Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 9


__ADS_3

Saat tiba di rumah, Rafa langsung membersihkan diri. Lalu dia mampir ke kamar Cinta.


Dilihatnya Cinta sudah tertidur pulas. Di pandanginya wajah Cinta yang sedang terlelap itu. Tangannya mulai membelai wajah Cinta.


"Selamat malam, sayang." Mengecup kening Cinta.


Lalu, Rafa kembali ke kamarnya. Tanpa disadarinya Cinta masih belum tertidur. Dia hanya sekedar memejamkan matanya untuk menyembunyikan perasaan sedih di hatinya.


Di kamarnya, Rafa tidak tidur. Dia merasa sangat gelisah.


"Hah, haruskah aku tidur disamping wanita kampung itu seperti kemarin malam?" Monolognya.


Rafa menggelengkan kepalanya, lalu dia kembali berbaring di tempat tidurnya. Anehnya, Rafa masih merasa tidak nyaman. Padahal sebelumnya, kamar ini, tempat tidur ini adalah tempat ternyaman untuknya.


"Wahai mata terpejamlah..." Mencoba memantra matanya agar segera terpejam.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam…" Menghitung dengan mata terpejam berharap bisa tertidur pulas.


"Seratus dua puluh, seratus dua satu, seratus sembilan belas…" Sejenak Rafa berhenti karena merasa ada yang aneh.


"Aahh, kenapa berulang-ulang." Teriaknya kesal.


Akhir Rafa memutuskan untuk kembali ke kamar Cinta. Dan Cinta sedang mengaji, terkejut saat tiba-tiba pintu kamarnya kembali terbuka. Tapi, dia memilih untuk tetap tenang dan melanjutkan bacaannya.


Perlahan Rafa mendekati Cinta yang duduk bersandar di tempat tidurnya sambil melantunkan ayat suci Al-Qur'an.


"Lanjutkan bacaannya. Jangan berhenti sebelum aku tertidur." Perintah Rafa.


Dia menyeludupkan kepalanya diatas paha Cinta yang mana kakinya berunjur lurus. Cinta merasa tidak nyaman saat kepala Rafa bergerak di atas pahanya.


"Sangat hangat dan nyaman." Ucap Rafa yang kini menghadapkan wajahnya keperut Cinta.


"Geli…" Lirih Cinta, saat dirasa Rafa menduselkan hidungnya di area perut Cinta.


"Jangan protes. Lanjutkan bacaannya. Jangan ganggu tidurku, aku sangat lelah hari ini." Tegasnya.


Cinta menahan napasnya beberapa detik, kemudian mulai bernapas dengan sangat perlahan dan berusaha agar tidak terdengar gaduh ditelinga Rafa.


Lalu, Cinta melanjutkan bacaannya. Agak terbata-bata Cinta membacanya, karena dia menahan rasa geli diperutnya. Rafa mulai mengelus dan mencium perut Cinta dari luar piyamanya.


"Apakah nanti akan ada bayi disini?" Tanya Rafa yang menegakkan kepalanya untuk menatap Cinta.


Cinta terdiam, kemudian menyudahi bacaannya. Dia benar-benar merasa sudah tidak bisa menahan rasa geli. Terlebih Rafa mulai menyeludupkan jarinya kedalam piyama Cinta. Dan sebelum itu terjadi, Cinta mengakhiri bacaannya, lalu segera menaruh kembali Qur'an keatas nakas.


"Geli, hentikan…" Protes Cinta mencoba menyingkirkan tangan Rafa yang sudah berhasil masuk didalam piyamanya.


"Perut kamu sangat hangat, menyenangkan…" Memasukkan kepalanya kedalam baju Cinta.


"Jangan, apa yang Tuan lakuakan?" Protes Cinta.

__ADS_1


Rafa tidak menghentikan tindakannya. Dia malah menciumi perut Cinta, dan juga menggigitnya.


"Jangan panggil Tuan. Panggil aku, sayang." Teriaknya marah sambil menarik paksa piyama Cinta hingga semua kancingnya terlepas.


Cinta kaget, dia berusaha menutupi tubuhnya dengan jilbabnya yang memang menjuntai panjang.


"Jangan melawanku, Cinta. Kamu milikku seutuhnya. Semua yang ada padamu adalah milikku." Menyingkirkan untaian jilbab yanng menutupi tubuh bagian atas Cinta.


Dengan cepat tangan Rafa mengunci tangan Cinta diatas kepalanya. Cinta ketakutan, dia terisak.


"Ampun, jangan lakukan lagi. Itu sangat menyakitkan." Isaknya mengiba.


Mendengar rintihan Cinta, Rafa pun akhirnya berhenti. Ditariknya selimut, lalu menutupi tubuhnya dan Cinta. Diraihnya Cinta dalam dekapannya.


"Tidurlah. Izinkan aku tidur seperti ini." Ucap Rafa sambil memberi kecupan dipuncak kepala Cinta.


Sementara itu di tempat yang berbeda. Tepatnya di kediaman Satria. Mereka dikagetkan dengan kepulangan Febi yang pulang dengan keadaan sangat memprihatinkan.


"Sayang, kamu kemana saja?" Memeluk erat tubuh Febi yang sangat kurus dan wajah yang pucat.


"Apa yang terjadi, sayang?" Tanya Satria yang ikut memeluk putri dan istrinya itu.


Febi tidak menjawab, dia hanya menangis tersedu-sedu. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya semenjak kepergiannya tepat di hari pernikahannya.


"Anak Mama mandi dulu, ya sayang." Mengusap air mata di seluruh wajah Febi.


Hanya anggukan yang terlihat darinya.


Fita membantu Febi membersihkan diri. Sementara Satria mulai memikirkan cara, bagaimana kalau Febi kembali menikah dengan Rafa.


"Telpon Cinta. Ya, aku harus memberitahu Cinta tentang kepulangan Febi." Ucapnya.


Segera saja Satria menghubungi Cinta.


Driittt… drrriittt…


Suara ponsel Cinta mengganggu tidur Rafa, begitu juga Cinta. Dengan malas Cinta mencoba meraih ponselnya. Namun, tangan Rafa lebih dulu mendapatkan ponselnya.


"Halo." Jawab Rafa.


Cinta teridiam dalam pelukan Rafa. Berharap tidak terjadi apa-apa. Karena selalunya saat Cinta mendapat telepon di larut malam, memberitahukan tentang berita buruk.


"Pakde Satria?" Tanya Rafa sambil menatap mata Cinta yang juga menatap padanya.


"Ada apa pakde menelpon larut malam begini?"


Cinta mendekatkan kepalanya kearah ponselnya, hingga dia menjadikan dada Rafa sebagai bantalan yang menanggung beban berat kepalanya.


"Apa? Febi sudah kembali?" Sahut Rafa dengan nada sedikit ditekan.

__ADS_1


Mata Cinta terbelalak kaget. Hatinya merasa tidak nyaman. Segera dia melepaskan diri dari pelukan suaminya. Cinta menggeser posisi berbaringnya, dia juga membelakangi Rafa.


"Bagaiamana keadaannya, pakde?" Tanya Rafa serius.


Rafa bangkit dari tempat tidurnya. Dia melangkah menuju luar kamar. Seakan tidak ingin Cinta mendengar pembicaraan itu.


Begitu Rafa keluar, Cinta menangis. Dia menyembunyikan seluruh tubuhnya didalam selimut. Air matanya terus menetes. Cinta mulai memikirkan banyak hal.


Seperti, apakah Rafa akan menceraikannya dan menjadikan Febi sebagai istrinya. Atau, apakah Rafa akan segera mengusirnya dari rumah malam ini juga.


Semua pikiran itu terus berputar di kepalanya. Air matanya terus saja menetes tidak lagi bisa dibendung.


Suara langkah kaki Rafa terdengar semakin mendekat. Segera Cinta membersihkan air matanya. Dia langsung berpura-pura tidur.


Rafa meletakkan kembali ponsel Cinta di atas nakas. Lalu dia kembali berbaring ditempat tidur. Diliriknya Cinta yang membelakanginya.


"Cinta, kemarilah." Panggilnya sambil menarik perlahan tubuh Cinta.


Tapi, Cinta tidak bergerak sama sekali. Dia mempertahankan dirinya untuk tetap berbaring seperti itu. Rafa yang mengetahui hal itu, malah mendekatkan tubuhnya pada Cinta. Dipeluknya erat pinggang Cinta.


"Apa kamu menangis?" Tanya Rafa.


Tidak ada jawaban.


"Jangan membuatku marah Cinta. Aku sangat lelah, aku tidak punya waktu untuk meladeni tangisanmu." Tegasnya.


"Kenapa Tuan memperlakukan aku seperti ini!" Seru Cinta pada akhirnya.


"Seperti apa?"


"Perlakuan Tuan yang seperti ini membuatku berpikir Tuan sudah bisa menerimaku."


"Apa yang kau ucapkan sebenarnya, hah?" Menarik paksa tubuh Cinta hingga menghadap padanya.


Dilihatnya air mata di pipi Cinta. Matanya terus memejam erat. Bibirnya terlihat pucat dan gemetar.


"Apa maksudmu? Aku bukan lelaki peka yang bisa dengan mudah memahami hati perempuan." Ucapnya sambil menghapus air mata di wajah Cinta.


"Katakan, Cinta. Apa yang membuatmu bersedih?" Tanya Rafa sangat lembut.


Perlahan Cinta membuka matanya, dengan ragu ditatapnya wajah Rafa yang juga menatap lembut padanya.


"Tuan bilang akan sarapan kalau saya yang memasaknya. Tapi, pagi tadi Tuan bahkan tidak menyentuh sedikitpun nasi goreng buatan saya." Jelasnya terputus-putus sambil terisak dalam tangisnya.


Rafa tersenyum, diraihnya tubuh Cinta dalam dekapannya. Diciumnya puncak kepala Cinta dengan lembut.


"Jangan membuat saya berani berharap pada Tuan. Saya tahu posisi saya Tuan." Sambungnya.


"Sampai kapanpun kamu adalah wanita kampung milikku selamanya." Bisik Rafa.

__ADS_1


Cinta tidak mengerti apa yang dimaksud Rafa. Sehingga dia kembali menangis dalam dekapan Rafa.


"Suatu saat nanti, aku akan mengajarkanmu bagaimana membuatku memakan sarapan darimu. Saat ini, hanya lakukan apapun yang kamu suka dan patuhi semua yang aku perintahkan." Sambung Rafa berbisik ditelinga Cinta.


__ADS_2