
Jesika diam diam mengobrak abrik kamar Tuan bertopeng. Dia mencari sesuatu yang berhubungan dengan Cinta. Jesika benar benar penasaran kenapa Tuan bertopengnya itu sangat menginginkan Cinta.
Sementara itu Tuan bertopengnya itu sudah tiba di rumah Rafa. Suasana rumah sangat sejuk. Beberapa Maid berseragam sedang mengerjakan pekerjaan mereka masing masing.
"Rafa tidak dirumah saat siang hari Tuan." Jelas sopirnya.
"Justru kedatangan kita sangat tepat." Membuka topengnya.
"Tuan yakin ingin memperlihatkan wajah Tuan pada Cinta?"
"Sangat yakin. Cinta akan langsung berlari dalam pelukanku saat melihat wajahku." Melangkah keluar dari mobil.
Begitu Tuan itu menginjakkan kakinya di depan pagar, semua mata Maid menatap kagum padanya. Mereka seakan melihat seorang pangeran Arab. Rambut yang sedikit panjang itu tertiup angin. Tubuh tinggi berbalut stelan jas menambah keindahan pada pria itu.
"Mencari siapa Tuan?" Mila membuka pintu gerbang.
"Nyonya Cinta."
Sebentar Mila melirik kearah Maid yang lain. Lalu dia melirik Tuan gagah itu sekali lagi.
"Apa Tuan sudah membuat janji?" Tanya Mila.
Pertanyaan itu membuat pria itu terkekeh geli. 'Rupanya kamu sudah menjadi Nyonya besar, sayang.' Batinnya.
"Katakan saja pada Nyonya kalian, seorang pria bernama Joy datang menemuinya." Ucap pria bernama Joy itu santai.
__ADS_1
"Baik, silahkan masuk Tuan." Menuntun Joy memasuki perkarangan rumah.
Begitu tiba di teras. Mila memintanya menunggu sebentar. Lalu dia berlari menuju kamar Febi.
"Nyonya ada yang ingin menemui Nyonya Cinta." Ucapnya terengah engah.
"Siapa?" Merapikan make up nya.
"Katanya namanya Joy."
Mendengar nama itu, Febi langsung bangkit dari duduknya. Dia langsung melangkah menemui tamu itu. Mila yang kebingungan dengan respon Nyonya nya itu ikut mengekor saja di belakangnya.
"Joy?" Panggil Febi pada Tuan muda bertopeng itu.
Saat membalik tubuhnya, matanya terbelalak kaget melihat siapa yang memanggil namanya.
"Aku? Ini rumahku. Ya, tepatnya rumah suamiku." Tuturnya bangga.
"Suami?" Ulang Joy heran.
"Iya. Rafa Aditya suamiku." Tegasnya.
Joy terkekeh heran dan bingung dengan situasi ini. Dia datang untuk menemui Cinta, malah bertemu dengan Febi.
"Lalu, mana Cinta?" Bertanya to the point.
__ADS_1
"Cinta? Kamu kesini menanyakan Cinta?" Sahut Febi.
"Ya, aku kesini mau menjemput Cinta."
Sebentar Febi berpikir. Ada keinginan untuk menyerahkan Cinta pada Joy, agar dia bisa menjadi Nyonya seutuhnya. Tapi, disisi lain dia tidak ingin mempertemukan Cinta dengan Joy.
"Sayangnya kamu salah alamat." Kilahnya.
"Salah alamat?"
"Ya, Cinta tidak tinggal disini. Dia itu menikahi Pria kaya raya dan hanya menjadi simpanan saja." Jelasnya berbohong.
"Siapa suaminya?" Tanya Joy kurang yakin dengan penuturan Febi tentang Cinta.
"Dia di Bali. Setelah menikah, dia dibawa ke Bali oleh suaminya." Ucapnya begitu lancar berbohong.
"Tidak mungkin. Cepat katakan dimana Cinta. Aku akan membayarmu berapapun."
Mendengar tawaran tentang uang. Febi sangat tertarik. Terlebih saat ini dia memang membutuhkan banyak uang untuk membungkam mukut ayah dari bayi dalam kandungannya.
"Berapapun?" Ulang Febi.
"Iya berapapun kamu mau. Asal kamu beritahu aku dimana alamat Cinta." Menegaskan lagi ucapannya.
Sebentar Febi berpikir keras. Antara memberitahukan alamat palsu Cinta atau menceritakan sejujurnya tentang Cinta pada Joy. Tapi, Febi tidak rela kalau Joy membawa Cinta pergi dari rumah ini.
__ADS_1
"Katakan Febi. Dimana Cinta saat ini?" Tanya Joy sedikit memaksa.
Kesabarannya hampir habis. Dia mulai muak pada basa basi Febi yang mencoba menyembunyikan Cinta darinya.