
Jack dan Imah membawa kedua pria suruhan Joy menuju gudang belakang. Mereka mengurung kedua pria itu di sana dengan mengikat tangan dan kaki mereka erat erat.
"Kalau mau mencuri itu permisi dulu Mas. Kalau permisikan aku bisa kasih izin, jadi mas mas nya gak perlu terikat disini." Ledek Imah kesal.
"Betul sekali bik. Jangan kasih mereka makan minum sampai mereka memberi informasi penting tentang Joy." Jack menegaskan.
"Siap kalau itu Jack. Tapi, saya bingung? Kalian kok bisa disini, padahal harusnya masid di Semarang." Tanya Imah menyelidiki.
"Saat kita tahu kamera cctv disabotase Joy, Tuan Rafa langsung minta segera pulang." Jawabnya melangkah keluar dari gudang.
Imah mengikut dibelakangnya.
"Bik, ada makanan apa di dapur, aku lapar." Ujar Jack.
"Hanya ayam goreng." Jawabnya singkat sambil membuka kulkas.
"Mie instan ada gak bik? Lapar bangat." Mencari mie di dapur.
"Ada, tunggu biar saya yang memasaknya." Ucap Imah.
Jack pun setuju setuju saja. Saat ini dia menunggu di meja makan.
Sementara itu, di kamar. Rafa sudah melepas pelukannya. Dia menatap dalam mata Cinta yang berdiri diam didepannya.
"Kenapa kamu tidak meminta bantuan? Apa kamu tidak takut?" Bentak Rafa kesal dan khawatir.
__ADS_1
"Maaf, mas. Aku..."
"Apa? Kamu mau pamer kalau saat ini kamu sudah bisa melakukan banyak hal?" Sambung Rafa masih membentak.
"Mas, aku..."
"Jangan memberi alasan apapun. Kamu pikir aku baik baik saja? Sepanjang perjalanan aku hanya memikirkan keadaan kamu Cinta. Tapi apa? Kamu melakukan pertunjukan ekstrim seperti ini?" Bentaknya masih kesal.
Perlahan Cinta mendekat, lalu dia memegang ujung kemeja Rafa. Cinta seperti anak kecil yang sedang dihukum oleh orangtuanya.
"Apa? Kamu mau ngomong ap..." Belum selesai mengucapkan kata katanya, bibirnya sudah di bungkam oleh Cinta dengan bibirnya juga.
Tangannya memeluk erat pundak Rafa. Bahkan saat ini Cinta sudah berada dalam pangkuan suaminya itu.
"Mas, maaf karena membuat Mas khawatir. Aku baik baik saja kok. Aku tidak bermaksud untuk menyombongkan apa yang sudah bisa aku lakukan. Aku hanya mencoba menjaga diri saja." Rengeknya manja.
"Aku tahu, tapi saat ini aku baik baik saja. Lihatlah Mas, aku baik baik saja kok." Memanyunkan bibirnya.
Melihat ekspresi seperti itu membuat Rafa gemas. Hingga dia mencium bibir Cinta menggunakan bibirnya.
"Mas, aku rindu. Sangat rindu." Bisik Cinta.
Rafa semakin memperdalam ciumannya setelah mendengar kata rindu dari Cinta.
"Terimakasih karena kamu baik baik saja. Maafkan mas karena selalu tidak ada saat kamu butuh pertolongan." Ujarnya.
__ADS_1
"Aku bahagia, karena Mas selalu ada dan selalu menjagaku dengan baik. Jadi, mas tidak perlu meminta maaf tentang hal apa pun." Mengelus wajah Rafa.
Saat kedua suami istri itu melepas rasa rindu mereka. Di rumahnyan, Febi sedang bermalas malasan. Ya, sejak dia berhasil mengeluarkan bayinya dengan harapan akan kembali bekerja sebagai model, dia menjadi lebih senang menyendiri di kamarnya.
"Febi, sayang." Menghampiri Febi di kamarnya.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini terus? Kamu harus bangkit, harus kerja dan raih cita citamu. Ingat sayang, semuanya sudah didepan mata. Sebentar lagi perusahaan di Kalimantan akan menjadi milik kita." Tuturnya.
Hal itu membuat Febi kembali semangat. Dia segera duduk disebelah Mamanya.
"Mama tahu dari mana?" Selidiknya serius.
"Joy tentunya. Dia sudah mengurus semuanya."
"Bukannya Joy sedang melelang perusahaan itu, ma?" Semakin penasaran.
"Itu akal akalannya saja. Joy sengaja melakukan semua itu hanya demi mengelabui Rafa, sayang."
"Rafa? Mengapa Rafa, ma?" Tanya Febi tidak mengerti.
Sebentar Fita menghela napas, lalu dia menggeser duduknya semakin dekat dengan Febi.
"Dengar Mama baik baik sayang. Rafa itu, seorang yang sangat mengejutkan. Dia selama ini menyelidiki Joy dan juga kita. Dia mencari senua info tentang masa kecil Cinta yang sebenarnya. Rafa ingin merebut kembali semua yang pernah menjadi milik Cinta." Jelasnya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang, Ma?" Panik dan mulai khawatir.
__ADS_1
"Tenang saja. Mama masih punya banyak rencana untuk melawan Rafa." Tersenyum penuh kesombongan.
"Joy pun sudah berjanji untuk membantu kita menghancurkan Rafa dan Cinta sekaligus." Sambung Fita masih dengan perasaan sonbong dan angkuh.