
Pagi di Semarang.
Rafa menatap pemandangan indah diluar sana. Saat ini dia berdiri di balkon kamar hotel. Angin pagi membelai wajahnya, dan menggoyangkan rambutnya. Matanya memang terlihat menatap keindahan taman kota dibawah sana. Tapi, pikirannya hanya tertuju pada istrinya yang ditinggalkan di Jakarta.
"Harusnya aku membawamu. Oh, aku sangat merindukanmu, Cinta." Mengusak wajahnya sebentar.
"Tuan, saya sudah menghubungi pak Hanin. Dia menyambut kedatangan Tuan dengan senang hati." Ujar Jack dari dalam.
"Bagus. Kita berangkat sekarang." Ajaknya yang langsung memakai jas miliknya yang tadi tergeletak diatas kasur.
"Baik Tuan." Jack mengambil kunci mobil, lalu ikut melangkah dibelakang Rafa.
Sekitar dua puluh menit perjalanan, mereka tiba di perusahaan milik pak Hanin.
"Selamat pagi Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang resepsionis.
"Mau bertemu dengan pak Hanin." Jawab Jack.
"Sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya resepsionis itu.
"Sudah." Memberikan kartu tanda pengenal Rafa.
Setelah memeriksa kartu itu, segera resepsionis itu membukakan plang masuk.
Rafa dan Jack dituntun menuju lift, lalu setelah menekankan tombol lantai tempat pak Hanin. Resepsionis itu keluar dari lift dan membiarkan Rafa bersama Jack menuju ruangan pak Hanin.
Setibanya di ruangan itu, mereka disambut ramah oleh pak Hanin.
"Selamat datang nak Rafa. Mari duduk." Mengajak Rafa dan Jack untuk duduk mengobrol.
"Saya sangat senang saat pertama mendapat laporan tentang keinginan nak Rafa bertemu dengan saya." Ucapnya antusias.
__ADS_1
"Terimakasih pak. Saya juga ikut senang, karena bapak tidak menolak untuk bertemu saya." Ujar Rafa.
Sesaat suasana hening. Seorang OB datang membawakan tiga gelas teh panas. Dia menaruhnya diatas meja dengan sangat hati hati, kemudian langsung meninggalkan ruangan itu.
"Silahkan diminum." Mengajak mereka untuk minum.
Setelah mereguk sedikit teh panas itu, barulah mereka mulai perbincangan.
"Kedatangan saya, sebenarnya untuk menanyakan perihal saham yang pernah beberapa kali bapak tawarkan, kemudian dibatalkan?" Ucap Rafa.
"Mengenai saham itu... Sebenarnya, saya ragu. Disatu sisi, saya ingin menjual saham itu. Tapi, disisi lain saya merasa masih berhutang janji pada sahabat saya. Saya berjanji untuk tetap menjaga saham itu, sampai saya bisa memberikannya pada putri tunggalnya." Jelas pak Hanin.
"Lalu, apa alasan pak Hanin belum menyerahkan saham itu pada putrinya?" Selidik Rafa.
"Sebenarnya, saya kehilangan jejak keberadaan putrinya. 3 tahun setelah Amir dan Suci meninggal, putri mereka juga ikut menghilang. Saya hampir putus asa, karena itulah saya berpikir untuk menjual saham miliknya." Jelasnya.
"Lalu, mengapa setiap ada orang yang menawarkan harga tinggi, anda membatalkan penjualannya."
"Kalau saya membeli saham itu bagimana?" Tanya Rafa.
Pak Hanin terdiam. Dia tidak tahu harus bicara apa. Sebenarnya berat baginya untuk menyerahkan saham itu pada Rafa. Tapi, Rafa satu satunya pengusaha muda yang pernah terjun kemedan perang untuk menyelamatkan perusahaannya dan juga saham itu.
"Sungguh nak Rafa. Saya kagum dan sangat ingin bertemu dengan nak Rafa sejak lima tahun lalu, saat nak Rafa menyelamatkan perusahaan saya dari penipuan itu." Tuturnya.
Rafa mengeluarkan selembar foto daru saku jasnya. Foto usang yang sudah sangat banyak bekas lipatan. Foto itu disodorkan pada pak Hanin.
"Foto ini..." Mengambil foto usang itu.
Matanya berkaca kaca. Dia nenatap lekat foto itu dan mencoba membersihkan permukaannya agar bisa melihat jelas wajah mungil dalam foto itu.
"Dari mana nak Rafa mendapatkan foto ini?" Ucapnya heran.
__ADS_1
"Apakah nama gadis cantik dalam foto itu, Cinta Indira?" Selidik Rafa.
"Iya, benar. Dia putri Amir dan Suci. Cinta indira, gadis kecil yang selalu bermain dalam gendonganku." Tuturnya mengingat saat saat dia sering menggendong Cinta saat masih kecil.
"Dia Istri saya." Ucap Rafa.
"Hah?" Terkejut dan heran mendengar pengakuan Rafa.
"Iii... istri, nak Rafa?" Tanyanya Ragu.
Rafa mengangguk sambil tersenyum. Hal itu membuat Hanin menangis terisak dan langsung memeluk Rafa.
"Oh syukurlah dia masih selamat. Terimakasih nak Rafa, karena menjaganya dengan baik." Ucapnya terisak.
"Tolong pertemukan saya dengan Cinta. Saya sangat merindukannya." Melepas pelukannya.
"Saya akan membawa Cinta menemui bapak. Tapi, saat ini ada beberapa hal yang harus saya selesaikan untuk membuat Cinta lebih aman." Jelasnya.
"Lebih aman, maksudnya?" Tidak mengerti.
"Banyak hal yang terjadi pada Cinta sejak kehilangan kedua orangtuanya." Tutur Rafa.
"Nak Rafa, Amir mempunyai perusahaan di Kalimantan. Perusahaan itu, saat ini sedang dilelang oleh Johny Lim. 7 tahun lalu, dia mengambil alih perusahaan itu dengan mengakui dirinya mendapat amanah dari Cinta langsung. Saat itu saya tidak percaya sama sekali, tapi dia punya berkas yang ditanda tangani Cinta. Saat ini, Johny Lim secara tiba tiba melelang perusahaan itu. Saya tidak punya cukup uang untuk membelinya. Karena itulah, saya merencanakan untuk menjual saham ini, sebagai penembus perusahaan itu." Jelasnya panjang lebar.
"Johny Lim?" Ucap Rafa.
"Iya, Johny Lim. Dia yang mengusai perusahaan di Kalimantan." Sambungnya.
"Saya butuh bantuan pak Hanin. Johny Lim sangat licik pak." Ucap Rafa.
"Saya akan membantu nak Rafa. Saya akan membantu kalian. Cinta harus mendapatkan semua miliknya. Saya sudah menjanjikan itu pada kedua orangtuanya."
__ADS_1
Rafa merasa lega. Ternyata, Cinta masih punya banyak peninggalan dari kedua orangtuanya. Terlebih, pak Hanin. Rafa yakin, Cinta akan sangat bahagia masih memiliki pak Hanin yang sangat menyayanginya.