
Arini membuang muka.
Hatinya tercabik-cabik saat mengingat kalau Ilham pernah tidak mengakui anaknya.
Bahkan sampai memilih melenyapkannya.
"Ampuni aku Rin, aku hanya ingin hidup normal kembali. Dan itu semua bisa terjadi kalau kau memaafkan aku." ratapnya sedih.
Arini merasa terenyuh dengan keadaan Ilham, tapi hatinya juga sangat terluka oleh penghianatan dan semua perbuatannya selama ini.
"Aku tau, tidak ada yang pantas aku minta lagi dari mu, aku sudah mengambil terlalu banyak."
Arini masih berdiri membelakangi Ilham dengan nafas memburu.
"Tolong tinggalkan satu saja untuk ku... kenangan anak ku bersamaku!" ratapnya lagi.
"Kau boleh tetap mengunjungi makam anak nya Denis, tapi jangan pernah berharap lebih!
bersama kepergian anak ku, kau pun sudah mati bagiku, Mas!"
Ilham tertunduk lesu dengan hati hancur, punggungnya terlihat terguncang oleh tangis yang tertahan. Arini sudah begitu membencinya. Ia merasa tidak ada gairah untuk hidup lagi.
"Tolong! aku sangat minta tolong padamu, jangan muncul di hadapanku lagi, tolong jaga juga istri dan ibumu, Mas. aku ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang kalian lagi."
Arini menggamit tangan Denis dan mengajaknya pergi. Meninggalkan pria yang pernah jadi bagian dari hidupnya itu dengan hati hancur.
"Arini... sebegitu sakit kah luka yang telah aku torehkan sehingga membuatmu begitu membenciku?"
Ilham termenung seorang diri sambil sesekali berbicara pada batu nisan.
"Kau pantas mengutuk ku, Nak,
aku memang bukan ayah yang baik buatmu,
Tapi ijinkan ayah selalu mengunjungimu, ayah tidak pernah bisa menyentuhmu, tapi hanya bisa menatap nisan mu."
Arini yang sudah melangkah pergi, sekali-kali masih berbalik menatap Ilham yang sedang memeluk nisan dengan rambut kusutnya.
"Ayo! sekali kau melangkah jangan pernah menoleh lagi!" ucap Denis menguatkan pegangan tangannya pada calon istri.
Arini mengusap air mata dengan punggung tangannya. Ia bergegas mengikuti langkah Denis.
Sampai di rumah Bu Zah. Arini mendapati Bu Zah tengah mengobrol serius dengan Shofia.
"Kebetulan kalian datang, Shofia datang untuk pamitan."
"Pamitan? mau kemana?" tanya Denis antusias.
"Kami pindah ke Bogor, Mas. Kakek dan nenek sudah tua, tidak ada yang mengurus mereka."
"Bagaimana dengan sekolah mu? nanggung lho."
"Ayah sudah mengurus kepindahan ku kok?" jawab Shofia.
"Kalau begitu kami hanya bisa mengucapkan selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan. Oh ya, semoga di tempat baru kau juga akan menemukan orang baru."
kata Arini tersenyum.
Ia masih ingat dengan sifat culas Shofia.
"Terima kasih, Mbak!" jawab Shofia sambil memaksakan senyumnya.
Shofia merasa kalau Arini sedang menyindirnya.
"Sayang sekali, ya. padahal kami mau menikah minggu- minggu ini." kata Denis menyesal.
"Nggak apa-apa, jangan bebani langkah Shofia lagi. Biarkan dia pergi dengan tenang."
imbuh Arini.
__ADS_1
Arini sengaja berkata demikian, ia takut kalau sampai Shofia tidak jadi pergi dan mengacaukan rencana pernikahannya.
Kali ini Arini tidak mau mengalah lagi, ia akan mempertahankan sesuatu yang menjadi miliknya, termasuk cinta Denis.
Pengalaman memberinya banyak pelajaran, bahwa selalu mengalah demi orang lain hanya akan merugikan diri sendiri.
"Benar kata Arini, Lang?" kata Bu Zah.
Shofia merasa shok mendengar rencana pernikahan mereka.
"Tidak apa-apa Shof, nanti mas Elang kirimin photo keseruan acaranya." seru Denis bersemangat. Ia tak menyadari perubahan pada wajah Shofia.
Semakin hari, Arini merasa semakin menyukai Denis. Perlahan namun pasti kesabaran pria itu menyentuh hatinya.
Arini mulai merasa kehilangan bila Denis tidak menemuinya. Ia juga merasa resah kalau Denis telat berkirim kabar.
Seperti pada hari itu,
Denis yang biasanya menyapanya sekedar dengan ucapan selamat pagi. Jangankan sapaannya, pesan pun tidak ada.
Arini mulai gelisah,
"Ah, mungkin dia sedang di kamar mandi." pikirnya menenangkan diri.
Beberapa menit menunggu, ponsel Arini belum juga berbunyi.
"Kalau sedang di kamar mandi saja pasti sudah selesai, tapi dia belum juga mengirim kabar?"
Karna tak sabar ia memberanikan diri menelpon duluan.
"Biarin saja kalau dia mengolok ku seperti anak ABG yang tak sabar bertemu kekasihnya." gumamnya sambil menelpon nomor ponsel Denis.
Di coba beberapa kali tapi nomornya tidak aktif.
Arini semakin gelisah.
Ia menanyakan pada Bu Zah, namun dia juga bilang belum bicara sama sekali pada Denis.
Ia langsung menuju rumah Denis.
Dengan tergesa Arini mengetuk pintu.
"Denis, Den. kau di dalam?" tidak ada suara dari dalam.
Arini menghubungi ponsel Denis lagi.
"Masih tidak aktif.."
Di dalam, Denis sedang mengerjakan tugas kantornya.
Ia tidak bisa mendengar suara Arini yang memanggilnya dengan panik di depan.
"Ini aku bikinin kopi buat mas Elang."
Shofia tersenyum manis.
"Makasih, Shof, oh, ya mana ponsel mas Elang? sudah kamu cas, kan?"
"Tenang saja, sudah kok. Bentar lagi juga penuh.
Denis kembali tenggelam dalam pekerjaan ya sampai lupa kebiasaanya berkabar pada Arini.
Shofia tersenyum penuh kemenangan.
"Rasain kamu Arini, sok mau memisahkan aku dari mas Elang." gumamnya sambil tersenyum manis.
Di Luar, Arini terus menggedor pintu.
"Denis..! "
__ADS_1
Suara Arini terdengar samar di telinga Denis.
"Shof, coba buka pintu seperti ada suara Arini di luar."
Shofia yang tau kedatangan Arini sengaja lambat membuka pintu.
"Shofia,?" ucapnya kaget.
"Bukannya kau mau pergi ke Bogor pagi ini?" Arini merasa ada yang tidak beres.
Ia teringat Denis.
"Denis...!" Arini mendorong Shofia kesamping dan menerobos masuk.
Hatinya lega saat melihat Denis sedang fokus dengan pekerjaannya.
"Eh, Rin kau disini?" ujar Denis kaget karna Arini tiba-tiba saja berdiri di depannya.
"Kaget ya aku disini? biar kamu bisa berduaan saja dengan anak ingusan itu?" ucap Arini tenang.
"Iya aku lupa mengabari mu karena keasyikan bekerja." Denis menepuk jidatnya sendiri.
Arini menatap Denis heran.
"Pria ini, benar-benar tidak merasa malu aku mengkhawatirkannya." bathin Arini.
Tapi bagaimanapun, ia bersyukur Denis baik-baik saja.
"Rin, sebenarnya aku mau mengabari mu seperti biasa, tapi ponselku mati dari semalam. Dan Shofia bilang dia sudah mengisi daya nya, aku lupa memeriksanya."
Arini duduk mendengarkan penjelasan pria yang sudah mencuri hatinya itu.
"Kenapa diam saja? kau marah, Rin?" tanya Denis khawatir.
"Aku minta maaf, maaf, maaf!" Denis memegang telinganya.
"Owh,ya. tentang Shofia? biar dia yang jelaskan kenapa sampai berada disini."
Denis memberi isyarat pada Shofia untuk bicara.
"Aku tidak jadi ikut pindah, Mbak. ayah bilang aku akan nyusul belakangan."
jelas Shofia.
"Dan kenapa kamu berada disini pagi sekali Shof? tidak baik kalau di lihat tetangga."
"Aku juga sudah bilang begitu, tapi sudahlah, semua sudah terjadi. yang penting Shofia mau berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
kata Denis.
"Baiklah, aku sudah lega kau baik-baik saja." ucap Arini menatap mata Denis.
"Aku minta maaf pada kalian berdua. tapi aku tidak bermaksud..."
"Lupakan saja! tapi lain kali pastikan kau tidak bakan mengulanginya lagi!" potong Arini cepat.
"Rin, kau benar tidak marah padaku?" Denis memegang tangannya.
Arini menggeleng.
"Aku tidak akan bisa marah pada pria sebaik dirimu.." ucap Arini dalam hati.
"Aku percaya padamu melebihi pada diriku sendiri." jawab Arini tersenyum
Arini tau, semua yang terjadi sudah di rencanakan oleh Shofia, gadis kecil itu mencoba menciptakan kesalah pahaman di antara. dirinya dan Denis.
Arini sadar untuk tidak terpancing dalam permainan Shofia.
"Mas, Mbak.. aku pulang duluan, ya!" ucapnya pelan.
__ADS_1
"Kau berani pulang sendiri?" tanya Denis.
.