Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 19


__ADS_3

"Bik, Cinta mana?" Tanya Febi menghampiri Imah di dapur.


"Di kamar, Nyonya."


"Berlagak jadi ratu, setiap hari di kamar terus." Rutuknya tidak suka.


"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?"


"Buatkan saya omelet. Saya ingin makan omelet."


"Baik Nyonya."


Febi menunggu di ruang tengah sambil menonton tv. Bosan dengan acara tv, dia beralih membaca majalah dewasa. Disana ada foto model memakai pakaian yang pernah menjadi sponsornya saat masih menekuni dunia model.


"Andai bayi ini tidak ada di perutku, aku pasti akan menjadi satu satunya bintang yang bersinar di dunia permodelan." Ujarnya menyesali kehamilannya.


Driittt…


Ponselnya berdering, ada panggilan dari Mama. Segera Febi menjawab panggilan itu.


"Ada apa, Ma?"


"Mama hanya ingin tahu keadaan kamu. Apa Rafa memperlakukan kamu dengan baik atau buruk." Celotehnya.


"Aku diperlakukan bagai Nyonya di rumah ini, Ma. Hanya saja, keberadaan Cinta membuat posisiku terancam."


"Kamu tenang saja. Mama sudah memikirkan cara untuk menyingkirkan Cinta dari rumah itu."


"Benarkah?"


"Iya sayang. Kamu tenang saja, pertahankan posisi kamu di sana. Terus berusaha untuk mengambil hati Rafa."


"Iya, Ma. Mama juga tenang saja. Aku juga sudah memulai rencanaku untuk menyingkirkan Cinta tanpa ketahuan oleh Rafa." Jelasnya.


"Ya sudah, kalau begitu Mama mau lanjut kerja dulu. Kamu jaga diri dan kandungan mu itu."


"Iya Ma. Mama juga jaga kesehatan." Mengakhiri pembicaraannya.


"Mila, Mila…" Teriak Febi memanggil Mila.


"Iya Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Menghampiri Febi.


"Hhm, mulai tugasmu hari ini." Mengerlingkan matanya.


"Baik Nyonya. Akan saya laksanakan." Tersenyum senang.


Febi merasa bahagia, karena akhirnya bisa memulai rencananya untuk menyingkirkan Cinta.


"Bik Imah… masih lama?" Teriaknya.


"Sebentar Nyonya. Dua menit lagi selesai?" Sahutnya dari dapur.


Tanpa disadarinya, Rafa menyaksikan segala gerak gerik Febi melalui layar monitor cctv nya.


Tidak ingin terjadi sesuatu pada Cinta, Rafa langsung menghampiri Cinta di kamarnya.

__ADS_1


"Ikut aku sekarang." Ajak Rafa tiba tiba membuat Cinta yang sedang mejahit tali cadarnya terkejut.


"Kemana?" Menghentikan kegiatannya.


"Kantor. Aku butuh asisten."


"Bukankah Mas sudah punya asisten baru?"


Mata Rafa menatap tidak suka dengan semua pertanyaan Cinta.


"Kalau aku bilang ikut, ya ikut. Jangan banyak tanya." Bentaknya kesal.


Cinta pun segera memakai cadarnya, lalu melangkah mengikuti langkah Rafa yang terburu buru menuju mobil.


Imah hanya tersenyum melihat Cinta yang akhirnya dibawa keluar oleh Rafa dari rumah ini, setelah sekian lama. Sejak dibawa ke rumah ini, Cinta bahkan tidak lagi pernah menginjakkan kaki ke luar rumah. Semua itu atas perintah Rafa. Yang Cinta lakukan selama ini, hanya berdiam diri di kamar.


Sepenjang perjalanan, Cinta melirik keluar jendela kaca mobil. Dia juga membuka sedikit kaca mobil agar angin masuk. Dia memejamkan matanya merasakan angin menyentuh wajahnya. Rasanya sangat menyegarkan dan terasa sejuk hingga dalam jiwa.


"Tutup kacanya." Memerintahkan Cinta untuk menutup kaca mobil.


Dengan wajah sedih Cinta menutup kaca mobil. Lalu dia memalingkan pandangannya keluar. Wajahnya terlihat sangat sedih. Hal itu disadari oleh Rafa.


"Kamu marah?"


Cinta menggeleng tanpa menoleh pada Rafa.


"Lalu kenapa kamu tidak mau menoleh?"


"Pemandangan diluar jauh lebih menyejukkan."


"Maksud kamu wajahku tidak enak untuk di pandang?"


"Iya." Jawabnya tegas.


Rafa semakin tidak percaya. Cinta sudah berani menjawabnya dan mengejeknya.


"Dikasih hati minta jantung ya kamu?" Celotehnya kesal.


"Saya tidak suka makan hati apa lagi jantung." Jawabnya santai.


Rafa semakin kesal mendengar jawaban Cinta yang semakin berani.


"Kamu mulai berani melawan?"


"Saya tidak sedang melawan siapapun. Saya hanya ingin memandang keindahan alam. Salah siapa yang mengurung saya di rumah selama hampir satu bulan." Rutuknya.


Ssrreetttt…


Tiba tiba Rafa menginjak rem mendadak. Mobilnya berhenti dipinggir jalan raya yang bisa saja menjadi perhatian polisi yang bertugas mengatur lalu lintas.


"Ya Allah… Kenapa berheti mendadak, Mas?" Tanya Cinta kaget dan kepalanya terhantuk kaca mobil.


"Turun." Perintahnya.


"Hah? Turun… ngapain Mas?" Tanya Cinta ragu.

__ADS_1


"Turun." Bentaknya.


Dengan cepat Cinta turun dari mobil. Dia melangkah kepinggir jalan. Cinta berdiri kebingungan dipinggir jalan. Sedangkan Rafa sudah melajukan mobilnya jauh meninggalkan Cinta.


"Gimana pulangnya? Aku tidak punya uang untuk ongkos. Hp aku juga ketinggalan di mobil." Melangkah perlahan menyusuri jalanan.


"Taman..." Menatap taman yang tidak jauh di depannya.


Cinta melangkah semangat menuju taman itu. Dia berjalan dengan langkah santai, menikmati indahnya udara sejuk di taman. Tidak lupa Cinta menyentuh bunga bunga yang tumbuh menghiasi sepanjang jalan di taman.


"Masya Allah, betapa indahnya alam semesta." Memuji segala anugerah keindahan yang dapat dipandanginya hari ini.


Cinta terus melangkah, matanya melirik keindahan itu, sampai dia lupa memperhatikan jalan didepannya. Saat ini seorang bocah sedang melaju mengayuh sepedanya kearah Cinta. Semakin dekat dan bocah itu tidak bisa menghindari pejalan kaki di depannya.


Bbraaakkk…


"Astahgfirullah... aahh…" Teriakan Cinta.


Dan bocah itu jatuh ke rerumputan disampingnya. Sedangkan Cinta jatuh dalam dekapan Rafa yang tiba tiba datang entah dari mana menarik tubuhnya hingga mereka jatuh ke rerumputan juga.


"Menyingkir dari atas saya." Bentak Rafa membuat Cinta kaget dan langsung berdiri.


Rafa ikut berdiri, lau merapikan jasnya yang jadi kusut serta kotor akibat menyelamatkan Cinta dari tertabrak sepeda.


"Maafkan saya, Mas." Ucapnya menyesal.


"Punya mata itu di pakai untuk melihat jalanan bukan untuk jelalatan memandangi sesuatu yang tidak berguna." Rutuk Rafa sangat kesal dan marah.


Cinta tertunduk diam. Matanya sudah berkaca kaca.


"Nangis nangis… itu saja yang kamu bisa." Bentak Rafa lagi.


"Ikut aku, cepat. Gak usah banyak tanya." Ajaknya jutek.


Rafa melangkah dengan langkah cepat tanpa memperhatikan Cinta yang melangkah perlahan, karena pergelangan kakinya terasa sangat sakit. Rupanya dia terseleo saat ditarik oleh Rafa untuk menghindari sepeda tadi.


Merasa langkah Cinta terlalu lambat, Rafa akhirnya menoleh kebelakang. Didapatinya langkah Cinta yang tertatih menahan sakit pada pergelangan kakinya. Segera saja, Rafa menghampirinya, lalu menggendongnya.


"Jangan protes. Diam. Berat tau." Ucap Rafa sambil terus melangkah membawa tubuh Cinta.


Banyak pasang mata menatap kearah mereka. Ada yang bersiul menggoda pasangan itu. Ada juga yang berteriak mengatakan Rafa lebay dan terlalu dramatis. Tapi, Rafa tidak memperdulikan semua itu. Dia hanya ingin cepat sampai di kantin taman.


Begitu sampai di kantin. Rafa mendudukkan Cinta disalah satu kursi kayu yang langsung menghadap padanya.


"Mbak, pesan satenya dua. Satu piring pakai lontong. Satu lagi daging aja." Pesan Rafa pada penjaga kantin.


"Sini kaki kamu yabg sakit." Menepuk pahanya pertanda meminta Cinta menaikkan kaki yang sakit itu keatas pahanya.


"Tidak usah Mas, sudah sembuh kok." Tolaknya.


Tidak terima dengan penolakan Cinta. Rafa berdiri dari tempat duduknya, lalu berjobgkok di hadapan Cinta. Diraihnya kaki Cinta lalu dipijatnya perlahan.


"Diam. Jangan protes apalagi bergerak." Tegasnya.


Terpaksa Cinta mengikuti saja perintah Rafa.Tangan Cinta menutup matanya saat merasakan sakit luar biasa ketika Rafa memijat pergelangan kakinya.

__ADS_1


__ADS_2