Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 71


__ADS_3

Hari ini benar benar menegangkan sepanjang sejarah perjalanan hidup Jack. Dia merasa seakan sedang ikut bertarung dalam film action. Dan dua wanita yang berhasil selamat dari bom hari ini, benar benar luar biasa menurutnya.


"Pelan pelan, sakit tau." Protes Tia saat Jack mengurut pergelangan kakinya.


"Ini udah paling pelan kali." Rutuknya.


Hana duduk di sofa tidak jauh dari Jack dan Tia. Dia hanya menatap dua orang itu dengan tatapan yang susah diartikan.


"Sudah berapa lama kamu kerja sama Joy? Atau jangan jangan kamu juga pura pura baik, kan? Pasti ini bagian dari rencana Joy." Celoteh Jack.


Tia mengangkat tangannya, lalu memukul kuat punggung Jack, hingga membuat Jack tersengal dan batuk. Dia tersungkur ke lantai. Sedangkan Hana masih terus memantau mereka dalam diam.


"Jangan sembarangan bicara. Aku bukan penjilat seperti itu. Aku hanya menjalankan tugas dari atasanku." Ucapnya melanjutkan mengurut sendiri pergelangan kakinya.


"Asal kamu tahu saja, semua barang bukti kejahatan Joy sudah di tangan Tuan Reyhan. Dalam waktu dekat, dia akan mengirim video kejahatan Joy pada Tuan Lim, serta pihak panti asuhan yang pernah menjadi tempat tinggal Joy. Tidak lupa, ada juga video saat Joy meretas tali rem mobil orangtua Nyonya Cinta." Tuturnya.


Penuturan itu membuat Hana dan Jack tersentak kaget. Mereka tidak menyangka Joy sangat menakutkan bahkan saat masih kecil.


"Kamu tidak berbohong, kan?" Selidik Hana.


"Kalian akan percaya saat melihat bukti itu secara langsung." Ujarnya datar.


Rasa sakit di kakinya, membuat Tia malas berdebat dan meladeni orang orang yang sejak tadi menatap curiga padanya.


Lain dengan ketiga orang itu. Di kamar, Cinta sedang duduk diam di lantai, tentunya beralaskan karpet lembut.


"Apa yang membuat kamu menjadi senekat ini, Cinta?" Tanya Rafa tegas. Dia duduk diatas sofa dengan angkuhnya.


"Aku hanya ingin mengetahui rencana Joy saja. Tidak lebih." Ucapnya menunduk sambil memilin ujung jilbabnya.

__ADS_1


"Lagi pula, kamu kan yang mengajarkan aku untuk menjadi kuat dan berani." Celotehnya lantang sambil menatap wajah Rafa tanpa takut.


Melihat itu, Rafa membulatkan matanya membalas tatapan Cinta. Hingga akhirnya Cinta kembali menunduk.


"Kamu menyalahkan aku?" Tanya Rafa.


Tidak ada jawaban. Cinta hanya diam dengan masih terus memilin ujung jilbabnya.


"Jawab Cinta? Apa kamu menyalahkan aku, dengan semua tindakan kamu yang terlalu berani dan menyembunyikannya dariku?" Ulangnya.


Cinta mengangguk pelan, lalu dia menegakkan pandangannya untuk kembali menatap Rafa.


"Aku hanya ingin membantu menyelesaikan masalah. Harusnya aku saja yang menghadapi semua masalah ini. Aku tidak mau kamu terlibat dengan semua ini. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi seperti saat itu. Kamu menghilang tiba tiba. Saat aku ketakutan kamu bahkan tidak datang..." Rutuknya mengungkapkan apa yang dirasakan dalam hatinya.


Belum selesai Cinta menggerutuk, Rafa langsung turun dari sofa. Dia memeluk erat tubuh Cinta.


"Jangan melakukan yang seperti itu lagi. Aku tidak ingin kehilangan kamu, Cinta. Tetaplah disisiku. Tetaplah bersamaku." Ucapnya penuh ketulusan.


"Rafa, aku merindukanmu." Ucapnya lalu menangis sejadi jadinya dalam pelukan Rafa.


Cinta menangis seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada orangtuanya, tapi tidak di berikan.


"Aku juga merindukanmu, sayang." Mencium puncak kepala Cinta.


Rafa tersenyum senang dan merasa gemas melihat Cinta menangis seperti itu.


"Jangan menghilang setelah membantuku. Aku takut..." Sambungnya sambil terisak.


Rafa melepaskan pelukannya, dilihatnya wajah Cinta yang penuh dengan air mata itu. Perlaha diusapnya air mata itu menggunakan tangannya denga sangat lembut dan hati hati.

__ADS_1


"Apa ingatanmu sudah kembali seutuhnya?" Tanya Rafa.


Cinta mengangguk. Tangisnya sudah berhenti, hanya tersisa sedu sedan saja.


"Maaf karena tidak bisa kembali hari itu." Mencium kening Cinta.


"Maaf karena terlalu lama untuk menemukanmu." Mencium kedua matanya.


"Maaf karena selalu marah dan kasar padamu." Mencium hidung Cinta.


"Maaf karena menjadikan kamu pengantin pengganti." Mencium kedua pipi Cinta.


"Maaf karena berpura pura tidak mengenalimu." Mencium bibir Cinta dengan sangat lembut.


"Maukah kamu memaafkan aku?" Tanya Rafa menatap mata Cinta dengan mata yang mulai berkaca kaca.


Sejenak Cinta terdiam. Dia bingung mau mengatakan apa pada lelaki yang sangat dicintainya itu.


"Maukah kamu menjadi..." Menarik kedua tangan Rafa, membawanya menyentuh perut datarnya. "Ayah dari anak kita?" Tanya Cinta ragu.


"Maksud kamu, disini ada bayiku? bayi kita?" Ulangnya dengan terus menyentuh perut Cinta dari luar bajunya.


Cinta mengangguk. Dan Rafa, dia meneteskan air matanya. Diciumnya langsung bibir Cinta dengan sangat lembut penuh kasih.


"Maaf karena pernah melarangmu untuk hamil." Ucapnya sambil menangis haru dan sedih.


Rafa berbaring di paha Cinta. Dia memeluk pinggang Cinta erat dan mengarahkan wajahnya keperut Cinta.


"Boleh aku menyentuhnya?" Tanya Rafa memohon.

__ADS_1


Cinta mengerti maksud Rafa. Dia pun mengangguk pertanda memberi izin pada Rafa untuk melakukan apapun yang dia inginkan.


__ADS_2