
Selesai mandi, Rafa langsung mendekati Cinta. Dia membuat Cinta terkurung dalam kungkungannya.
"Apa kamu sudah ingat kesalahanmu?" Bisiknya ditelinga Cinta.
Hanya anggukan dari Cinta, sedangkan matanya terpejam erat. Dia tidak berani melihat wajah marah Rafa.
"Apa kesalahanmu, sayang." Membuka cadar Cinta.
"Maafkan aku, Mas. Aku terlalu khawatir dan buru buru, hingga lupa memakai jilbab dan cadarku." Mengakui kesalahannya.
Rafa bangkit dari posisi duduknya. Dia melepas bathrobenya dan menggantinya dengan kaos oblong dan celana pendek.
"Lalu, apa hasilnya? Apa kamu hamil?" Bertanya tanpa menoleh pada Cinta.
Cinta bangkit, dia duduk sambil menundukkan pandangannya.
'Haruskah aku berbohong?' Batinnya.
"Bukankah Mas sudah melihat hasilnya malalui rekaman cctv?" Sahut Cinta ragu.
"Memang aku lihat. Tapi aku tidak tahu apa artinya itu. Apa susahnya sih tinggal jawab. Kamu hamil apa tidak?" Bentak Rafa tersulut emosi.
Sebentar Cinta berpikir. Dia ingin tahu respon Rafa saat mengatakan dirinya hamil.
"Iya. Aku hamil." Ucap Cinta pelan namun terdengar jelas ditelinga Rafa.
Mendengar Pengakuan itu, Rafa langsung mendekati tubuh Cinta. Ditariknya dagu Cinta agar menatap matanya.
__ADS_1
"Siapa yang menghamilimu?" Tanya Rafa dengan suara serak menahan amarah.
Mata Cinta melotot tajam menatap mata Rafa. Hatinya hancur mendengar pertanyaan itu. Bagaimana bisa kata kata seperti itu keluar dari mulut Rafa. Padahal selama ini Rafa satu satunya lelaki yang tidur dengannya.
"Apa maksud mas bertanya seperti itu. Jelas Mas lah yang membuatku hamil." Tegas Cinta.
"Hah." Melepas dagu Cinta.
Rafa melangkah menjauh darinya. Rafa berdiri di depan jendela kaca, matanya menatap jauh kedepan.
"Kamu tahu? Aku selalu meminum obat penghambat kehamilan saat menyentuhmu." Jelasnya.
Cinta terdiam, hatinya hancur mendengar itu. Benar apa yang dipikirkannya selama ini. Rafa tidak menginginkan anak darinya.
"Jawab Cinta, siapa yang menghami..."
Ucapan Rafa terhenti, wajahnya menerima tamparan dari tangan lembut Cinta.
"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Rafa marah dan terkejut.
"Berhentilah merendahkanku. Aku bukan wanita murahan. Kalaupun saat ini aku hamil, itu adalah anakmu Tuan Rafa Aditya." Menegaskan menunjuk tepat di wajah Rafa.
Rafa terdiam, wajahnya merah padam menahan emosi. Sedangkan Cinta menahan air matanya yang hendak menetes. Hatinya hancur, namun dia sadar apa arti dirinya dalam kehidupan Rafa.
"Jangan mencoba membohongi aku Cinta. Katakan siapa yang menghamilimu." Bentak Rafa mengulangi pertanyaannya.
Cinta menegakkan pandangannya. Ditatapnya tajam wajah Rafa penuh amarah.
__ADS_1
"Aku tidak hamil. Mas tidak usah khawatir, aku tidak hamil." Menegaskan diikuti tetesan air matanya.
Rafa mengepalkan tangannya erat. Seluruh emosi nya mendadak hilang melihat air mata menetes di pipi Cinta. Ingin rasanya dia menghapus air mata itu.
'Pleas Cinta, jangan mudah menangis. Sudah aku katakan, kamu harus kuat dan tegar. Jangan menumpahkan air matamu sebelum kau buat orang yang merendahkanmu menyesal.' Ucap Rafa dalam hati.
Dengan perasaan sedih dan terluka, Cinta meninggalkan kamar itu. Ingin rasanya Rafa menahan Cinta, menariknya dalam pelukannya. Tapi ditahannya semua rasa itu. Dia ingin mengajarkan Cinta untuk menjadi lebih tegar dan tangguh.
Tadinya Rafa mengira, Cinta akan mengutuknya atau memakinya setelah menampar wajahnya. Eh ternyata Cinta malah menangis dan pasrah dengan keadaan tanpa mencoba melawan.
Begitu Cinta keluar dari kamar, dia disambut oleh Febi dengan senyum sinisnya.
"Cadarnya mana Nyonya Cinta terhormat?" Sindir Febi.
Langkahnya terhenti, dia meraba wajahnya. Ternyata benar, Cinta lupa memakai cadarnya saat keluar dari kamar.
"Apa Rafa menghukummu? Oh atau kamu di usir dari rumah ini?" Mendekati Cinta.
"Ingat Cinta sayang. Siapapun pria yang menikahimu, mereka hanya tertarik dengan wajah dan tubuhmu. Bukan karena mereka menginginkanmu untuk menjadi bidadari mereka." Sambungnya.
Febi memandang rendah Cinta. Dia tertawa mengejek dan mulai mendorong dorong bahu Cinta.
"Kecantikanmu selamanya hanya akan membawa duka. Kamu masih ingat ramalan itu?" Mendorong kening Cinta dengan telunjuknya.
Hampir saja Cinta terdorong jatuh kebelakang. Tapi sebelum itu terjadi, Cinta menggenggam erat pergelangan tangan Febi yang sejak tadi menyentuhnya.
Tatapan Cinta memerah padam. Dia menatap tajam mata Febi yang merasa heran dengan perlawanan Cinta.
__ADS_1
"Jangan pernah menyentuhku sedikitpun. Aku Ratu dirumah ini. Ingat Febi, kalau kamu masih ingin tinggal di istanaku. Jaga sikapmu." Gertaknya menegaskan.