
Tanpa Rafa sadari, ternyata seseorang sedang merekam pembicaraan dan aksi yang sedang dilakukannya dengan Jesika. Karena, ini semua jebakan yang sengaja disusun oleh Jesika.
Sebelum Jesika bertindak lebih jauh. Segera Rafa mendorong kuat tubuh Jesika ke tembok.
"Aww…" Teriak Jesika kesakitan saat punggungnya terhantuk ke tembok.
Dicengkram erat oleh rafa dagu Jesika. Sedangkan kedua tangan Jesika digenggam erat oleh Rafa, menyilang diatas kepala Jesika.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Hah?" Bentak Rafa kesal.
Jesika menatap wajah emosi Rafa dengan senyuman menggonda.
"Kenapa kamu sangat menginginkan Cinta? Jawab." Bentaknya kesal.
Lagi dan lagi Jesika hanya tersenyum. Dia merasa senang bisa membuat Rafa penasaran.
"Berhenti tersenyum, atau aku benar-benar akan membunuhmu." Menekan leher Jesika menggunakan ibu jarinya.
Jesika pun mulai merasakan dirinya sekarat. Rafa semakin menekan kuat, hingga lidah Jesika terjulur dan liurnya perlahan menetes.
"Jawab. Aakkhgggrrr…" Teriak Rafa kesal.
Rafa mengehentikan aksinya. Lalu, dia pergi begitu saja
meninggalkan Jesika yang terduduk lemah di lantai, setelah merapikan kemejanya kembali.
"Semakin kamu penasaran, semakin seru!" Seru Jesika ditengah napasnya yang terengah-engah.
Rafa segera melajukan mobilnya menuju rumah. Jalanan yang sedang dipadati kendaraan membuatnya menggerutuk kesal.
Tttiiiittttt… tttiiiiitttt...
Rafa menekan klakson mobilnya berkali-kali, untuk membuat pengendara lain menepi dan membiarkan dia melewati mereka. Dan akhirnya, Rafa tiba di rumah.
Imah langsung membuka pintu untuk majikannya.
"Nyonya Cinta dimana?" Tanya Rafa terburu2 melangkah menuju kamar bawah tangga.
"Nyonya sedang sholat Tuan." Jelas Imah.
Benar, saat Rafa membuka pintu kamarnya, Cinta sedang sholat dengan keadaan duduk. Karena, luka dikakinya masih terasa sangat sakit dan perih saat diinjakkan ke lantai.
"Apa dia sudah makan?"
"Belum Tuan."
"Kenapa belum?" Tanya Rafa dengan tatapan marah pada Imah.
"Nyonya tidak berselera untuk makan katanya." Jawab Imah gugup.
Rafa menghela napas dalam. Lalu memberi isyarat pada Imah untuk meninggalkannya.
Begitu Imah pergi, Rafa langsung duduk di samping Cinta yang baru saja menyelesaikan sholatnya.
__ADS_1
"Apa kakimu masih sakit?" Menangkup kedua belah pipi Cinta.
Cinta mengangguk heran. Apa lagi yang akan dilakukan suaminya itu, setelah mengatakan hal yang sangat mengerikan tadi sore.
"Kenapa kamu tidak mau makan?" Menatap dalam mata sendu Cinta.
"Saya tidak lapar Tuan." Ucapnya datar.
Sejenak keduanya saling bertatapan. Tidak ada yang ingin mengalihkan tatapan itu. Rafa terus menatap jauh dalam bola mata Cinta, hingga dia melihat wajahnya dibola mata itu. Sedangkan Cinta hanya menatap kosong wajah Rafa.
"Apa kamu menangis?"
"Tidak Tuan." Jawabnya yang akhirnya langsung menundukkan pandangan.
Rafa menarik wajah itu agar kembali menatapnya.
"Katakan, aku tahu kamu menangis."
"Bukankah Tuan bisa melihat semuanya melalui cctv?"
"Iya, memang. Tapi, kamar ini satu-satunya ruangan yang tidak memiliki cctv." Jelasnya.
Mata Cinta terbelalak sedikit kaget mengetahui kamar rahasia ini satu-satunya tempat tanpa cctv. Dan ada sedikit perasaan lega, karena apa yang terjadi tadi sore tidak akan pernah diketahui oleh Rafa.
"Kenapa kamu menangis?" Tanya Rafa.
'Tuan yang membuatku menangis. Tuan menyakiti hatiku. Tuan berlaku baik padaku, semata hanya karena ingin dapatkan kepuasan. Tuan sama kejamnya dengan lelaki itu.' Jawabnya dalam hati.
"Hey, aku nanya. Kenapa menangis?" Mengelus pipi Cinta lembut.
"Masih tidak mau menjawab?" Tanya Rafa dengan nada sedikit ditekankan.
"Saya sariawan Tuan. Rasanya perih di bibir saya, dan luka di kaki juga masih sakit. Karena itu saya menangis." Jelasnya berbohong.
"Benaran?" Selidik Rafa.
"Iya Tuan."
"Baiklah, kalau begitu sekarang kita makan ya!" Hendak menggendong tubuh Cinta.
"Tidak usah di gendong Tuan. Saya bisa jalan sendiri." Protes Cinta dan langsung bergeser menjauh dari Rafa.
Rafa heran. Tidak biasanya Cinta menolak. Dan penolakan Cinta membuatnya kesal.
"Ok terserah." Berdiri melangkah menuju pintu.
"Saya tunggu di meja makan. Tidak pakai lama. Dua menit, jika telat, kamu tahu kan apa yang akan terjadi." Ucapnya dingin tanpa menoleh pada Cinta.
"Baik Tuan." Jawab Cinta patuh.
Rafa segera menuju meja makan. Dan Cinta mengganti mukenanya dengan Jilbab, kemudian memakai cadar khusus untuk makan.
Segera Cinta menghampiri Rafa di meja makan. Dia duduk berhadapan langsung dengan Rafa.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi. Makan." Bentak Rafa tiba-tiba.
Cinta kaget, dan segera mengambil nasi. Tidak lupa Cinta hendak mengambilkan nasi untuk Rafa, tapi langsung ditepis oleh Rafa.
"Saya bisa mengambil sendiri. Saya punya tangan." Ucapnya dingin.
Hanya diam yang bisa Cinta lakukan. Dan dia merasa sedikit lebih lega saat Rafa memperlakukannya sewajarnya.
"Apa bedanya saya dengan si bajingan itu?" Gerutuk Rafa tiba-tiba.
Dahi Cinta mengerut mendengar rutukan Rafa.
"Tuan memaki saya? Adakah kesalahan yang saya lakukan sehingga membuat Tuan kesal?" Tanya Cinta dengan lembut.
"Tidak usah ikut campur urusan saya." Mengunyah makanan.
Untuk beberapa menit kedepan, suasana meja makan terasa sunyi, dingin dan mencekam. Hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring.
"Saya sudah selesai. Kamu kembali ke kamarmu. Malam ini aku tidur di kamar bersama Febi." Ucapnya tanpa menoleh pada Cinta.
Cinta yang sedang mengunyah makanan, terdiam. Rasannya makanan itu ingin dimuntahkannya saat mendengar ucapan Rafa.
"Ya, tenang Cinta. Wahai hati tenanglah. Kamu hanya pembantu dirumah ini." Mengelus bahunya sendiri.
Rafa sudah tiba di kamar Febi. Dan Febi yang sedang berbaring pun segera bangkit. Dia heran melihat kedatangan Rafa.
"Rafa? Kamu kenapa?" Menghampiri Rafa.
"Izinkan aku tidur di kamar ini malan ini." Ucapanya lemah.
"Ini kamarmu Rafa. Tidak perlu meminta izin."
Rafa berbaring nyaman diatas tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat lelah.
"Kamu butuh sentuhan?" Mulai menyentuh tangan Rafa.
Tidak ada respon apapun dari Rafa. Febi semakin nekat, dia mulai berbaring di samping Rafa dan mengelus wajah Rafa.
"Aku menyesal, menolak pernikahan itu. Harusnya aku yang menjadi istrimu saat ini. Bukan Cinta kampungan itu." Bisiknya pelan.
Tangannya mulai nakal menggoda Rafa. Satu persatu mulai melepas kemeja Rafa. Dan saat kancing ke tiga kemeja Rafa terbuka, mata Febi menemukan bekas lipstik tergambar jelas disana.
'Tidak mungkin Cinta melakukan hal ini. Apa Rafa punya kekasih?' Batinnya.
"Mau aku buat kamu merasa rileks?" Menyentuh perut kotak-kotak Rafa.
"Singkirkan tanganmu. Jagan bermimpi untuk membuatku rileks. Hanya Cinta yang bisa melakukannya." Ucapnya masih dengan memejamkan mata.
"Cinta Cinta Cinta." Teriak Febi kesal.
Segera saja dia pergi meninggalkan kamar itu. Febi menuju dapur, membuka kulkas, lalu meminum minuman bersoda.
'Haruskah aku memberikan Cinta pada mantan suaminya?' Batinnya.
__ADS_1
Senyum sinis mengembang di bibir Febi. Dia mulai memikirkan hal-hal untuk menyingkirkan Cinta dari kehidupan Rafa.