
Jack dan Hana tiba dirumah Rafa tepat seperti yang perintahkan Rafa. Mereka terdiam canggung dihadapan Rafa yang menatap tajam pada mereka berdua.
"Jack..." Melangkah mendekati Jack.
Ditatapnya tajam mata Jack yang tidak berani membalas tatapan darinya. Lalu Rafa melirik Hana yang juga berdiri agak canggung dengan wajah sedikit memerah.
"Nikahi Hana segera. Aku akan membiayai pernikahan kalian." Ucap Rafa sambil meyentuh bahu Jack.
"Tapi, Tuan..." Sahut Hana.
"Tapi apa Hana? Kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Bukan hanya sekedar sekretarisku. Beraninya kalian melangkah sejauh ini hanya karena terlena dengan perasaan cinta kalian!" Celoteh Rafa seperti sedang memarahi adik adiknya.
Cinta hanya diam, dia menatap prihatin pada Hana dan Jack.
"Maafkan saya Tuan. Saya yang tidak bisa mengontrol perasaan ini. Saya terlalu mencintai Hana." Ujar Jack yang kini berlutut dihadapan Rafa.
"Berdirilah Jack. Kita akan segera berangkat ke Singapura. Dan kamu Hana, tolong tetap bersama Cinta sampai kami kembali." Perintah Rafa.
Hana hanya mengangguk pelan dan ragu.
"Berdirilah Jack. Kita berangkat sekarang." Ajak Rafa yang sudah melangkah menghampiri Cinta.
"Jaga diri baik baik. Jangan nakal, ingat jangan melakukan hal hal gila lagi." Pesan Rafa pada istrinya itu.
"Mas juga jaga diri. Cepatlah kembali apapun yang terjadi." Memeluk tubuh Rafa erat.
__ADS_1
"Jangan khawatir, mas akan segera kembali." Membalas pelukan itu sebentar.
Lalu Rafa beralih mencium perut datar Cinta.
"Dady pergi dulu, baby." Mengelusnya sambil tersenyum.
Cinta bahagia melihat interaksi Rafa dengan bayi yang masih belum berbentuk itu.
"Satu lagi Hana." Menghentikan langkahnya saat hendak keluar dari rumah.
Hana dan Jack yang sedang berpegangan tangan untuk berpamitan, dengan cepat melepaskan genggaman tangan mereka.
"Iya Tuan." Jawab Hana.
Hana hanya mengangguk pelan. Ada perasaan bahagia dan juga sedih. Perasaan sedih itu timbul karena dia malu dihadapan Rafa yang mengetahui perbuatannya dengan Jack. Hana juga terharu, karena Rafa ternyata menganggap dirinya sebagai seorang adik.
"Jack ayo berangkat. Tenanglah, Hana hanya akan jadi milikmu." Goda Rafa.
Jack tersenyum malu malu sambil mengekor dibelakang Rafa. Sedangkan Hana langsung mendekati Cinta. Dia pun merasa malu malu menatap wajah Cinta yang tersenyum padanya.
"Apa kamu masih mau memanggilku nyonya?"
"Maaf Cinta. Aku hanya patuh pada aturan Rafa." Ucapnya.
"Ya, Rafa memang memegang kendali akan segalanya."
__ADS_1
Cinta melangkah menuju dapur. Dia mengambil sesuatu dari dalam kulkas.
"Kamu suka puding?" Tanya Cinta yang membawa sepotong besar puding kehadapan Hana.
"Kamu memasaknya sendiri?" Mengambil alih piring puding itu dari tangan Cinta.
"Tentu. Aku sangat suka memasak bergabai macam kue." Ungkapnya senang.
Hana mencicipi puding itu. Begitu tiba dimulutnya, dia merasakan segar dan empuknya dari puding lembut itu.
"Enak, boleh aku habiskan?" Tanya Hana.
"Habiskan saja, Han." Mengambilkan air minum untuk Hana.
"Aku bisa mengambil minum sendiri Cinta. Jangan memperlakukan aku berlebihan." Protesnya mengambil alih gelas dari tangan Cinta.
Cinta kembali duduk. Dia menatap wajah Hana yang sangat lahap memakan puding buatannya.
"Kamu tahu, Han. Aku tidak punya saudara dan keluarga yang menyayangiku. Bertemu denganmu membuat aku merasa seperti punya seorang saudara." Ungkapnya senang.
Hana menghentikan memakan puding itu. Dia terharu mendengar ucapan Cinta.
"Justru aku yang harusnya bicara seperti itu Cinta. Kau tahu, aku besar dipanti asuhan dan hidupku berubah saat bertemu tuan Rafa. Sekarang kalian bahkan menganggapku keluarga kalian." Tuturnya penuh haru.
Keduanya saling tersenyum bahagia. Betapa indah takdir mempertemukan mereka.
__ADS_1