
Dua hari berlalu setelah kejadian di mobil saat itu. Hana kembali fokus bekerja di kantor. Sementara Jack tetap tinggal di rumah Rafa untuk menjaga Nyonya besarnya. Saat ini dia berbaring di pinggir kolam renang. Matanya menatap langit, membiarkan cahaya matahari menghangatkan tubuhnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Oh, Hana..." Membayangkan wajah Hana saat dia menciumnya hari itu.
"Aku sangat mencintainya. Tapi apa yang membuat aku mencintainya? Aku bahkan hanya beberapa kali berjumpa dengannya." Menghela napas.
Jack memperhatikan awan dilangit. Dia melukis senyum indah Hana diawan sana. Bibirnya tersenyum bahagia mengingat kenangan wajah Hana dan juga bibir lembut Hana.
"Apa ini yang orang sebut cinta. Ah, berciuman dengan orang yang dicintai pun bahkan terasa berbeda." Monolognya.
Dan diam diam, sejak tadi Cinta memperhatikan dan mendengar apa yang diucapkan Jack. Tadinya Cinta datang untuk meminta tolong Jack mengantarkan makan siang ke kantor Rafa. Tapi, langkahnya terhenti mendengar Jack berbicara sendiri.
"Jack..." Panggilnya pelan seakan baru saja tiba.
Jack segera bangun. Dia terkejut melihat kedatangan Cinta, bahkan hampir saja terpeleset ke dalam kolam.
"Nyonya?" Sahutnya.
"Hati hati Jack." Seru Cinta melangkah menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Tanya Jack sopan.
__ADS_1
Cinta tersenyum melihat wajah memerah Jack. Sepertinya Jack malu, karena tertangkap sedang mengkhayalkan Hana.
"Ini tolong antarkan makan siang ke kantor." Menyodorkan paper bag berisi kotak makan siang untuk Rafa.
"Baik Nyonya." Mengambil alih paper bag itu.
"Sekalian, kamu tolong belikan bakso bakar untukku." Ucap Cinta.
"Bakso bakar?" Ulangnya tidak yakin.
"Iya Jack. Bakso bakar. Kamu bisa membelinya di sekolah depan, mamang bakso bakarnya biasanya ada di depan sekolah itu setiap hari." Jelasnya.
"Baik Nyonya." Hendak melangkah pergi, tapi merasa ada yang aneh. Jack menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Cinta.
"Tidak apa Jack. Lagi pula kamu kan hanya pergi sebentar. Pak satpam juga ada, kan. Kamu pantau saja melalui kamera cctv." Ucap Cinta.
"Tidak bisa Nyonya. Mari ikut saya atau makanan ini tidak akan saya antarkan." Tegasnya.
Jack berani berucap tegas atas izin Rafa. Dia sudah dipesankan oleh Rafa untuk tidak meninggalkan Cinta sendirian. Jika Cinta tidak patuh, Jack boleh memaksanya selama itu tidak menyakiti pisik Cinta.
"Apa Rafa mengizinkan kamu membentakku?" Bentak Cinta tidak mau kalah.
__ADS_1
Dia merasa emosi saat tiba tiba dibentak seperti itu. Mungkin karena bawaan hamil atau mungkin Cinta memang sudah berubah menjadi wanita yang tidak suka ditindas lagi.
"Maafkan saya Nyonya." Menundukkan kepalanya menyesal.
"Sudahlah, lupakan. Sekarang juga kamu telpon Rafa. Suruh dia pulang segera." Perintahnya.
"Tapi Nyonya, tuan Rafa sangat sibuk hari ini. Ada beberapa rapat yang harus dihadirinya." Jelas Jack membujuk Cinta yang tersulut emosi.
"Lagi pula Nyonya kan ingin makan bakso bakar, jadi lebih baik nyonya ikut saja." Bujuk Jack lagi.
"Aku tidak ingin makan bakso bakar. Aku hanya ingin kamu membelinya saja." Ucapnya sambil berlalu melangkah masuk.
Jack bingung mendengar ucapan majikannya itu.
"Kenapa menyuruh membeli bakso bakar kalau bukan untuk dimakan." Rutuk Jack.
"Aku mendengarnya Jack." Teriak Cinta dari dalam rumah.
Segera Jack melangkah mengikuti majikannya yang ternyata sudah masuk ke dalam mobil.
Jack hanya bisa menggelengkan kepala. Ternyata menghadapi wanita hamil sangat memusingkan dan membingungkan.
__ADS_1
"Jadi berangkat nggak?" Teriaknya dari dalam mobil.
"Iya Nyonya." Segera masuk ke mobil.