Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
AMPP 2 (Bab 9)


__ADS_3

Begitu Rafa keluar dari kamar mandi, dia dikejutkan dengan kedatangan Cinta yang tiba tiba saja memeluknya sangat erat.


"Rindu." Ucap Cinta yang langsung membenamkan wajahnya diceruk leher Rafa.


"Sayang terbangun? Apa mas menggangu tidurmu?" Mengusak lembut punggung Cinta.


"Aku sudah terbangun sejak mas membuka pintu rumah. Aku sengaja pura pura tidur, berharap mas akan langsung memelukku. Tapi, mas malah memanggil Jack." Celotehnya manja bercampur kesal.


Rafa tersenyum gemas mendengar pengakuan Cinta. Tampa menunggu lama, Rafa langsung menggendong tubuh Cinta. Membawanya kembali ke tempat tidur.


"Apa yang terjadi? Ceritakan lagi mimpi sayang. Mas kurang fokus saat sayang menjelaskan lewat telepon tadi." Menyelimuti Cinta.


"Mimpi yang sangat menakutkan. Aku tidak ingin mengingatnya lagi." Menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Malam terus berjalan hingga pagi menjelang. Hana sudah bangun lebih dulu, dia terbangun karena Jaya menangis. Dia menangis karena merasa lapar dan juga kebasahan oleh air pipisnya.


"Anak Mama basah, ya?" Menggendong tubuh Jaya ke kamar mandi. Hana langsung memandikan bayinya tentunya dengan bantuan Jack juga.

__ADS_1


Usai memandikan bayi menggemaskan mereka itu, Jack pun memasangkan baju, dan popok celana bayi mereka. Setelah itu barulah Hana mengambil peran untuk memberikan ASI pada Jaya yang kini sudah berusia sepuluh bulan.


Sementara itu, Cinta dan Rafa baru saja terbangun diatas sajadah mereka usai sholat subuh tadi. Keduannya kembali terlelap karena merasa masih sangat mengantuk.


"Terimakasih sayang, kehadiran kamu membuatku merasa sempurna." Mengecup kening Cinta yang berbaring berbantalkan tangannya.


"Mas sudah bangun lebih dulu, kenapa tidak segera membangunkan aku." Celotehnya saat terbangun akibat ciuman Rafa dikeningnya.


"Pagi pagi sudah mengomel. Nanti aku terkam baru tau rasa." Gerutuk Rafa pelan sambil menatap langkah Cinta yang mulai membuka mukenanya.


"Maaf, sayang." Ikut berdiri untuk mengganti sarungnya dengan celana.


"Mas mah enak, bangun bangun langsung mandi, sarapan terus berangkat kerja. Lah aku?" Menatap kesal pada Rafa yang tersenyum dengan wajah bingungnya melihat istrinya yang pagi ini mengomeli dirinya.


"Aku harus masak dulu, cuci baju, bersih bersih rumah dan banyak pekerjaan lainnya lagi." Bersiap hendak keluar kamar.


"Nanti mas bantuin." Sahut Rafa. Dan sahutan Rafa itu membuat Cinta semakin kesal dan bertambah mengomeli dirinya.

__ADS_1


"Bantu bagaimana? Mas itu harus kerja. Pergi kekantor, mengurusi perusahaan dan semua karyawan supaya tidak ada yang mencoba menipu atau berniat jahat lainnya." Melangkah keluar sambil menutup pintu dengan sedikit bantingan.


"Wah, ternyata wanita hamil sebenarnya seperti ini. Ah mungkin karena ini hamil kedua makanya dia jadi lebih galak. Kan saat hamil pertama jadi manja dan perajuk. Apa mungkin kali ini baby boy?" Rafa mulai menerka nerka.


Senyum tidak pernah hilang dari bibirnya. Sejenak dia duduk menatap keadaan pagi hari diluar sana. Rupanya suara kendaraan sudah terdengar ramai.


"Jack datanglah keatas." Berbicara melalui panggilan telepon.


Jack pun segera menuju lantai atas. Namun sebelum dia melangkahkan kakinya di anak tangga pertama, dia mendengar Cinta mengomel di dapur sendirian.


"Mungkin mereka akan memiliki baby girl." Ujar Jack pelan sambil melanjutkan langkahnya.


Sementara itu, Hana masih dikamarnya. Dia masih memberikan ASI pada Jaya.


"Sayangnya mama lapar banget ya!" Mengelap keringat didahi Jaya. Matanya terpejam tapi kaki dan tangannya terus bergerak dengan aktif.


"Udah dulu ya, mimiknya. Kita harus kedapur bantu Tante Cinta masak, ya sayang." Mengelus lembut wajah Jaya yang belum mau berhenti mimik.

__ADS_1


__ADS_2