
Arini tercengang saat Ilham minta di antar ke kamar kecil.
"Ayo papah aku!" ulangnya.
Arini masih berdiri mematung.
Mana mungkin dirinya akan masuk kamar mandi berdua saja dengan Ilham?
Ah tidak, kami sudah di ambang perpisahan.
Bathin Arini bergejolak.
Ilham semakin memaksanya.
"Biar aku saja yang antar!" tiba-tiba saja Denis sudah berada disana.
Ilham menatapnya bingung.
Denis tidak memperdulikannya.
Denis dan Arini duduk di taman rumah sakit.
"Apa yang akan kau lakukan jika Ilham meminta haknya sebagai suami?" ucap Denis gelisah.
Arini hanya termenung.
"Mau tidak mau kau harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya, kecuali memang sebenarnya kau ragu untuk berpisah dari Ilham!"
Arini menatap Denis dengan sendu.
"Kau meragukan ku?"
Denis menggeleng.
"Bukan itu maksudku." mereka kembali diam.
"Pikirkan lagi keputusanmu Rin..!"
Arini terdiam.
"Aku akan mencoba menjelaskannya pelan-pelan.
Saat itu mereka melihat kehebohan dari ruangan Ilham. Mereka bergegas melihatnya.
Dokter dan perawat terlihat sibuk.
"Ada apa Siska?"
"Mas Ilham, Mbak.. dia tiba-tiba pingsan saat Mbak ibu Menceritakan masalah yang sebenarnya di antara kalian."
Arini mendesah pelan.
"Keluarga bapak Ilham ikut keruangan saya!"
ucap Dokter yang menangani Ilham.
Arini bergegas hendak ikut, tapi Denis menahan tangannya.
"Biarkan Bu Lastri saja!"
Arini kembali duduk.
'"Bu Arini silahkan ke ruangan pak Dokter, anda sudah di tunggu." seorang suster menyusulnya.
Arini memandang Denis seolah minta persetujuan nya.
Denis mengangguk pada Arini.
'Dengan berat hati saya katakan, kondisi pak Ilham saat ini tidak baik.
Saya sudah menyarankan agar jangan memaksa otaknya untuk berpikir keras.
Dia belum siap menerima sesuatu yang menggoncang jiwanya. itu berpengaruh pada sistem kerja otak."
"Lalu apa yang harus kami lakukan dok?" Arini menyela.
"Untuk saat ini saya hanya bisa kalian berdoa saja, semoga dia cepat sadar.
Dan kalau dia sadar, usahakan bersikap seolah tidak pernah terjadi apa pun.Yang dia ingat, Bu Arini adalah istrinya, kalau bisa berusahalah berpura-pura kalau anda masih istrinya."
"Tapi, Dok?" Bu Lastri menyela.
" Kalian ingin dia pulih ingatannya, kan?"
__ADS_1
Bu Lastri mengangguk.
Ia tidak bisa berkata-kata. ia juga menyesal karna sudah mencoba mengungkap kebenaran pada Ilham hingga membuatnya harus koma lagi.
Arini merasa lemas di tempat duduknya.
"Apa yang di khawatirkan Denis ternyata sangat beralasan. Kalau dia berakting masih istri sahnya, lalu bagaimana kalau dia minta haknya sebagai suami?
Arini mengerjakan mata. Ia berharap semua ini hanya mimpi. Tapi sayangnya, semuanya nyata di depan matanya.
Arini menceritakan semua keterangan dokter pada Denis. Termasuk permintaan dokter yang memintanya untuk selalu menanti Ilham sebagai istrinya.
Arini tidak bisa mengabaikan Ilham begitu saja, dia sadar mereka masih sah sebagai suami istri.
Kata talak belum terucap dari mulut Ilham.
Surat cerai pun belum di tanda tangani oleh pria itu.
Denis terlihat ikut shok.
Tapi pria itu berusaha bersikap dewasa.
"Kau masih istrinya, kalau kau ingin merawatnya, silahkan! kewajiban seorang istri memang berbakti pada suami. Terlepas dari apa yang sudah terjadi di antara kalian,
kau masih tetap istrinya. aku tidak berhak melarang atau menghalanginya"
Mata Denis terlihat berair.
Arini bukan menutup mata kalau perhatian Denis padanya bukan sekedar perhatian seorang sahabat. walaupun pria itu tidak pernah mengatakannya. Tapi sangat terlihat jelas dari matanya.
Dan dia juga tidak ingin munafik kalau ia merasa nyaman dengan kehadiran Denis di dekatnya. ia merasa terlindungi dan di hargai.
Arini merasa terluka saat melihat Denis yang terluka.
"Seperti kata Siska, sekalipun aku harus berkorban lagi demi mas Ilham, aku hanya menganggapnya sebagai kemanusiaan. tidak lebih!"
ucap Arini akhirnya.
Denis mendesah pasrah.
"Kita pulang?"
Denis mengangguk dan bergegas berdiri.
"Aku yang salah, perasaanku yang salah!"
Tiba-tiba Denis berteriak hingga motornya hampir menabrak pagar jalan.
"Ada apa?" Arini terkejut.
Denis menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Arini menjadi cemas oleh sikap Denis.
"Aku yang salah Rin, ini masalahku!"
ucapnya sambil menangis.
Arini menuntunnya untuk duduk di bangku tepi jalan.
"Minumlah..!" Arini menyodorkan botol minumnya.
Setelah beberapa lama, dia terlihat agak tenang.
"Ada masalah yang mengganggumu? cerita padaku! aku sahabatmu, kan?"
"Bagiku, kau lebih dari sekedar seorang sahabat!"
Arini tercengang. ia membenarkan posisi duduknya.
"Sudah aku bilang, aku lah yang salah disini.
Aku benci dengan perasaanku ini. aku tau kau dan Ilham belum bercerai, kau masih istrinya. Tapi aku, aku menaruh harapan yang lebih padamu. aku sering berharap kau cepat bercerai dari Ilham, bukan kah itu egois?"
"Sudahlah, lupakan saja!"
Arini tercekat, dia tidak menyangka Denis akan mengutarakan isi hatinya secepat ini.
"Aku naif sekali, ya?" ujarnya tertawa, namun air matanya terus mengalir.
"Aku cengeng!" ucapnya lagi menyumpahi dirinya sendiri.
"Maafkan aku, lupakan saja apa yang barusan aku katakan, aku harap. kau tidak membenciku setelah tau yang sebenarnya."
__ADS_1
Denis mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri! keadaan lah yang patut di pertanyakan."
ucap Arini memecah kesunyian.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam.
Bu Zah menyambut mereka dengan heran.
"Ada apa ini? wajah kalian mendung begitu?"
Denis dan Arini serentak mengangguk.
"Tu, kan kalian kompak banget." ujarnya lagi.
Denis pamit pulang.
"Tidak tidur saja disini?" tawar Bu Dhe nya.
Denis hanya menggeleng.
"Ia masih sempat berpesan pada Arini sebelum pergi,
"Jangan terlalu di pikirkan kata-kata ku tadi, apa pun keputusanmu aku akan mendukung mu selamanya.
"Arini hanya mengangguk.
Keesokan harinya. Denis siap di depan pintu.
Bu Zah sampai terheran-heran.
"Rajin amat ponakan ibu Dhe ini, ada apa gerangan?" ia menggoda Denis.
"Mana Arini Bu Dhe?"
"Tuh..!" Bu Zah menunjuk ke arah Arini yang datang mendekat.
"Pagi sekali!" sapa Arini terheran heran.
"Kita berangkat awalan. aku mau menunjukkan sesuatu padamu."
Arini mengangguk.
Denis membantunya memasukkan beberapa bok kotak kue ke dalam mobil barunya.
Arini sempat heran. Semalam Denis terlihat sangat rapuh, tapi pagi ini ia terlihat ceria
apa yang terjadi padanya? wajahnya di penuhi senyum seolah tak pernah terjadi apapun semalam.
"Silahkan!" ucapnya membukakan pintu mobil.
Baru saja Arini hendak masuk, Shofia datang menerobosnya dan duduk di depan.
"Mbak Arini di belakang saja, ya! lebih aman
buat wanita hamil!" ucapnya bernada sinis.
Arini tertegun, begitu pula Denis.
"Apa-apaan ini Shofia?"
tanya Denis kurang suka.
"Aku nebeng sekalian Mas. jalan ke kantor kan melewati sekolahku?"
Jawabnya dengan acuh.
Denis memandang Arini dengan perasaan tak enak.
Arini mengangguk sebagai isyarat dia tidak apa-apa harus duduk di belakang.
Denis menjadi salah tingkah.
Sesekali Denis melirik Arini dari kaca spion.
Menyadari itu Shofia merasa tidak suka.
"Mas, teman-teman ku merasa iri padaku karna aku punya mas Elang.
Ia sengaja memeluk lengan Denis yang sedang menyetir.
💞🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1