dicintainya. Cinta benar-benar merasa bersyukur akan hal itu.
Malam ini Cinta berdandan sangat rapi dan cantik untuk menyambut kepulangan Rafa.
Brroomm… bbroomm…
Suara mobil Rafa terdengar oleh Cinta. Segera saja Cinta berlari menuruni anak tangga menuju pintu. Beberapa Maid ikut bahagia melihat kebahagiaan Cinta menyambut kepulangan suaminya.
Cinta membuka pintu, dia berdiri tersenyum menyambut kedatangan suaminya.
Tapi, senyum itu hilang dalam sekejap saat mata Cinta menangkap sosok lain yang ikut turun dari mobil Rafa.
"Cinta…" Panggil Febi sambil berlari menghampiri Cinta.
Dia segera memeluk Cinta. Dia menangis dalam pelukan Cinta. Sedangkan Cinta menatap pada Rafa dengan penuh tanya.
"Cinta, ajak Febi masuk." Perintahnya.
Rafa berlalu begitu saja melewati Cinta. Hal itu membuat hati Cinta terenyuh sakit.
"Febi, ayok kita masuk." Mengandeng tangan Febi.
Setibanya di ruang tamu, Cinta mengajak Febi duduk. Rafa pun juga sudah duduk di sofa yang langsung berhadapan dengan Cinta dan Febi.
Semua Maid yang sudah berkumpul masih membungkuk. Rafa berdehem yang artinya meminta Maidnya untuk kembali berdiri tegak.
"Kalian semua, perkenalkan, ini Febi. Nyonya Febi. Perlakukan dia dengan baik. Karena saat ini dia sedang mengandung." Jelas Rafa.
Mendengar hal itu, Cinta seperti disambar petir. Namun, dia tetap tersenyum menatap Febi yang juga tersenyum padanya.
"Baik Tuan. Kami akan memperlakukan Nyonya Febi dengan baik." Jawab mereka serentak.
"Cinta, antar Febi ke kamarku."
Cinta hanya bisa tersenyum. Febi sangat beruntung, bisa menempati kamar tidur Rafa. Ya, Cinta harus sadar, Febilah yang merupakan istri yang diinginkan Rafa dan keluarganya.
"Ayok, Febi. Aku antar ke kamar."
Cinta menggandeng Febi menuju kamar Rafa. Saat tiba di depan pintu kamar itu, Cinta berhenti. Dia masih ingat dengan larangan Rafa untuk tidak melangkahkan kaki di kamar itu.
"Ini kamar Tuan Rafa. Masuklah, istirahat. Semua kebutuhan kamu akan di siapkan oleh para Maid." Jelas Cinta.
"Maafkan aku, Cinta. Maafkan aku…"
__ADS_1
Febi menangis, lalu memeluk erat tubuh Cinta. Saat ini, Cinta sangat tidak nyaman dengan sikap Febi yang tiba-tiba berubah. Selalunya Febi sangat membencinya.
"Tidak perlu meminta maaf. Sekarang, masuklah. Kamu butuh istirahat." Membuka pintu kamar.
Febi akhirnya masuk ke kamar itu. Lalu Cinta kembali ke kamarnya.
Cinta menangis dalam diam. Dia membenamkan wajahnya pada permukaan bantal. Hatinya sangat sakit dan terluka.
Rafa menyaksikan hal itu hanya bisa menggelengkan kepala. Cinta tidak menyadari, sejak tadi Rafa berdiri di depan lemari melepas kemejanya dan memakai piyamanya.
Begitu selesai berganti pakaian, segera Rafa menghampiri Cinta. Diraihnya tubuh Cinta masuk dalam dekapannya.
"Kenapa menangis?" Tanya Rafa.
Cinta kaget saat merasa dirinya berada dalam pelukan hangat yang sangat membuatnya takut kehilangan pelukan itu.
Cinta semakin terisak. Dia melingkarkan tangannya erat dileher Rafa. Posisi mereka saat ini duduk di atas tempat tidur.
"Aku bertanya, kenapa kamu menangis?" Mengecup puncak kepala Cinta yang berada di ceruk lehernya.
"Apa Tuan akan menjadikan Febi sebagai…"
"Berhentilah berpikir negatif." Mengeratkan pelukannya.
"Tapi, Febi di izinkan mendapat tempat teristimewa."
"Febi akan mendapatkan perlakuan istimewa dari para Maid. Dia akan mendapatkan semua tempat istimewa dirumah ini. Tapi, kamu mendapatkan satu tempat yang jauh lebih istimewa dari seluruh tempat di dunia ini." Jelasnya lembut.
"Maksudnya?"
"Kamu tidak akan pernah mengerti. Sekarang tidurlah."
"Apa Tuan akan kembali ke kamar Tuan?" Rengeknya manja.
Rafa tersenyum simpul mendengar rengekan manja Cinta.
"Aku akan tetap disini." Merebahkan tubuh Cinta dan menguncinya dalam dekapan hangatnya.
"Lalu Febi..."
Rafa membungkam mulut Cinta dengan memberi ciuman di bibirnya. Segera Cinta memejamkan matanya. Tangannya memeluk leher Rafa semakin erat.
Rafa melanjutkan ciumannya tanpa henti, sangat lembut dengan sesekali menggoda Cinta.
"Bolehkan aku tanamkan benihku malam ini?" Bisik Rafa.
__ADS_1
Cinta memejamkan matanya semakin erat. Dia malu saat ini. Dan itu membuat Rafa semakin bersemangat dan tergoda.
"Aku akan membelai dengan lembut dan membuat kamu nyaman." Bisiknya tertahan.
Cinta mengangguk pelan. Setelah mendapat persetujuan, Rafa segera melepas piyamanya. Menarik selimut dan mulai melepas piyama Cinta di bawah selimut.
Malam yang indah itu sangat menyenangkan. Cinta tidak ingin malam ini berlalu begitu saja. Dia mulai serakah dan egois, Cinta ingin memiliki Rafa seutuhnya. Dia tidak ingin berbagi dengan siapapun.
Sedangkan Febi, dia menangis di kamarnya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya di sini. Apakah ini penjara bagai istana yang diceritakan Mama dan Papanya tadi. Semua pertanyaan itu berputar dikepalanya.
"Apa yang sebenarnya aku lakukan? Mengapa aku disini?" Ucapnya dalam tangisan.
"Sayang, maafkan Mama. Mama tidak punya pilihan lain, ayahmu tidak mau mengakui kita. Tapi, Mama janji, kamu akan terlahir dan besar di rumah ini sebagai pewaris kekayaan Papa baru kamu." Mengelus perutnya.
Ya, Febi adalah Istri sah Rafa secara Negara. Karena, di dalam buku nikah Rafa dan Cinta, masih tertulis nama Febi.
Sementara itu, di kediaman Mama dan Papa Rafa. Mereka sedang berdebat tentang Rafa yang menyetujui untuk membawa Febi dalam kehidupannya.
"Kasian Cinta, Ma. Dia adalah wanita yang dinikahi Rafa sah menurut agama." Ucap Papa.
"Tapi, Febi adalah istri sah Rafa yang tertulis didalam buku nikah mereka. Dan Mama lebih suka Febi. Dia lebih cocok dan pantas untuk berada di samping Rafa. Ketimbang wanita bercadar kampungan itu." Sambung Mama.
"Rafa tidak punya hubungan pernikahan dengan Febi, Ma. Istri Rafa hanya Cinta. Lagi pula Rafa akan merubah buku nikah mereka."
"Kapan, Pa? Mama tidak pernah tau Rafa akan merubah buku nikah mereka. Rafa hanya sibuk bekerja siang dan malam."
Papa terdiam. Benar apa yang dikatakan istrinya. Rafa bahkan tidak pernah membahas tentang nama Febi yang ada dalam buku nikahnya.
"Papa harus belajar menerima Febi sebagi menantu kita. Rafa saja sudaa menerimanya sebagai istri." Saran Mama.
"Tidak akan pernah. Menantu Papa hanya Cinta. Tidak akan pernah Papa biarkan Rafa melepaskan Cinta." Tergas Papa.
"Apa sih yang Papa lihat dari wanita kampungan itu?" Teriak Mama kesal.
"Dia mempunyai segalanya. Dan, saran Papa… Mama yang harus belajar menyukai Cinta."
Mama emosi. Dia menghempaskan bantal secara kasar, lalu pergi menuju kamarnya. Sedangkan Papa masih terdiam ditempat semula.
"Semoga kalian berjodoh selamanya. Aku harap, Rafa akan menjaga dan menyayangi Cinta setulus hatinya." Ucap Papa mendoakan.
Dubrraaakkk…
Suara bantingan pintu kamar, yang dibanting kuat oleh Mama.
"Mmh, tidur diluar lagi malam ini. Nasib-nasib…" Ujar Papa sambil tersenyum geli.
__ADS_1
Beginilah keadaannya saat sedang bermasalah. Mama akan merajuk dan tidak akan menegur Papa hingga tiga hari kedapan.