Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 100


__ADS_3

Denis dan Ilham berhasil melumpuhkan penculik Arini.


Setelah membebaskan istrinya, Denis mendekati Ilham.


"Terimakasih, kau sudah membantuku." ucap


Denis tulus.


Ilham tersenyum.


"Aku tak sengaja mendengar saat kau bicara di telpon bahwa Arini di cuik, diam-diam aku berusaha mengikuti mu. Tapi di tengah jalan aku kehilangan jejak. Itulah sebabnya aku terlambat sampai disini." Ilham berkisah.


"Apa pun alasannya, kau sudah datang di saat yang tepat." imbuh Denis.


Arini merasa lega karna dua pria yang sama-sama pernah mengisi hatinya itu terlihat akur.


"Siapa sebenarnya mereka, dan apa motif dari penculikan ini?" tanya Ilham.


Arini dan Denis menggeleng.


"Kami juga bingung. Padahal kita bukan orang yang kaya raya yang bisa di muntai tebusan dengan harga fantastis.." Denis menggeleng heran.


Pada saat itu, seseorang terdengar bertepuk tangan.


"Hebat, ya kau Arini. Sudah berhasil menjebak hati dua orang pria sekaligus,


Itu juga belum membuat mu puas, kau masih harus merebut mertua ku.. Kehidupanku dan duniaku, karna setiap saat jiwaku bergejolak saat mengingat mu."


Nilam berada disana dengan empat orang pria yang langsung memegangi Denis dan Ilham.


"Mbak Nilam? Jangan bilang ini semua adalah perbuatanmu?" suara Denis bergetar menahan amarah.


"Tenang, Lang.. Kau juga ikut bersalah dalam hal ini. Kenapa kau menghadirkan Arini ke tengah -tengah keluarga kita? harusnya kau biarkan saja dia bersama pria tolol ini." Nilam menuding Ilham yang tak berdaya dalam pegangan dua orang pria.


"Aku salah telah memberi mu kesempatan bertobat tempo hari.. Hatimu yang kotor semakin gelap dengan kedengkian yang kau miliki.." ucap Arini marah.


"Aku memang bukan orang baik, dan aku juga tidak menyesal dengan jalan yang sudah ku pilih, Menjadi orang baik itu membosankan! Monoton hanya begitu-begitu saja." kilah Nilam dengan congkaknya.


"Apa salahku ,mbak? Kau begitu membenciku?"


"Salah mu adalah kau terlalu baik.. Karna itu banyak orang yang suka pada mu! Itu salah mu!"


"Kau sakit jiwa!" umpat Denis.


"Lepaskan kami perempuan gila!" Ilham ikut membentak.


"Owh ternyata kau bisa bicara juga? aku kira kau bisu." Nilam meledeknya.


"Permainan ini sangat menyenangkan, kau


harus menikmatinya"


Nilam memberi isyarat pada para preman itu.


"Kau harus memilih antara suami dan mantan suami mu..!"


"Mbak, jangan lakukan itu, aku memohon.. Aku akan mencium kaki mu asalkan kau mau melepaskan mereka." Arini bersimpuh.


"Jangan lakukan itu, Rin..!" bentak Denis pada Arini.


Tapi balasannya, dia harus menerima pukulan di perutnya bertubi-tubi.


Melihat itu Ilham berontak.

__ADS_1


Tapi akibat ya sama saja. Dia harus menerima pukulan di perutnya.


Karna Denis dan Ilham sama sama melawan, membuat Nilam berubah murka.


Ia mencengkram hijab yang dipakai Arini. Sampai Arini hampir terjerembab ke belakang.


"Awas kau perempuan iblis..!" jerit Denis melihat Arini di aniaya.


Begitupun Ilham, ia sangat geram oleh tingkah Nilam.


"Lihatlah kedua pria pemujamu itu.. Mereka akan menangis darah melihatmu disini."


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Arini kau akan rasakan akibatnya..!" ancam Denis dengan murka.


"Pukuli lagi! "Teriak Nilam pada anak buah sewaannya. Rasa bencinya pada Arini membuat ia lupa segalanya. ia selalu menyalahkan Arini atas semua kesialan yang menimpa keluarganya.


Denis dan Ilham babak belur di pukuli oleh anak buah Nilam.


Mereka tidak bisa melawan karna Arini ada di bawah ancaman Nilam. Darah segar mulai mengalir dari sudut mata Denis. Namun ia masih kukuh tidak mengaku kalah pada wanita iblis itu.


Denis dan Ilham sudah tak berdaya karna di pukuli, mereka lunglai dipegangi oleh orang bayaran Nilam.


Tempat itu sangat sepi, hingga tidak ada yang mengetahui aksi Nilam itu.


Arini merintih memanggil Denis dan Ilham.


Nilam terlihat puas melihat Arini menderita.


"Permainan tidak asik, sekarang kita rubah saja permainannya." Nilam memberi instruksi pada orang-orang yang sedang memegangi Denis dan Ilham.


"Bagaimana, tuan jagoan? sudah mengaku kalah?" kata Nilam dengan nada meledek.


"Kau boleh siksa aku, tapi jangan sentuh Arini." sengit Denis.


Denis dan Ilham yang tidak berdaya di seret


ke lapangan yang sepi itu. Mereka di letakkan di arah yang berlawanan.


Sementara dua truk pengangkut sampah berjalan kearah Denis dan Ilham perlahan.


Arini kebingungan akan menolong siapa terlebih dulu.


"Sekarang kau harus memilih di antara keduanya!" ucap Nilam dengan sinis.


Ia sama sekali tidak merasa iba pada air mata Arini yang berjatuhan.


"Ayo cepat putuskan akan menolong siapa? Sebelum roda besar itu menggilas mereka.!" bentak Nilam dengan kasar.


Roda-roda besar itu terus bergerak menuju Denis dan Ilham.


Arini bingung dan panik, ia harus menyelamatkan siapa di antara kedua pria itu.


"Deniis.. ! Mas Ilham..! Bangun lah" teriak Arini di tengah ke putus asaannya.


Sementara itu Nilam dan anak buahnya tertawa melihat adegan itu.


Arini sudah melangkah hendak menolong Denis, tapi tangan Ilham menggapai ke arahnya membuat Arini menyurutkan langkahnya.


Sedangkan Denis hanya pasrah dengan tatapan kebencian kepada Nilam.


Arini benar'-benar di buat Dilema.


"Rin, tolong aku..!" suara Ilham di tengah deru truk yang begitu bising.

__ADS_1


"Aku harus selamatkan yang mana? Aku bingung...!" ucapnya putus asa.


Dengan menguatkan diri, Arini berlari ke arah Denis. Roda itu tinggal beberapa senti saja dari tubuh Denis. Arini menariknya kepinggir dengan sekuat tenaga.


Setelah berhasil menyelamatkan Denis, ia menangis sejadinya dengan mata tertutup. Ia membayangkan tubuh Ilham sudah hancur terlindas, ia tidak sanggup menyaksikannya.


Tapi Arini merasa heran karena suara bising itu tidak terdengar lagi.


Saat membuka mata, ia melihat beberapa anggota polisi sudah berada disana termasuk Nathan dan Bu Zah.


"Rin, kau tidak apa-apa? Syukurlah kami datang tepat waktu." kata Bu Zah memeluk Arini.


Arini linglung, ia tidak bisa mencerna kejadian yang baru saja di alaminya...


"Mas Ilham? Bagaimana dengan mas Ilham? Apakah tubuhnya sudah hancur?" tanyanya sambil terisak dengan dada terguncang.


Arini melihat ada ambulance dan anggota polisi banyak sekali.


Denis sudah di bawa ambulance. Arini duduk memegangi lututnya. Dadanya turun naik menahan sesak.


"Minumlah..!" Bu Zah meminumkan air putih pada Arini yang terlihat pucat.


"Tenang lah, Elang tidak apa-apa, dia sudah di bawa kerumah sakit." kata Bu Zah.


"Mas Ilham bagaimana, Bu? aku yang salah..


Aku terlalu lemah, aku tidak bisa menolong mas Ilham juga." ucapnya gemetar.


"Kau tidak salah, keadaan yang memaksamu harus memilih." hibur Bu Zah.


"Tenang, Bu Arini.. Pak Ilham juga selamat. Untunglah ananda Nathan cepat melaporkan kejadian ini. Kami bisa tiba tepat waktu." ujar seorang anggota kepolisian.


Arini memandang Nathan yang terlihat murung.


"Benarkah, mas Ilham selamat, pak?" tanyanya tak percaya.


"Iya, Bu. Beliau sudah di bawa kerumah sakit karna kondisinya memang cukup parah."


Jawab polisi itu.


Nathan lah yang membongkar kejahatan mamahnya kepada Bu Zah, lalu Bu Zah melaporkannya ke polisi.


"Bu Nilam akan di jerat dengan pasal berlapis.


Tentang penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap saudara Denis dan saudara Ilham. Selain itu pula, Bu Nilam sudah lama jadi incaran kami. Dia adalah bandar judi online."


Keterangan polisi itu membuat Arini merasa shok.


"Kenapa mbak Nilam bisa berbuat senekat itu?" gumam Arini seolah pada dirinya sendiri.


Namun setidaknya, ia merasa lega karna Denis dan Ilham selamat dari insiden mengerikan itu.


Bu Zah merangkul Nathan yang terlihat sangat terpukul, ia tidak menyangka mamanya sudah salah jalan terlalu jauh.


"Nathan harus kuat.. Masih ada Eyang, Om Elang dan Tante Arini"


Bu Zah membesarkan hati cucunya itu.


"Biarkan Mama mu mempertanggung jawabkan segala perbuatannya.


Nathan tersedu dalam pelukan neneknya.


"

__ADS_1


"


__ADS_2