Air Mata Pengantin Pengganti

Air Mata Pengantin Pengganti
Bab 38


__ADS_3

Saat ini Febi berada di apartement Joy. Dia mencoba menghubungi Joy di nomor kontak lamanya, benar saja masih bisa dihubungi. Febi langsung menemuinya.


"Ada hal penting apa yang ingin kamu perlihatkan padaku?" Selidik Joy saat mereka sudah sama sama duduk di ruamg tamunya.


"Lihatlah sendiri video ini." Mendekatkan sebuah Flash disk berwarna hitam pada Joy.


"Apa ini?" Memegang flash disk itu dengan teliti.


"Lihatlah, kamu akan terkejut saat melihatnya." Saran Febi.


"Jesika, bawakan laptop kesini." Teriaknya.


Tidak berapa lama, Jesika datang membawa laptop kehadapan Joy. Lalu dia duduk di samping Joy. Dan kehadiran Jesika membuat Febi merasa sedikit risih.


Joy mulai memutar video didalam Flash disk itu. Saat video mulai bergerak, matanya melotot. Ada sedikit getaran dipinggir matanya dan juga bibirnya. Namun, dia mencoba tetap tenang.


"Dari mana kamu mendapat video ini?" Tanya Joy hati hati.


"Rahasia." Tersenyum sinis.


"Jangan bermain denganku Febi."


"Aku tidak bermain, Joy. Bukankah tidak penting dari siapa aku mendapat video ini. Yang harusnya kamu pikirkan adalah pembunuh adikmu, bocah bertopeng itu Joy." Tunjuk Febi pada video di laptop Joy.


Senyum risih terlihat tipis dibibir Joy. Tangannya mengepal erat. Detak jantungnya mulai tidak beraturan.

__ADS_1


"Siapa saja yang sudah melihat video ini?" Mencoba setenang mungkin.


"Hanya kita berdua." Ucap Febi.


"Boleh aku menyimpan video ini?" Bujuk Joy.


"Tentu Joy. Tujuanku memang ingin memberikan video itu untukmu."


"Kenapa begitu?" Selidiknya.


"Ya, karena yang menjadi korban pembunuhan itu adalah adikmu. Lalu yang dituduh menjadi tersangka adalah kekasihmu. Dan ya, di video itu kamu bisa melihat pembunuh aslinya. Meski bertopeng, setidaknya kamu akan bisa memperhatikan berkali kali untuk mengenali bocah itu." Ujarnya panjang lebar.


"Kamu benar, aku akan menyelidiki siapa bocah bertopeng ini." Ucapnya sedikit gemetar.


"Aku berikan video itu tidak gratis, Joy. Sebab tidak ada makanan yang gratis lagi didunia ini?" Bisik Febi.


"Cukup dengan membantu perusahaan Papaku. Saat ini perusahaan Papa terpaksa harus dikelola dibawah kuasa Keluarga Prayoga. Dan aku ingin Papa berhenti menjilat pada mereka." Ungkapnya.


Sebentar Joy berpikir. Lalu kembali menatap video itu.


"Apa kamu ingin lepas dari Rafa?" Tanya Joy Ragu.


"Ya. Aku sungguh sangat ingin menghancurkan Rafa. Tapi, selama ini aku terpaksa bertahan demi Papa."


Joy tersenyum senang. Apakah ini langkah awal kemenangan baginya.

__ADS_1


"Rafa Aditya Prayoga. Hahaha… ternyata selama ini dia menipuku dengan mengenalkan namanya padaku sebagai Radit." Ungkap Joy mulai tersulut emosi.


Tawanya pecah menggelegar memenuhi ruangan. Febi sedikit merasa takut mendengar tawa itu. Sedangkan Jesika sudah berkeringat dingin. Biasanya jika terjadi masalah seperti ini Jesika yang akan menjadi pelampiasan emosinya.


"Aku akan membantu kamu dan orangtuamu terbebas dari belenggu keluarga sombong itu." Bertekat ingin menjatuhkan perusahaan milik orangtua Rafa.


"Terimakasih Joy. Dan aku punya hadiah untukmu." Mengulurkan secarik kertas bertulisan angka yang tersusun seperti nomor telepon.


"Apa ini?" Memperhatikan nomor pada secarik kertas itu.


"Kamu bisa menghubungi Cinta lewat nomor itu."


Joy menatap tajam pada Febi. Lalu dia mebgambil kertas itu dan langsung menyalin nomornya kedalam ponselnya.


"JIika kamu berbohong, aku akan mengejarmu bahkan hingga lobang semut sekalipun." Gertak Joy.


Febi hanya tersenyum lirih mendengar ucapan Joy.


"Tunggu…" Menatap layar laptop yang masih memutar video itu.


"Siapa ini." Menyentuh layar laptop untuk menunjuk bocah yang membawa kabur pisau berdarah itu.


Sejenak Febi terdiam. Ingin rasanya dia segera mengatakan itu adalah Rafa. Tapi, dia ingin Joy bermain sendiri menyelesaikan teka teki tersebut.


"Aku tidak tahu siapa dia. Mungkin pelaku lainnya atau dia mencoba menyelamatkan adekmu." kilah Febi berbohong.

__ADS_1


Joy kembali fokus pada video itu. Kedua sudut bibirnya terangkat. Dia tersenyum, senyum yang sangat mengerikan dan susah diartikan.


__ADS_2