Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 74


__ADS_3

"Anita, susu Cila habis, kau harus paham, semakin besar anak, kebutuhannya juga semakin meningkat. Seperti susu, popok dan lainnya." ucap Bu Lastri pagi itu.


"Aish... pagi buta sudah mulai ceramah nenek cerewet ini" gumam Anita kesal.


"Iya, nanti pulangnya aku beli, Bu." jawabnya malas.


"Kalau menunggu kau pulang, anakmu bisa kelaparan." tukas Bu Lastri dengan nada tinggi.


"Ibu bisa pelan kan suaranya? telingaku masih sehat, kok. aku sudah bicara baik-baik tapi ibu malah nyolot panjang lebar. Cila itu putriku, aku yang lebih tau tentang dia. ibu paham?"


Bu Lastri terdiam.


"Cila sudah ada pengasuhnya, jadi ibu tidak usah repot ikut ngurusin hal yang berkaitan dengannya. Biar sus nya yang bicara!" tegasnya kesal.


"Anita, bicara yang sopan pada ibu!" bentak Ilham yang melihat kejadian itu.


"Tapi ibumu yang mulai duluan, aku hanya bilang agar bicara pelan.


sebenarnya dia hanya tinggal duduk manis, apa susahnya? Dia sudah enak dirumah menikmati semuanya.


Aku yang capek, aku yang banting tulang pergi pagi pulang malam, kalau ada yang harus marah itu hanya aku." ucapnya sengit.


"Aku tidak pernah menyuruhmu bekerja, jadi jangan pernah ungkit-ungkit masalah pengeluaran!" Ilham tak kalah sengit.


Anita hampir saja kembali mengata ngatai Bu Lastri, namun niatnya batal saat tiba-tiba Siska berdiri di depan pintu sambil menatapnya.


Siska memainkan ponsel yang sedang di pegangnya.


"Mbak... jangan suka marah-marah, ini masih pagi." ucap Siska sambil mengedipkan matanya.


Anita langsung terdiam. Ia menyendok kan nasi ke piring Ilham.


Ilham merasa heran karena Anita seperti takut pada Siska.


"Ingat, jangan lupa dengan kesepakatan kita, rahasiamu ada di tanganku!"


bisik Siska saat Anita hendak meninggalkan rumah.


Siang itu panas sangat terik.


Bu Lastri keluar dari kamarnya, ia bermaksud selonjoran di kursi teras untuk meluruskan kaki. Suster yang sedang menjaga Cila datang mendekatinya.


"Bu, bisa tolong jagain Cila sebentar, saya mau kebelakang sebentar saja." ucapnya sopan.


"Tapi aku kurang sehat, kaki ku sakit sekali Sus." keluhnya menolak.


Bu Lastri merasa tidak sanggup mengawasi anak usia lima belas bulan yang sedang aktif-aktifnya itu.


Namun susternya keburu berlari kedalam.


Bu Lastri mengawasi cucunya yang berlarian di hadapannya.


Perhatiannya terbagi saat ada panggilan di ponselnya.


Ia terus mengobrol sampai lupa pada cucunya yang sudah hilang dari hadapannya.


Beberapa detik kemudian, tangisan Cila mengagetkan Bu Lastri dan susternya.


Di lihatnya anak kecil itu sudah tengkurap dengan kepala bersimbah darah.


Di dekatnya ada pot bunga yang sudah berantakan.


Apa yang kalian lakukan sih? menjaga anak sekecil Cila saja tidak becus!"


Anita mengomeli mertuanya dan sus nya.


Bu Lastri tidak menjawab karna dia memang bersalah.

__ADS_1


Ilham dan Siska juga datang tergesa.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Ilham cemas.


"Dia kehilangan banyak darah.." ucap Anita hampir menangis.


Mereka duduk dengan gelisah di depan UGD.


"Keluarga pasien Cila?"


"Ya, saya ayahnya Dok!" ucap Ilham.


"Begini, pak. kondisi ananda Cila cukup kritis karna kehilangan banyak darah dari luka di belakang kepalanya, kami harus melakukan tindakan operasi secepatnya. Persediaan darah yang di butuhkan anak bapak sedang kosong, jadi tolong siapkan secepatnya!"


Anita shok mendengar Cila harus di operasi.


"Kalian tunggu disini, aku akan ikut suster untuk di ambil darah."


Anita mengangguk.


"Golongan darah bapak tidak cocok, bisa carikan dari anggota keluarga yang lain?"


Ilham tercengang.


"Tapi saya ayahnya, kenapa bisa golongan darahnya beda?"


"Bisa, pak, seorang anak bisa beda golongan darahnya dengan ayah atau ibunya, tapi salah satu dari mereka harus ada yang cocok."


Pikiran kolot Ilham mulai mengembara, yang dia pahami, anak harus sama golongan darahnya dengan ayahnya, itulah yang sering dia lihat di sinetron.


"Pak, coba hubungi istri atau sanak saudara yang lain."


Seperti linglung Ilham menelpon Anita.


"Darah ku tidak cocok. dengan mu pasti cocok!" ucap Ilham dingin. Rasa curiga mulai menguasainya.


"Tapi ini demi anakmu Anita, dia sedang meregang nyawa di dalam sana! tidak bisakah kau lawan rasa takutmu sejenak?" Ilham merasa emosi.


"Biar aku saja!"


Siska dan Bu Lastri bergantian di periksa namun tidak ada yang cocok.


Harapan tinggal pada Anita, namun wanita begitu gemetar saat melihat jarum suntik.


"Paksa saja, pak!" ucap Ilham tak sabar.


Melihat perawat menghampirinya membuat Anita lemas karna takut.


Bukannya bisa membantu Cila, Anisa malah ikut di rawat karna lemas seketika.


Di tengah ke putus asaan keluarga Ilham yang tidak bisa mendapat golongan darah yang cocok buat Cila.


Tiba-tiba datang seorang pria, berperawakan tinggi.


Ia langsung menawarkan diri pada perawat untuk di ambil darahnya.


"Benar, golongan darah bapak sama dengan yang sedang kami cari.' ucap Perawat gembira.


Ilham memperhatikan pria itu dengan seksama, ia berkulit putih dengan sedikit brewok di wajahnya.


Setelah selesai, Ilham menghampiri laki-laki itu.


"Terima kasih, sudah menolong anak saya."


"Tidak masalah, saya sering mendonorkan darah, kok." jawab pria itu kurang bersahabat.


Setelah membenarkan jaketnya, pria itu berlalu begitu saja.

__ADS_1


Ilham termenung di tempatnya.


"Kenapa sangat kebetulan darahnya sama dengan Cila. dan sepertinya dia sudah tau hal itu."


pikiran Ilham semakin terganggu.


Cila sudah melewati masa kritis, anak itu juga sudah di pindahkan keruang rawat.


Bu Lastri, Siska dan Ilham setia menunggui anak itu


Namun Anita merasa tidak betah berdiam diri di rumah sakit.


"Yang benar saja, kau mau meninggalkan anakmu dalam kondisinya yang seperti ini?" sergah Ilham tidak suka.


"Kan ada kalian, Nenek, Ayah dan Tante nya.


Lagian, aku pergi bulan untuk piknik. Tapi untuk cari uang buat membayar biaya pengobatannya."


"Masalah pengobatan, biar aku yang pikirkan!" ucap Ilham tegas.


"Kau mengandalkan gaji mu yang tidak seberapa? mana cukup, Mas! sudahlah biarkan aku pergi.'


Ilham terdiam.


Berdebat dengan Anita hanya akan menguras tenaga dan emosinya.


"Aku pergi." ucapnya sambil berlalu dari tempat itu.


Sambil berjalan Ia memeriksa isi tasnya, karna itu tidak memperhatikan jalan di depannya, Anita menabrak seorang pria yang sedang berjalan dengan tergesa pula.


Ia semakin kaget saat menyadari siapa yang sudah di tabraknya.


"Anda, disini?" ucapnya tergagap sambil menutup mulut.


Kejadian itu tak sengaja terlihat oleh Ilham.


Ia langsung bersembunyi dan memperhatikan dari kejauhan.


"Ngapain Anda disini?" ulang Anita.


"Aku sedang menjenguk anak ku yang sedang di rawat disini juga." jawabnya pelan


Hati Anita sedikit lega mendengarnya


"Syukurlah, aku pikir...?" bathinnya berucap.


"Kau sendiri ada keperluan apa disini?" tatapan pria itu penuh selidik.


"Saya, baru menjenguk saudara yang sakit..." jawabnya gugup.


pri itu tersenyum penuh wibawa


"Baiklah kalau begitu, saya duluan." ucap Pria dingin itu dan melangkah meninggalkannya.


Anita melanjutkan langkahnya pula.


Ilham yang sedang mengintai, mulai menerka-nerka.


"Ada yang aneh dengan pria itu, begitu juga dengan Anita. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan nya." ucapnya Ilham dalam hati.


"Ada apa?" Bu Lastri menepuk pundak Ilham.


"Kalau mau berangkat kerja, pergi saja. Ibu bisa menjaga Cila sendirian." sambung Bu Lastri lagi.


'Bukan itu, Bu... " Ilham bingung bagaimana menjelaskannya.


"Yang sabar ya, menghadapi Anita, ingatlah selalu kalau kalian sudah punya Cila."

__ADS_1


"Seandainya saja ibu tau apa yang ada di benak aku sekarang? " keluh Ilham dalam hati.


__ADS_2