
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Cinta masih sangat lelap dalam pelukan Rafa.
"Tumben kamu masih tidur jam segini?" Menatap lembut wajah Cinta yang sangat luar biasa indahnya itu.
"Eeuunngg..." Melepaskan diri dari pelukan Rafa.
"Jangan bersuara seperti itu dipagi hari, sayang." Bisik Rafa ditelinga Cinta.
"Aku tidak dalam kondisi yang baik, Mas. Aku kedatangan tamu bulanan." Jelasnya dengan suara khas bangun tidur dan dengan mata yang masih terpejam.
"Tapi dia sudah bangun duluan sayang." Goda Rafa menciumi ceruk leher Cinta yang akhirnya membuat Cinta mengeluh karena merasa geli.
"Gendong ke kamar mandi." Rengeknya manja.
"Jangan menantangku Cinta." Tegas Rafa geram.
"Aku tidak menantang ataupun menggoda. Aku hanya menawarkan cara lain untuk membuat mas lebih rileks." Ucapnya dengan masih memejamkan matanya.
Mata Rafa berkedip kedip, dia bingung sekaligus heran. Betapa beraninya Cinta bicara hal seperti itu pagi pagi begini dengannya.
"Siapa yang mengajari kamu bicara seperti itu?" Selidik Rafa.
Sebentar Cinta menghela napas, lalu kembali masuk dalam pelukan suaminya itu.
"Mas tau, saat aku kedatangan tamu bulanan. Mas boleh melakukan apapun padaku, kecuali 'itu' dan tentunya selama aku menyetujuinya. Aku sebagai istri, akan melakukan apapun yang aku bisa untuk menyenangkan suamiku. Mas adaah suamiku, aku adalah istrimu." Jelasnya tanpa ragu dan malu.
Malah saat ini Rafa yang merasa malu mendengar semua penjelasan Cinta tentang hal hal seperti itu. Wajahnya merona merah dan terasa sangat panas. Rafa merasa tersipu malu. Untungnya Cinta tidak melihat wajahnya saat ini.
"Cepatlah, gendong aku ke kamar mandi!" Menggoda Rafa.
"Atau mas mau disini saja?" Masuk kedalam selimut.
"Sayang, sayang... tunggu. Ok, mas gendong ke kamar mandi saja, ya." Segera bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1
"Eung... gendong." Merentangkan tangannya meminta digendong.
"Aku mengajarkan kamu untuk menjadi wanita tegar, bukan wanita penggoda." Menarik tubuh Cinta masuk dalam gendongannya.
"Aku sudah menjadi wanita tegar kok. Tidak ada lagi yang berani membantahku, mengejekku dan membentakku. Kecuali, Mas." Mencubit hidung Rafa.
"Sakit sayang." Protesnya.
Cinta hanya tersenyum senang sambil melepas tangannya dari hidung Rafa.
"Jangan pernah merayu pria lain seperti ini." Menegaskan.
"Mas satu satunya yang aku inginkan untuk tempat aku bermanja." Membenamkan wajahnya didada bidang Rafa yang tanpa sehelai benangpun menutupinya.
"Kamu suka bermanja padaku?" Tanya Rafa datar.
"Sangat suka. Tapi, aku benci saat mas membentakku." Rengeknya.
"Aku akan ke luar kota selama tiga hari." Ucap Rafa tiba tiba.
Cinta tidak merespon apapun. Dia hanya menyibukkan diri dengan menuangkan sampo keatas kepala Rafa.
"Aku akan berangkat nanti malam." Sambungnya.
Masih tidak ada respon dari Cinta. Hal itu membuat Rafa heran dan mulai emosi.
"Tidak bisakah aku ikut?" Tanya Cinta ragu.
Rafa paham saat ini, kenapa Cinta tidak meresponnya. Rupanya Cinta tidak ingin Rafa pergi meski hanya sebentar saja.
"Sayang tetap di rumah. Tidak boleh ikut untuk saat ini." Rafa menegaskan.
Raut wajah Cinta berubah menjadi sedih. Dia kehilangan moodnya dipagi hari. Terlebih tamu bulanan memang membuat bertambah emosi.
__ADS_1
"Kenapa dengan ekspresi seperti itu?" Menarik wajah Cinta agar memghadap padanya.
Dia menggeleng erat. Mencoba menutupi rasa sedihnya.
"Cium bibirku, maka aku akan membawa kamu ikut bersamaku kemanapun." Tantang Rafa.
Dia berani menantang Cinta seperti itu, karena dia yakin Cinta tidak akan melakukan itu. Namun, tebakannya salah. Cinta langsung melakukan perintah Rafa sat itu juga. Bahkan bukan hanya sekedar ciuman tapi lebih dari itu.
Rafa benar benar terkejut dengan perlakuan Cinta padanya. Kenapa semakin hari Cinta semakin membahayakannya.
"Sayang, cukup. Ingat kamu sedang kedatangan bu..." Ucapannya terhenti karena Cinta menciumnya lagi.
Rafa pasrah. Dia akhirnya menuruti keinginan untuk saling bermesraan dipagi hari. Namun tetap seperti yang Cinta katakan, mereka hanya tidak boleh melakukan 'itu'.
"Bolehkah aku ikut?" Tanya Cinta terbata bata.
Rafa tersenyum menatap wajah Cinta, lalu dia mengangguk pertanda memberi izin.
"Terimakasih suamiku." Ucapnya senang dengan kembali memeluk tubuh Rafa.
Meninggalkan pasangan yang sedang bermesraan itu. Di apartemennya, Joy sedang menyiksa Jesika. Kedua suruhannya berhasil membawa Jesika kembali padanya hanya dalam waktu kurang dari lima jam saja.
"Ampun Tuan. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Rengek Jesika tersedu sedu.
"Tidak ada ampun untukmu. Sebelum kamu pastikan Rafa akan bertekuk lutut dihadapanku." Menegaskan tanpa menghentikan hukumannya pada Jesika.
"Ingat Jesika. Kamu tidak diizinkan kemanapun. Hanya tinggal disini dan layani setiap kali aku membutuhkanmu." Bisiknya sambil sedikit mencekik leher Jesika.
"Ampun Tuan. Maafkan aku. Aku tidak akan mencob kabur lagi. Aku akan membantu tuan merebut Cinta dari Rafa dan membuatnya bertekuk lutut dihadapan Tuan." Ucapnya sambil terisak.
"Aku akan membebaskanmu, saat Cinta sudah berada disini." Kembali menghukum Jesika.
Joy tidak peduli dengan keadaan Jesika. Selama Jesika masih mengeluarkan suara, Joy tidak akan berhenti menghukumnya.
__ADS_1