
"Ikutlah bersamaku menemui Joy. Dia sangat ingin bertemu denganmu Cinta." Ajak Febi.
"Haruskah aku ikut?" Berpikir sejenak.
"Joy akan membantumu bebas dari Rafa." Bujuk Febi.
"Aku takut... Aku terlalu takut, Rafa akan menyiksaku saat dia tahu aku diam diam menemui Joy." Ungkapnya sedih.
Febi mendekati Cinta. Dipeluknya tubuh Cinta. Dia tersenyum dibalik punggung Cinta.
"Rafa tidak akan tahu, Cinta. Percayalah, Joy akan mengelabuinya." Meyakinkan Cinta.
"Tapi, di rumah ini diawasi melalui cctv disetiap ruangan." Menjelaskan ketakutannya.
Sejenak Febi terdiam. Ya, dia lupa ternyata saat ini pun cctv itu merekam semua yang mereka lakukan dan bicarakan saat ini.
"Berpura pura pingsan. Aku akan membuat seakan aku mau membawa kamu ke rumah sakit." Menyarankan.
Cinta menahan tawanya dibalik punggung Febi. Rasanya menggelikan mendengar Febi memberinya saran kekanakan seperti itu.
'Kamu pikir Rafa sebodoh itu? Dia tidak akan mudah tertipu, Febi.' Batin Cinta.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pergilah temui Joy. Katakan pada Joy, datanglah selamatkan aku." Melepas pelukannya.
"Kamu yakin?" Tanya Febi menatap tajam wajah sedih Cinta.
Cinta mengangguk yakin. Dia melakukannya seakan benar benar sedang berputus asa dan bersedih.
"Baiklah, aku akan meminta Joy untuk membawa kamu pergi dari rumah ini." Ucapnya meyakinkan Cinta.
Lalu, Febi segera berpamitan untuk segera menuju rumah Joy. Dan Cinta mengantarnya hingga Febi hilang dari pandangannya.
"Bik Imah..." Panggil Cinta pelan, dia merasa seluruh tubuhnya gemetar lemah.
"Bik, kakiku tidak bisa digerakkan. Aku, takut." Mengakui kondisi sebenarnya yang dia rasakan.
Imah membantunya berjalan. Dia memapah Cinta perlahan menuju kamar bawah tangga.
"Bik, antarkan aku ke kamar rahasia itu." Menunjuk kearah lorong yang sayup disebelah sana.
"Baik Nyonya." Membantu Cinta melangkah menuju ke kamar rahasia itu.
Saat tiba disana, Imah tidak ikut masuk. Dia hanya mengantar hingga depan pintu. Setelah memastikan Cinta masuk dengan selamat, dia pun kembali ke dapur.
__ADS_1
Kini Cinta sendirian dikamar itu. Dia menangis tersedu sedu menatap kalung berliontin R&C yang masih tersimpan rapi dalam kotak persegi panjang kecil itu.
"Maaf karena tidak mengenalimu. Maafkan aku melupakanmu. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Pulanglah aku mohon." Ucapnya sambil menangis tersedu sedu.
Sebenarnya, saat tadi bermimpi. Cinta mengingat semua kenangannya dengan Rafa. Dia ingat saat pertama kali terbangun dikamar ini. Memakan bubur buatan pak Bay. Bermain dan tertawa bersama Rafa. Hingga terakhir, Cinta mengembalikan kalung itu.
"Aku mohon pulanglah. Aku merindukanmu... Maafkan aku melupakanmu. Aku, aku... takut... terlalu takut untuk kehilanganmu..." Ungkapnya masih tersedu memeluk foto masa kecil Rafa bersama Rani kembarannya.
Sementara itu, di apartemen Joy. Febi sedang menceritakan kondisi Cinta yang bahkan seakan lupa kalau Febi pernah jahat padanya. Karena Cinta terlihat sangat ramah dan juga tidak ada raut kebencian dimatanya.
"Cinta terlalu takut sama Rafa. Sulit juga untuk Cinta meninggalkan rumah itu, Joy. Karena setiap ruangan dirumah itu diawasi dengan cctv." Jelas Febi pada Joy.
"Mudah saja. Aku bisa meretas cctvnya. Tunggu saja, akan aku pastikan Cinta kembali padaku. Lagi pula, aku tidak takut sama sekali pada Rafa. Dia hanya lelaki lemah yang akan hancur seketika saat Cinta meninggalkannya." Tutur Joy merendahkan dan mengejek Rafa.
"Setelah Cinta ikut bersama kamu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Febi menyelidiki apa sebenarnya rencana Joy.
"Memastikan Cinta tidak mengingat kejadian didalam video ini. Dan aku akan menghinoptisnya, agar dia menganggap Rafa pelaku pembunuhan itu." Tersenyum penuh kemenangan.
"Apa Cinta tahu, bahwa itu Rafa?" Menunjuk gambar Rafa di dalam video itu.
"Sejauh ini Cinta tidak tahu. Aku akan segera memberi tahunya, karena dengan begitu, Cinta akan sangat membenci Rafa dan dia akan segera meninggalkan Rafa." Menatap tajam video dihadapannya.
__ADS_1