Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 74


__ADS_3

Saat ini Jack sedang di Bandara, dia bersama Hana datang untuk mengantarkan Tia yang hendak pulang ke singapur.


"Sampaikan salamku pada Nyonya. Terimakasih juga karena sudah membantuku." Ucap Tia pada Jack.


Lalu, secara tiba tiba Tia memeluk erat tubuh Jack. Mata Jack membola kaget. Dia tidak menyangka akan mendapat pekukan dari Tia. Wanita berwajah mungil, bermata sipit bak wanita jepang, serta rambut panjang yang terurai indah itu.


Sementara Hana hanya menatap hambar kejadian itu.


"Berlebihan." Rutuknya.


Hana meninggalkan Tia dan Jack. Dia segera menuju mobil. Rasa malas menyaksikan kemesraan itu membuatnya pergi begitu saja tanpa pamit dan tidak mengatakan apapun pada Tia.


"Jack, bolehkan aku meminta nomormu. Aku ingin berteman denganmu." Memberikan ponselnya pada Jack.


"Tentu." Mengambil ponsel itu.


Jack memasukkan nomor di ponsel Tia. Dia menyimpan nama dengan emot hati.


"Take care. See you." Ucap Jack melepas kepergian Tia.


Tia melambaikan tangannya hingga menghilang dibalik kerumunan orang. Begitu juga dengan Jack yang memperhatikan Tia hingga hilang dari pandangannya.


Setelah memastikan Tia naik pesawat dengan aman, Jack kembali menemui Hana.


"Hana, aku kira kamu sudah menghilang." Merangkul bahu Hana.


"Lepas ah, gerah." Menjauhkan tangan Jack dari bahunya.


Jack pun hanya bisa menaikkan kedua bahunya. Lalu dia masuk kemobil, diikuti oleh Hana.


"Lets go..." Ucap Jack sambil menjalankan mobil.


Hana hanya diam, dia fokus menatap layar ponselnya seakan menunggu seseorang menghubunginya.

__ADS_1


"Menunggu telpon dari siapa?" Tanya Jack.


"Bukan urusanmu." Memalingkan pandangan kesamping.


"Sewot amat. Lagi PMS kali?" Rutuknya kesal.


Jack terus melajukan mobil. Hana masih diam dan terus menatap keluar.


"O iya, Han. Sorry, aku memberikan nomor teleponmu pada seseorang." Ungkap Jack.


Ucapan itu berhasil membuat Hana kembali menatapnya.


"Pada siapa? Apa alasan kamu memberikan nomorku?" Selidiknya agak kesal.


"Karena aku tidak ingin memberikan hatiku pada siapapun." Ucap Jack datar.


Kening Hana berkerut manahan emosi. Dia tidak mengerti dengan jawaban Rafa.


Sebentar Jack menghela napas. Sebentar dia menoleh untuk melihat ekspresi kesal diwajah Cinta.


"Tenanglah, Han. Kalau ada nomor baru menelponmu, berikan saja padaku." Jelasnya.


Jawaban seperti itu tidak membuat Hana senang. Yang ada saat ini Hana bertambah emosi.


Driiirrrttt...


Ponsel Hana benaran berdering. Ada panggilan dari nomor baru.


"Nah ini." Memperlihatkan layar ponselnya pada Jack.


Awalnya Jack ingin menolak. Dia berpikir itu bukan dari Tia, karena Tia saat ini pasti sudah terbang dan ponselnya sudah dimode pesawatkan.


"Cepat angkat. Berisik tau..." Ketus Hana kesal.

__ADS_1


Terpaksa Jack menjawab panggilan itu. Karena sedang menyetir, Jack meminta Hana untuk mengeraskan suara panggilan itu.


"Halo. Dengan Jack disini. Ada yang hisa dibantu?"


"Jack ini aku Tia."


Mendengar nama itu Jack sedikit khawatir, sedangkan Hana merasa malas mendengar pembicaraan mereka. Ingin menutup telinganya segera.


"Tia? Bukankah seharusnya kamu sudah di pesawat?" Tanya Jack.


"Aku membatalkan penerbangan hari ini, Jack." Jelasnya.


"Kenapa dibatalkan?" Jack masih penasaran.


"Saat melihat kamu menyimpan nomormu dengan emot hati, aku terharu. Aku juga memilki perasaan yang sama Jack." Jelasnya.


Hana semakin kesal. Entah mengapa mendengar Tia mengatakan membatalkan kepulangannya membuat Hana menjadi kesal.


"Ah, Sorry Tia. Kamu jangan salah paham ya. Maksudnya nomor yang aku simpan itu adalah nomor dari orang yang memiliki hatiku." Jelas Jack.


Hana terdiam sejenak untuk mengartikan ucapan Jack barusan. Lalu dia menatap tajam mata Jack yang juga menatap padanya.


"Jadi, ini nomor kekasihmu?" Tanya Tia sedih.


"Iya, Tia. Maaf aku tadinya ingin menjelaskan pada kamu. Tapi..." Hana masih menatap tajam padanya


"Tidak apa Jack. Aku pergi." Menutup sambungan telepon. Tia pergi membawa kesedihannya.


Jack menepikan mobilnya. Dia menunggu jawaban dari Hana yang sampai saat ini masih terus menatap tajam padanya.


Jantung Hana berdegup kencang. Dia tidak mengerti mengapa seperti ini. Perlahan dia segera memalingkan pandangannya. Tapi sebelum itu terjadi, Jack menarik wajahnya dan mencium bibirnya.


Hana terkejut. Matanya membola saat merasakan bibir Jack menyentuh bibirnya. Detak jantungnya semakin tidak beraturan. Terlebih saat Jack memperdalam ciumannya. Hana tidak menolak, tapi dia juga tidak membalas ciuman Jack. Hana membiarkan Jack melakukan apapun yang dia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2