Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 20


__ADS_3

Mila kebingungan saat membersihkan kamar Cinta, dia tidak menemukan keberadaan Cinta di kamar itu. Rencananya untuk berpura pura baik pada Cinta terpaksa gagal.


Pada saat itu, Febi masuk kedalam kamar yang sama. Dia memeriksa setiap sudut kamar milik Cinta.


"Kamar yang sangat indah. Sayang sekali kamar seindah ini harus dihuni oleh wanita kampungan itu." Memberantakkan sprei dan bantal di tempat tidur Cinta.


"Mila, biarkan kamar ini berantakan." Meninggalkan kamar Cinta dengan langkah santai sambil bersiul.


Sementara itu, di kediaman mewah pria bertopeng. Jesika sedang berlutut meminta maaf karena masih belum bisa membawa Cinta kehadapan pria bertopeng itu.


"Sebutkan siapa nama mantan atasanmu itu. Biar aku selesaikan sendiri semuanya."


Tanpa ragu Jesika menyebutkan nama Rafa dan juga lengkap dengan alamatnya.


"Kamu yakin pria itu yang menikahi Cinta?"


"Iya Tuan. Saat ini dia mengurung Cinta di rumahnya yang dilengkapi dengan cctv." Jelasnya.


Pria bertopeng itu terdiam sejenak sebelum kemudian dia tertawa mengejek. Jesika heran melihat Tuan bertopeng nya itu tertawa seperti itu.


"Sepertinya akan seru, selamat datang Rafa. Aku pastikan Cinta akan meninggalkanmu secara suka rela." Gumamnya.


"Tuan mengenal Rafa?" Memberanikan diri untuk bertanya.


"Sekedar tau dan pernah bertemu." Mendekati Jesika. Dia ikut berlutut tepat dihadapan Jesika.


"Aku pastikan, kamu akan ikut tertawa. Ini bukan lagi cerita kriminal, tapi berubah menjadi komedi." Tertawa terbahak-bahak.


Jesika pun ikut tertawa, meski sebenarnya dia tidak tahu apa yang harus ditertawakan.


Di perusahaan. Rafa sedang membalut kaki Cinta dengan perban di ruangan kantornya.


Tok… tok…


Seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk." Sahutnya tanpa menoleh, karena saat ini Rafa sedang fokus membalut pergelangan kaki Cinta.


"Maaf mengganggu Tuan. Saya membawakan file yang tuan minta." Melangkah mendekat kearah Rafa dan Cinta.


"Taruh diatas meja."


"Baik Tuan." Meletakkan file file itu diatas meja kerja Rafa dengan sangat hati hati tanpa mengganggu barang lainnya.


"Saya permisi Tuan." Melangkah kearah pintu.


"Tunggu. Saya ada satu tugas…"


Wanita berusia akhir dua puluhan itu menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada Rafa.


"Kamu antarkan Nyonya Cinta ketempat tempat indah, seperti taman, bioskop, mall, salon atau apapun yang dia inginkan." Perintah Rafa.


Cinta terheran heran mendengar perintah Rafa barusan.

__ADS_1


"Baik Tuan." Mendekati Cinta yang duduk di sofa dengan pergelangan kaki berbalut perban.


"Nyonya sedang cidera. Jadi, bawa dia dengan menggunakan kursi roda. Kursinya ada di bagasi mobil. Ini kuncinya dan ini black card gunakan sesuai kebutuhan Nyonya." Menyerahkan semua keperluan kepada asistennya itu.


Lagi dan lagi Cinta terdiam bingung, heran dan tidak mengerti kenapa Rafa mengizinkannya keluar dengan orang lain.


"Ingat, kaki Nyonya cidera. Jadi kamu harus memperlakukannya dengan hati hati." Menggendong tubuh Cinta menuju lift.


'Kenapa membawa aku ke ruangannya kalau akhirnya di suruh turun lagi. Gak capek apa gendong aku?' Batinnya.


Mata Cinta menatap wajah Rafa. Baru kali ini Cinta bisa menatap wajah itu sedekat dan sejelas ini. Tanganya melingkar semakin erat di leher Rafa.


'Kenapa hari ini Tuan menjadi dingin lagi. Padahal baru saja kemarin aku bisa memanjakannya.' Ucapnya dalam hati.


Ting…


Pintu lift terbuka. Kini mereka tiba di lobi. Mobil Rafa sudah siap terparkir di depan.


"Nikmati harimu. Ingat jangan membantah dan harus hati hati." Mendudukkan Cinta ke dalam mobil. Tidak lupa Rafa juga memasangkan seatbelt.


Cinta hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu, sebelum menutup pintu mobil, Rafa mencium kening Cinta yang membuatnya memejamkan mata dan berpegangan erat pada seatbeltnya.


Pintu mobil sudah tertutup. Cinta masih memejamkan matanya.


"Nyonya sudah siap?" Tanya wanita yang kini siap menjadi supir pribadi Cinta.


Sontak saja Cinta membuka matanya saat mendengar suara itu.


"Iya, saya siap." Tersenyum malu.


"Nama mbak siapa?" Memberanikan diri untuk bertanya.


"Saya Hana, Nyonya." Jawabnya sambil tersenyum ramah.


"Jangan panggil Nyonya. Panggil saja Cinta."


"Tidak bisa, Nyonya. Kalau Tuan tahu, saya bisa di pecat." Jelasnya.


"Dia tidak akan tahu. Aku janji tidak akan melaporkan."


"Saya percaya sama Nyonya. Tapi, benda ini tidak bisa berbohong dan menyembunyikan sesuatu." Menunjuk kamera kecil di setiap sudut mobil.


"Dimobilpun ada cctv? Ya ampun. Apa Tuan Rafa psycho?" Rutuknya sangat pelan.


Hana hanya tersenyum mendengar celotehan majikannya itu.


"Kita kemana dulu, Nyonya?"


"Kamu suka perawatan?"


"Tidak terlalu, tapi jika ada waktu senggang, saya melakukannya." Jelasnya.


"Baiklah, bagaimana kalau kita ke spa." Ucapnya.

__ADS_1


"Baik Nyonya." Melajukan mobil menuju spa seperti yang disarankan majikannya.


'Spa? Sesekali boleh lah berlagak selayaknya orang kaya. Tapi… aku belum pernah ke spa sekalipun. Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan dan memalukan?' Ujarnya dalam hati.


"Ada apa Nyonya?" Khawatir melihat tingkah Cinta yang membuat ekspresi aneh.


"Kamu pernah ke spa?" Tanya Cinta ragu.


"Pernah, kenapa Nyonya."


"Aku belum pernah sekalipun." Mengakui dengan malu malu.


Hana tersenyum, majikannya ini terlalu polos dan menggemaskan.


"Sudah berapa lama kamu bekerja dengan Tuan Rafa?"


"Lima tahun, kurang lebih."


"Mmh, berarti kamu selalu diperintahkan untuk membawa kekasih kekasihnya jalan jalan?"


"Tidak pernah. Ini pertama kalinya saya diperintahkan menjadi supir pribadi." Jelasnya.


"Kamu bohong, kan? Kamu berbohong karena cctv cctv ini, kan?" Menunjuk semua cctv itu.


"Tidak Nyonya. Saya menjawab yang sebenarnya."


"Benarkah?"


Hana mengangguk yakin dan tersenyum.


"Apakah Tuan Rafa seorang playboy?" Tanya Cinta ragu ragu.


"Tidak sama sekali. Hanya saja, dulu Tuan seperti memiliki hubungan khusus dengan Jesika, mantan asistennya." Jawab Hana menuturkan apa yang diketahuinya.


"Jesika?" Ulangnya.


"Iya Nyonya. Jesika yang dulu saat pertama Tuan membawa Nyonya ke kantor…"


"Iya aku tahu." Ucapnya lesu.


Entah mengapa hati Cinta terasa sakit mengingat wajah Jesika yang saat itu tersenyum mengejek padanya.


"Apakah ada wanita lain yang kamu tahu dekat dengan Tuan?" Sambungnya kembali bertanya.


"Tidak Nyonya. Tuan terlalu sibuk untuk melakukan hal hal seperti itu." Jelasnya.


Senyum samar terlihat dari sudut mata Cinta. Tapi, kerutan dikeningnya menunjukkan dirinya sedang merasa tidak nyaman saat ini. Hana yang dulunya pernah kuliah psikolog bisa menebak perasaan Cinta saat ini hanya melalui mata dan keningnya.


"Nyonya baik baik saja?" Bertanya sekedar basa basi, karena Hana tahu saat ini majikannya itu sedang tidak baik baik saja.


"Ya, aku baik baik saja." Kilahnya dengan membuat senyum manis.


'Kenapa aku sedih. Bukankah aku selalu mengingatkan hatiku untuk tidak terus berharap semakin jauh pada Seorang Rafa.' Batinnya.

__ADS_1


Hana menatap Cinta melalui cermin di depannya. Dia mulai merasa tidak enak setelah menceritakan tentang Jesika. Ya, Hana tau, ketidak nyamanan itu berawal dari ceritanya tentang Jesika.


'Maafkan saya Nyonya.' Ucapnya dalam hati.


__ADS_2