
(Masih kisah masa lalu) 😉
Cinta berdiri di depan gerbang sekolah. Saat itu Rafa menghampirinya.
"Hai Cinta. Kamu menunggu siapa?" Sapa Rafa.
"Adit…" Ucapnya senang.
"Mau aku antar pulang?" Tanya Rafa.
Cinta menggeleng sedih. Sebentar dia mencari sesuatu dari ranselnya. Rupanya dia mengambil kotak kalung pemberian Rafa.
"Adit, ambil kembali kalung ini. Aku tidak mau menerimanya." Mengulurkan pada Rafa.
"Kenapa? Apa karena kalungnya jelek?" Tanya Rafa sedih.
Cinta menggeleng. Tanpa bicara apapun dia memberikan kalung itu, pada Rafa. Dan dia segera berlari menuju arah jalan pulang. Rafa pun memperhatikan langkah Cinta.
Lalu, saat itu mobil berhenti didekat Cinta. Hanya sekejap mata tubuh Cinta ditarik paksa masuk kedalam mobil. Cinta diculik.
"Pak, kita ikuti mobil itu. Mereka membawa Cinta." Ucapnya panik.
Segera pak Bay melajukan mobilnya mengikuti mobil yang membawa Cinta.
__ADS_1
Dan di gerbang sekolah, Febi menatap kepergian mobil Rafa. Sebenarnya Febi sejak tadi berdiri dibelakang Cinta dan Rafa. Febi juga melihat detik detik Cinta diculik. Tapi dia cuek saja tidak peduli sama sekali.
Saat yang bersamaan. Fita mendapat telepon dari nomor asing yang mengatakan agar dia datang ke rumah tua dan orang itu menyebutkan alamat lengkapnya pada Fita.
"Jika ingin putri anda selamat, cepatlah datang. Aku tidak bisa membantu anakmu." Ucapnya lalu menutup telepon.
Penelpon itu adalah sopir pribadi Joy. Dia menelpon atas permintaan bocah Cina yang kasihan pada Cinta yang saat ini disekap oleh Joy. Ya, merekalah yang tadi membantu Joy menculik Cinta.
Tapi saat melihat Joy menyekap Cinta, bocah Cina dan sopirnya itu merasa kasihan pada Cinta, makanya mereka meminta pertolongan dari orangtua Cinta.
"Pak, apa sebaiknya saya masuk saja kedalam. Kasihan kalau sampai kakak menyakiti kak Cinta." Ungkapnya.
Sopirnya hanya mengangguk mengiyakan. Lalu bocah Cina itu masuk kedalam rumah tua itu. Dia melihat dari kejauhan. Joy mengikat tubuh Cinta erat disalah satu tiang di rumah itu. Joy melepas cadar Cinta dan menyumpal mulutnya agar Cinta tidak bicara.
Tas Ransel Cinta jatuh ditanah begitu saja dan kamera kesayangannya hadiah dari Ayah dan Bundanya itu terlempar keluar dari dalam tas dan entah bagaimana kamera itu saat ini sedang merekam kejadian itu.
"Kak berhentilah. Kasihan…" Ujar bocah Cina itu mencoba menghentikan amarah kakaknya.
Tapi, Joy yang tersulut emosi malah berbalik menatapnya dan langsung mencekil kuat lehernya. Cinta menggeleng dan mencoba berteriak, tapi percuma karena mulutnya dibekap oleh Joy sangat erat.
"Kak… ssaa…kkiiittt…" Kata terakhir yang terdengar. Setelah itu tubuh itu kehilangan kesadaran.
Joy yang merasa panik, segera memeriksa napas dan detak jantung adiknya itu. Dan ternyata adiknya sudah tidak bernapas.
__ADS_1
Cinta menangis. Dia tahu Joy yang melakukan semua ini. Meski Joy memakai topeng untuk menutupi wajahnya saat ini, Cinta sangat mengenali suaranya. Dan karna kepala Cinta yang terlalu pusing akibat obat bius yang diberikan Joy saat menculiknya tadi, Cinta tidak bisa melihat jelas siapa bocah yang tergeletak kaku di lantai itu.
Joy berdiri. Dia segera melepas ikatan tubuh Cinta dan mendorong kuat tubuh Cinta yang masih dalam pengaruh bius. Meski begitu Cinta mencoba meraih topeng diwajah Joy. Kurang waspada karena masih memikirkan adiknya, topeng Joy berhasil dilepas oleh Cinta.
Pada saat itu Joy langsung berlari menaiki tangga menuju lantai atas. Sedangkan Cinta, dengan tenaga yang tersisa, dia menghampiri tubuh kaku bocah Cina. Dan tiba tiba sebilah pisau tertancap diperut bocah itu, dan ujung baju Cinta tersangkut disana.
Cinta panik, dia ketakutan. Kesadarannya hampir hilang. Namun dia ingin lari meninggalkan tempat itu. Tapi karena bajunya tersangkut pada pisau yang tertancap di perut bocah Cina itu, terpaksa Cinta menarik untuk melepas bajunya.
Sementara itu, Rafa baru tiba di lokasi rumah tua. Dia berhenti karena merasa curiga. Dari luar rumah itu Rafa melihat sekilas bayangan Joy yang melompat dari lantai atas ke arah belakang sana.
Segera Rafa masuk, sedang pak Bay masih sibuk dengan mobil yang mendadak tidak mau dikunci.
Begitu masuk keruangan itu, Rafa mendapati Cinta sedang mencoba mencabut pisau dari tubuh bocah yang tergeletak di lantai. Saat hendak memanggil Cinta, sirine polisi terdengar.
Segera Rafa mendorong kuat tubuh Cinta menjauh. Dia mengambil alih pisau dari tangan Cinta. Tidak lupa Rafa mengelap tangan Cinta hingga noda darahnya hilang. Cinta linglung. Dia hanya ketakutan dan pikirannya kosong, hingga tidak bisa mengenali Rafa.
Saat ini lah, Fita tiba di lokasi dan menyaksikan kejadian itu. Tapi dia malah memilih diam dan pergi saat menyadari tidak ada Febi disana.
Sedangkan Rafa kembali melihat bayangan bocah lain di belakang sana. Segera Rafa berlari mengejarnya. Tepat saat Rafa pergi, sopir Joy dan para polisi masuk ke rumah itu. Mereka terkejut mendapati tubuh kaku bocah Cina dan Cinta yang ketakutan seperti dialah yang melakukan itu.
Tanpa bertanya, polisi langsung menyeret Cinta untuk dibawa kekantor dan langsung dituduh sebagai pembunuh. Semua itu berdasarkan kesaksian Pak sopir yang terpaksa berbohong demi menyelamatkan Joy.
Dan saat ini Rafa sudah berhasil mengejar Joy. Mereka saling baku hantam, hingga pisau itu terlepas dari tangan Rafa. Joy memanfaatkan kesempatan itu. Dia segera mengambil pisau itu dan menusukkan langsung pada Rafa. Lalu dia menarik kembali pisau itu dan membawanya pergi.
__ADS_1
"Cinta…" Ucap Rafa sebelum dia pingsan.
Pak Bay yang baru tiba pun, langsung membawa Rafa kemobilnya dan segera menuju rumah. Dia tidak boleh membawa Rafa kerumah sakit, karena urusannya akan panjang. Sementara pak Bay tidak tahu detail kajadian ini.