
"Allah..." Teriak Cinta sangat lantang. Napasnya tidak beraturan, keringat dingin memenuhi hampir seluruh wajahnya.
"Apa yang terjadi?" Ucapnya bingung sambil melihat sekeliling.
"Apakah aku bermimpi?" Mendapati dirinya berbaring dilantai dengan keadaan kepala yang pusing, serta perut yang terasa mual.
"Mas Rafa, aku harus menelponnya. Mimpi itu terasa sangat nyata dan sangat menakutkan." Mencoba bangkit dari posisinya, lalu merangkak untuk mengambil phonselnya diatas meja ruang tengah.
Cinta segera menelpon Rafa dan langsung menceritakan keadaannya serta mimpinya itu pada Rafa. Hal itu membuat Rafa sangat khawatir sehingga dia memutuskan untuk langsung pulang dan meninggalkan semua pekerjaannya.
Sementara itu, dirumahnya Hana dan Jack sedang bermain bersama putra kecil mereka. Berhubung Jack mendapat hari libur dari Rafa, jadi dia menggunakannya untuk bermain bersama Jaya, putra pertamanya yang kini sudah berusia sebelas bulan.
"Mas, apa kita akan seharian dirumah?" Tanya Hana yang mulai bosan. Ya, sebenarnya dia berharap Jack akan membawanya dan Jaya untuk keliling kota, atau ke Mall dan jika mungkin nonton bioskop.
"Mas lebih suka menghabiskan waktu seharian dirumah bermain dengan Jaya. Lagi pula diluar sangat panas. Jaya nggak boleh kena panas ya sayang... cup cup... mmhhhuaaahh." Cubit Jack dipipi Jaya.
Dia benar benar gemas pada bayinya itu. Sementara Hana memasang wajah cemberut. Dia benar benar bosan. Sejak Jaya lahir sampai sekarang, Jack masih belum mengizinkannya untuk bermain keluar rumah. Meski pernah beberapa kali diajak main ke rumah Cinta, tapi sama saja, hanya bermain di dalam rumah.
"Sayang angkat tuh, ada yang manggil. Siapa tahu penting." Tunjuk Jack pada ponselnya yang sejak tadi berdering.
Dengan malas Hana mengambil ponsel Jack yang tergeletak dilantai tak jauh darinya. Tanpa melihat siapa yang memanggil, Hana langsung menjawabnya.
"Ya halo."
__ADS_1
"Hana, apa Jack ada di rumah?" Tanya Rafa sipenelpon.
"Tuan Rafa! Ya, Jack ada di rumah. Ada apa tuan?" Jawab Hana sedikit ragu.
"Cinta. Tolong lihat Cinta, dia sedang tidak sehat katanya. Aku sekarang dalam perjalanan pulang. Tapi akan memakan waktu yang lama untuk sampai."
"O begitu. Baiklah, kami segera berangkat." Jawab Hana.
Tanpa basa basi lagi, Hana pun bersiap. Lalu dengan Jack yang masih kebingungan, mereka pun bergegegas menuju rumah Cinta.
"Apa yang terjadi, sayang?" Tanya Jack masih bingung.
"Kita ke rumah Cinta sekarang. Katanya dia sedang sakit." Tutur Hana sambil membenarkan gendongan pada tubuh Jaya.
Sedangkan Cinta, saat ini sedang terbaring lemah disofa ruang tengah. Dia benar benar merasa tubuhnya seakan roboh. Padahal dia tidak begitu banyak melakukan kegiatan. "Ah mungkin karena mimpi itu. Mimpi yang terasa sangat nyata. Rasanya sangat menakutkan." Monolognya sambil mengelus perutnya tanpa sadar.
"Cinta... Nyonya Cinta." Suara Hana terdengar dari dalam oleh Cinta. Dengan sisa tenaganya, diapun melangkah menuju pintu untuk membukakan pintu.
"Hana." Sambutnya tersenyum.
Hana dan Jack khawatir melihat wajah Cinta yang sangat pucat. Jack segera mengambil alih tubuh Jaya dari Hana. Lalu, Hana membantu Cinta melangkah menuju ruang tengah.
"Kamu kenapa, Cinta?" Tanya Hana khawatir.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Han. Tiba tiba saja perutku terasa mual, kepalaku juga sangat pusing." Jelasnya.
Sebentar Hana dan Jack saling pandang. Keduanya mulai menerka nerka. Lalu, mereka menatap Cinta bersamaan.
"Cinta, aku rasa kamu hamil!" Teriak Hana dan langsung memeluk erat tubuh Cinta.
Yang dipeluk hanya terdiam, masih belum bisa mencerna apa yang diucapkan Hana padanya.
"Periksa sekarang." Suruh Hana.
"Periksa?" Ulang Cinta ragu.
Hana mengangguk mengiyakan. Lalu memapah Cinta menuju kamar mandi yang ada di dapur.
Setelah berdiam sekitar lima menit didalam kamar mandi, Cinta pun keluar dengan senyum yang sumringah.
"Benarkan?" Tebak Hana menatap Cinta yang tersenyum.
Air matanya mulai menetes. Cinta menangis dan tersenyum bersamaan. Melihat itu, Hana segera menghampirinya dan memeluknya.
"Akhirnya aku akan menjadi ibu lagi, Han." Ucapnya penuh kebahagiaan.
Hana dan Jack pun ikut bahagia. Dan mereka berjanji pada diri mereka sendiri, untuk menjaga Cinta lebih baik lagi dari sebelumnya.
__ADS_1