
"Bagaimana keadaan Shofia, Bu?" tanya Arini di depan pintu.
"Dia sudah tidak apa-apa. kau tenang saja."
"Syukurlah.." jawabnya lega.
"Kalian belum makan, kan? Aku memasak sesuatu. Tunggu sebentar, ya!"
Arini berlalu ke dapur.
Bu Zah memandang Denis.
"Lihat, betapa baiknya anak itu. jangan sampai kau mengecewakan nya. o,ya. apa dia tau perasaanmu padanya?"
Denis mengangguk.
"Bagaimana tanggapannya?"
"Dia belum mengutarakan jawabannya, dia merasa belum bebas dari suaminya." jawab Denis.
Saat itu Arini datang membawa makanan.
"Wah.. kayaknya lezat nih, sebenarnya aku sudah makan, tapi karena melihat ini aku jadi laper lagi." seloroh Denis.
"Makan! ayo di cicipi!"
"Kau sangat beruntung, Rin, kehamilanmu lancar. kalau ibu, dulu. dari empat kali hamil semuanya mengalami komplikasi." kata Bu Zah.
"Alhamdulillah... ini berkat kalian yang selalu mendukungku. Makanya dia sehat." Arini mengelus perutnya.
Sambil makan, Arini mengutarakan maksudnya untuk pergi bersama Ilham.
"Ibu sudah saya anggap sebagai ibu kandung saya, karna itu, saya minta ijin pada ibu.
Kalau sekiranya ibu tidak mengijinkan pergi, saya tidak akan pergi."
"Terima kasih, Rin, ibu juga sudah menganggap mu seperti anak perempuan ibu. Tapi untuk masalah ini, ibu serahkan kembali padamu. Kau yang paling tau mana yang terbaik untukmu! menurutmu bagaimana, Lang?"
"Pendapatku sama dengan Bu dhe." Arini tersenyum.
"Terimakasih atas kepercayaan kalian."
"Pesan ibu, kau harus hati-hati." Bu Zah menyentuh bahunya.
"Bismillah... semoga ini awal yang baik, saya berharap mas Ilham segera pulih ingatannya dan proses perceraian kami segera selesai."
"Amiin." jawab Bu Zah.
Keesokan harinya.
Arini dan Ilham bertujuan pergi ke suatu villa di luar kota, Ilham mendapat tawaran menginap gratis dari seorang temannya.
Denis mengantar Arini ke tempat dimana mereka berjanji bertemu.
Denis melepas kepergian Arini dengan berat hati.
"Hati-hati, ya!" Arini mengangguk. ia menatap
wajah Denis yang terlihat sendu.
"Tidak usah khawatir, aku bisa jaga diri."
Bu Lastri dan Anita yang ikut mengantar, memandang sinis pada Arini.
Mas, aku berharap setelah pulang dar sama, kau bisa mengingat ku, ingat pada 'Cila' anak kita.
Ilham mengangguk.
Bu Lastri memeluk Ilham.
"Ibu selalu menunggu putra ibu kembali!"
ucapnya dengan mata basah.
"Aku berangkat, titip Bu Zah, ya! tidurlah disana biar dia tidak kesepian." Denis mengangguk.
Bu Lastri menatapnya dengan penuh kebencian. Arini tidak perduli.
Ia berjalan tertib karna perutnya sudah semakin membesar.
__ADS_1
Mobil yang di bawa Ilham perlahan mengecil di kejauhan.
" Kau pasti merasa Sedih, karena pacar mu pergi dengan mantan suaminya."
kata Anita dengan angkuhnya.
""Kalau aku jadi anda, tidak akan aku biarkan Arini pergi dengan pria lain." imbuhnya lagi.
Denis berusaha menahan diri dengan tidak balas ledekan Anita.
Bu Lastri menarik tangan Anita menjauh dari Denis.
"Kalau merasa pria sejati, susul mereka!"
teriak Anita lagi.
Kata-kata Anita mengusik hati Denis.
"Kalau merasa pria sejati, susul mereka!"
Denis merasa kata-kata Anita benar adanya.
Sebuah rencana terbersit di kepalanya.
Malam harinya, Denis tidak bisa tidur, bayangan Arini dan Ilham sedang berdua menganggu pikirannya.
Ia gelisah karena Arini belum mengabarinya lagi setelah tadi sore mengirim pesan bahwa mereka sudah sampai.
"Kenapa dia tidak mengabari ku? mungkinkah dia sedang bersama Ilham?
"Mas Elang!!" Shofia mengagetkan Denis yang sedang gelisah.
"Shof.. ngapain?"
"Kita keluar, yuk! anterin aku makan bakso!"
Denis merasa ragu.
"Ayolah, timbang bengong sendiri di rumah."
"Baiklah, tunggu ya! mas Elang ambil jaket dulu."
Denis membawa Shofia dengan motornya.
Untuk sementara waktu, dia bisa melupakan kegalauan hatinya tentang Arini.
"Kayaknya sudah lama kita tidak begini, ya?"
ujar Shofia sambil memeluk pinggang Denis dengan eratnya.
Ponsel Denis bergetar namun dia tidak mendengarnya. justru Shofia yang memeluknya bisa merasakannya.
"Pasti mbak Arini yang menelpon."
Shofia kembali menyibukkan Denis dengan pertanyaan agar ia tidak menyadari panggilan dari Arini.
Arini merasa heran karna Denis tidak mengangkat panggilannya.
Lalu ia berinisiatif menelpon Bu Zah.
"Assalamualaikum Bu.."
"WAalaikum salam..! kau sehat Rin?"
"Alhamdulillah sehat, Bu. ohya, saya telpon Denis tapi tidak di angkat, kemana, ya dia?" suara Arini terdengar khawatir.
"Barusan dia minta ijin keluar dengan Shofia, mungkin sedang di atas motor."
Arini tertegun.
"Rin, halo.. kau masih disana?" suara Bu Zah menyadarkan Arini.
"Iya, Bu. sudah dulu, ya! assalamualaikum!"
Bu Zah tertegun.
"Aneh sekali, kenapa dia?" gumam Bu Zah sendiri
Arini terus kepikiran Denis yang tidak mengangkat panggilannya
__ADS_1
"Tentu saja dia sedang sibuk dengan Shofia.
Aku yang terlalu bego!"
Arini meletakkan ponselnya.
"Rin, ayo kita makan."
teriak Ilham dari luar kamarnya.
Benar Arini menemani Ilham makan malam, namun hatinya terus ke Denis.
"Kau tidak suka, ya? bukankah dulu kita sering melakukan ini?"
"AKu hanya kurang enak badan, Mas. Mungkin masuk angin." ucapnya sambil meraba lehernya.
"Kau sakit?" Ilham meraba keningnya, namun Arini menepis tangan Ilham.
"Kau demam, ayo cepat makan dan istirahat lah." kata Ilham penuh perhatian.
Arini memang merasa sedikit meriang.
Di tempat Denis, setelah selesai makan bakso, ia baru ingat memeriksa ponselnya.
Ia kaget ada tiga panggilan tak terjawab.
Dia langsung menghubungi Arini.
"Halo, Rin!" ucapnya tergesa saat panggilannya tersambung.
"Haaa'cim..!" terdengar suara Arini bersin.
"Kau sakit?" tanyanya dengan panik.
"Tidak, aku hanya..." Denis langsung memutuskan sambungan telponnya.
"Kita pulang!" perintahnya pada Shofia.
"Tapi, Mas..!" Denis tidak memberi kesempatan pada Shofia untuk bertanya.Setelah membayar makanannya, dia langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Shofia bertanya -tanya dalam hati ada apa gerangan dengan mas Elang?
"Kau pulanglah, mas Elang ada urusan!" ucapnya pada Shofia.
Walaupun dengan perasaan bingung. Shofia menurut.
"Bu Dhe, aku mau menyusul Arini. dia terdengar tidak sehat saat menelpon ku!"
kata Denis sambil mengemas beberapa bajunya.
"Serius mau menyusul?"
Denis mengangguk pasti
"Pesan Bu Dhe, jangan grasa grusu kalau ada masalah, hindari keributan. Masalah tidak selalu harus di selesaikan pakai otot, tapi pakai otak!."
Denis mengangguk lagi. setelah mencium tangan Bu Zah, dia langsung meluncur ketempat di mana Arini dan Ilham sedang
menyepi.
Di rumah Bu Lastri, Anita juga ngotot mau menyusul Ilham.
"Aku tidak bisa bayangkan mas Ilham tinggal berdua saja dengan Arini, bagaimanapun dia meyakinkan kita, aku tetap tidak percaya.
Mereka adalah mantan suami istri, justru karna kebersamaan mereka ini bisa menumbuhkan rasa yang dulu pernah ada "
.
"Ibu bilang jangan, percaya sama Ilham!" perintah Bu Lastri.
'Justru aku tidak percaya pada mas Ilham, Arini mungkin masih sakit hati dia bisa saja menolak." ujarnya lagi.
"Lalu Cila? kau akan meninggalkan dia begitu saja?"
"Kan ada ibu, neneknya."
"Anita, ibu sudah tua, tidak sanggup harus mengurus bayi sendirian."
"Hanya sehari kok, Bu. Boleh, ya! lagian Cila tidak minum Asi ku."
Walaupun dengan berat hati, Akhirnya Bu Lastri membiarkan Anita pergi.
__ADS_1
💞 dukungannya jangan lupa, like komen dan klik favorit, ya!