
"Siapa Joy?" Tanya Rafa tiba tiba saat mulai menjalankan mobil menuju rumah.
Mendengar nama itu, mendadak jantung Cinta bergetar dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
"Mas, kenal Joy?" Selidiknya ragu.
"Aku yang bertanya, mengapa kamu malah balik bertanya?" Sungutnya kesal.
Sebentar Cinta mengatur napasnya dan menenangkan detak jantungnya.
"Dia cinta pertamaku." Akunya ragu ragu.
Ssrreeettt...
Suara ban mobil yang bergesekan dengan aspal. Rafa menginjak rem mendadak saat mendengar pengakuan Cinta.
"Mas, kenapa berhenti mendadak? Untung tidak ada pengendara lain dari arah belakang. Coba kalau ada, bisa saja mobil kita ditabrak." Rutuk Cinta merasa kesal sekaligus kaget.
"Kamu masih mencintainya?" Tanya Rafa datar dengan mata menatap kedepan.
Cinta menatap wajah datar Rafa saat mendapat pertanyaan seperti itu.
"Apa mungkin... Mas cemburu?" Selidik Cinta ragu dan sedikit takut juga.
"Aku cemburu?" Ucapnya datar dan masih menatap kedepan. Lalu akhirnya dia tertawa lirih.
__ADS_1
"Tidak ada yang membuatku cemburu di dunia ini. Dan ingat, Aku Rafa Aditya, tidak ada siapapun yang bisa merebut apapun yang telah menjadi milikku." Tegasnya.
Cinta tersenyum senang mendengar Rafa mengakui dirinya sebagai milik dari Rafa Aditya.
"Kenapa malah senyum? Aku tanya kamu masih mencintainya?" Ulangnya kali ini dengan suara tinggi dan sedikit memaksa.
Segera Cinta menunduk. Dia ketakutakan saat Rafa membentak seperti itu. Cinta paling trauma dengan bentakan dan suara tinggi yang seolah memaksanya.
Matanya berkaca kaca, tapi tetap ditahannya agar tidak tumpah.
"Nangis? Kamu menangis?" Menarik dagu Cinta agar menoleh padanya.
Cinta menggeleng dan mengedip ngedipkan matanya agar air mata itu tidak tumpah.
"Oh my God, Cinta." Melepas dagu Cinta.
"Kamu tahu, aku sangat tidak menyukai wanita lemah. Aku tidak suka melihat wanita yang selalu menangis hanya karena hal hal kecil yang tidak berguna." Celotehnya tanpa menoleh pada Cinta.
"Kalau tidak suka, kenapa Tuan yang terhormat tidak melepaskan saya." Ucap Cinta kembali formal dan dengan suara mengiba.
Mendengar itu membuat Rafa menggeleng gelengkan kepalanya, lalu dia mempercepat laju mobil. Begitu tiba di persimpangan menuju rumah, mobil itu tidak berbelok. Rafa melajukan mobil kearah yang berbeda.
"Kita mau kemana?" Tanya Cinta akhirnya menoleh pada Rafa.
"Terserah saya. Ini mobil saya dan saya berhak untuk pergi kemanapun saya mau." Ucapnya dingin dengan menggunakan bahasa formal juga.
__ADS_1
Cinta berpikir keras, dia mulai mengerti bahwa Rafa marah padanya saat ini. Cinta mulai berperang dengan dirinya antara mengatakan perasaannya pada Joy dengan jujur atau berbohong.
"Aku tidak mencintainya lagi. Tapi, aku ingin setidaknya bertemu dengannya meski hanya sebentar." Ungkap Cinta pada akhirnya.
Rafa tidak berkutik. Dia malah menambah laju mobil dengan kecepatan yang sangat laju. Membuat Cinta memejamkan matanya karena takut. Cinta juga mulai merasakan seluruh isi perutnya seperti berontak ingin keluar.
Cinta mual, dia merasa akan muntah. Tapi ditahannya, dia tidak mau membuat Rafa semakin marah padanya.
"Aku akan mempertemukan kamu dengan Joy tercintamu itu." Ucap Rafa dingin.
Ingin rasanya Cinta mengatakan tidak. Tapi dia tidak bisa bersuara, sebab rasa mualnya sudah sampai tenggorokan.
"Mas berhenti, aku mau muntah." Pintanya susah payah karena hatus menahan rasa ingin muntah itu.
Bukannya berhenti, Rafa malah menambah laju mobil. Cinta sudah tidak kuat menahannya. Hingga akhinya...
Bbbuuuuuurrrrt... Huekkss...
Cinta muntah di dalam mobil. Muntahannya sangat banyak hingga mengenai pakaiannya. Cadarnya bahkan sudah terlepas jatuh kelantai mobil. Tangan rafa juga kebagian cipratan muntah Cinta.
Merasa jijik, Rafa akhirnya menepikan mobilnya. Segera dia keluar dari mobil. Lalu membukakan pintu untuk Cinta. Tapi, Cinta tidak mungkin keluar dari mobil, karena cadarnya terlepas.
Rafa membuka jasnya, lalu menutupi bagian kepala Cinta hingga wajahnya. Digendongnya tubuh Cinta, dibawanya ke salah satu pondok kecil di pinggir jalan itu.
"Kamu tahu..." Mengelap wajah dan mulut Cinta menggunakan lengan jas yang menutupi kepala Cinta.
__ADS_1
"Harusnya lelaki seperti Joy, kamu muntahkan. Dia menjijikkan seperti muntah ini. Jadi, jangan pernah berpikir untuk menemuinya." Tegasnya sambil membersihkan muntah yang juga menempel di bagian jilbab depan Cinta.
"Sekali lagi kamu berpikir untuk menemuinya, akan aku buat seluruh isi perutmu keluar." berbisik ditelinga Cinta.