Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 84


__ADS_3

Ilham sangat terpukul kenyataan yang baru di ketahuinya.


Beribu penyesalan dalam hatinya sampai ia tidak mampu mengeluarkan airmata lagi.


Ia terduduk lunglai di depan pintu tempat Anita di kurungnya.


Sementara wanita itu terus menangis memohon ampun.


"Mas, ampuni aku, aku melakukan semua ini karna aku sangat mencintaimu,!" teriaknya dari dalam. Namun hati Ilham sudah membatu.


Siska datang mendekatinya.


Ia memegang pundak Ilham perlahan.


"Aku tau mbak Anita sudah salah jalan semenjak dia keluar bekerja lagi. Tapi aku tidak menyangka kalau sampai Cila juga bukan anak mu, Mas...!" ucapnya pelan.


Ilham hanya diam menatap ruang kosong.


"Semua sudah terjadi, mungkin ini adalah karna karna kita telah mendzolimi mbak Arini." imbuh Siska lagi.


"Mas, tidak tau Sis.. Kenyataan ini begitu menyakitkan. Tapi mungkin belum seberapa bila di bandingkan penderitaan yang di alami Arini selama di sini."


"Aku telah menuduh ya berkhianat, aku telah menyia-nyiakan anak ku sendiri, sedangkan anak orang lain kita puja di atas kepala kita selama ini." ucap Ilham tergugu.


Akhirnya tangis yang berusaha di tahannya


Bobol juga.


Siska merangkul kakaknya.


Anita masih terisak sendirian di dalam.


Ia menyesali kenapa semuanya harus terungkap.


Ia teringat pelanggannya yang terakhir sangat maniak ***.


Walaupun mereka sudah selesai beberapa ronde, setelah dirinya selesai mandi, pria hidung belang itu kembali menariknya dalam permainan yang panas. Anita tidak bisa menolak. Ia mau melayaninya lagi dengan satu syarat. Si pria harus menambah uang tip nya.


Pergulatan kembali terjadi di antara mereka.


Anita menyudahinya dengan paksa saat menyadari waktunya dia harus pulang.


Ia menyangka sampai di rumah Ilham sudah tertidur.


Itulah awal dari kehancurannya saat ini.


Ia sangat mencintai Ilham, selama menjalin hubungan diam-diam , Ilham tidak pernah memberinya kepastian akan pernikahan padanya.


Sampai saat seorang pria beristri yang menawarkan kehangatan di saat Ilham tidak bisa menemaninya, Anita menikmatinya.


Namun beberapa Minggu kemudian di panik karena mengetahui dirinya positif.


Di tengah kepanikannya. Terbersit rencana untuk menggunakan kehamilannya buat mendapatkan Ilham.


Bu Lastri masih shok dengan kenyataan yang di terimanya.


Air matanya mengalir namun tanpa suara.


Kenyataan Cila cucu yang amat di sayanginya ternyata bukan cucu kandungnya, sangat mengguncang perasaanya.


"Lalu bagaimana kalau benar anak Arini adalah cucu kandungku?" tiba-tiba ia merasakan dadanya sesak sampai susah bernafas.


"Aku telah membunuh cucu kandungku sendiri..!" ia menjambak rambutnya dan menampar pipinya sendiri sampai perawat memegangi tangannya.


"Bu, sabar ya, Bu."


"Biarkan saya mati saja.. jangan coba halangi saya! " ucapnya dengan marah.


Bagaimana bisa selama ini membesarkan cucu orang, sedang cucuku sendiri aku bunuh." sesalnya.

__ADS_1


Siska datang karena di telpon perawat tentang keadaan ibunya.


"Bu, berusaha lah menerima dengan lapang dada.. Semua sudah terjadi. kita tidak akan bisa merubah yang sudah terjadi, tapi kita masih bisa memperbaikinya." nasehat Siska sambil memeluk ibunya.


"Bagaimana bisa ibu sebodoh ini...? Ibu, ibu telah membuang Arini demi Anita yang telah tega menipu kita semua.


Dan kau tau? Penyesalan terbesar ibu adalah kematian anaknya Arini...!" Bu Lastri tersedu.


Ia tidak sanggup melanjutkan ceritanya.


"Ibu, sudah menyadari kalau mbak Arini orang baik, kan? Itu saja sudah cukup untuk memulai sesuatu yang baik lagi. Memang benar mbak Arini sudah punya kehidupan sendiri sekarang. Tapi setidaknya ibu bisa menjalin silaturrahmi dengannya, walaupun bukan sebagai mertua dan menantu, tapi sebagai mantan menantu."


Siska terus memberi kesejukan pada jiwa Bu Lastri yang sedang goyah.


Bu Lastri menggeleng tanpa sadar.


"Antar ibu ke makam anaknya Arini..!" ucapnya memohon.


Gurat-gurat kelelahan di wajahnya sangat jelas terlihat. Mata tuanya menatap sayu.


"Kenapa harus sekarang, Bu? tunggu sampai ibu sehat benar."


"Tidak, ibu mau Sekarang..!" ucapnya kukuh.


Siska mengantar ibunya ke makam anaknya Arini.


Disana, Bu Lastri bersimpuh sambil membelai nisan.


Rasa bersalah berkecamuk dalam hatinya.


Siska memperhatikan tingkah ibunya.


"Ada apa, Bu?"


"Siska.. Ibu telah membunuh anaknya Arini. Ibu bersalah."


"Apa maksud ibu?"


Siska semakin tak mengerti.


Sampai saatnya pulang, Bu Lastri tidak bisa berterus terang kepada Siska tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Sedangkan Ilham terus menyiksa Anita.


Ia menyeret Anita ke kamar Cila.


"Sekarang kau bilang, siapa ayahnya Cila?"


Anita hanya bisa terisak.


"Bilang..!" bentak Ilham bringas.


Namun saat melihat anak kecil itu menangis membuat hati Ilham teriris.


Bagaimanapun, selama satu setengah tahun Cila sudah menjadi putrinya, menjadi tumpuan kasih sayangnya.


"Karna tak tega melihat tangisan Cila, Ilham kembali menggiring Anita ke tempatnya semula.


"Mas, aku salah.. Aku mohon maaf, kalau kau tidak Sudi melihatku disini lagi, tolong lepaskan aku. Aku akan pergi jauh dari hadapanmu." ucap Anita tergugu.


Ilham memandangnya dengan bringas.


"Tidak segampang itu kau pergi setelah menorehkan luka yang begitu dalam di hati keluargaku." kata Ilham gusar.


Anita hanya bisa terpuruk dengan keadaanya sekarang.


"Kau menjijikan kan! Bahkan binatang masih lebih berharga darimu." teriak Ilham.


Cila yang sedang di gendong oleh Sus nya menjerit menangis histeris.

__ADS_1


Ia seperti merasakan badai yang sedang menimpa orang tuanya.


"Sus, tolong bawa dia keluar!" kata Ilham pada gadis yang menjaga Cila.


"Kau sangat bangga pada uang mu yang banyak itu? Kau sudah menghinaku dengan mengatakan penghasilanku lebih kecil darimu, bukan? Ternyata kau banyak uang dari hasil menjual diri..! dasar murahan!"


Ilham terus mencacinya


Bagi Anita, kenyataan bahwa Ilham sudah membencinya adalah hukuman yang paling berat buatnya.


Bu Lastri pulang dengan langkah gontai.


Saat berpapasan dengan Ilham, Air matanya kembali berderai.


Ia merangkul Ilham dengan erat.


"Maafkan ibu, ibu yang paling berperan dalam perpisahan mu dengan Arini."


Ilham hanya terdiam tanpa bergerak.


Melihat Bu Lastri lewat di depan pintu, Anita mengejarnya.


Ia berlutut memohon ampunan Bu Lastri.


Bu Lastri memandangnya dengan penuh kebencian.


"Bu, aku mohon ampun..! Demi Cila, bukankah ini sangat sayang padanya? Sayang ibu ke dia melebihi sayang ku sebagai ibu kandungnya." ucap Anita lirih.


Bu Lastri menjambak rambutnya dengan keras.


"Ampun, Bu. Lepasin, Bu..!" ucapnya memohon.


"Berani sekali kau mengingatkan kalau aku menyayangi Cila.. Tentu saja, karna kau telah membohongi kami mentah-mentah."


Bentak Bu Lastri geram.


"Benar kata ibu, kau tega sekali membohongi keluargamu sendiri , kenapa?


Dari awal aku sudah curiga saat aku melihatmu check-in di hotel dengan seorang pria." timpal Siska.


Anita hanya tertunduk malu.


Ia tidak bisa lagi mengancam Siska dengan uangnya.


"Ilham, kenapa kau masih membiarkan pelacur ini disini? usir dia ke jalanan...!"


Perintah Bu Lastri dengan kejam.


"Jangan lakukan itu, Bu..! Aku mohon. Aku tidak punya keluarga lagi selain kalian.."


Anita memegangi kaki Bu Lastri, ia berharap Bu Lastri akan berubah pikiran.


"Kalau aku usir dia sekarang, itu terlalu enak buatnya. Aku ingin ia juga merasakan penderitaan Arini selama ini." ucap Ilham singkat.


Cila menangis saat melihat Bu Lastri, anak itu memang terlanjur dekat dengannya.


Bu Lastri kembali meneteskan air matanya. Saat melihat Cila, bayangan kejadian saat dia mendorong Arini dan membuat cucunya meninggal terbayang kembali.


Ia membiarkan Cila yang menangis minta


Di gendong olehnya.


Hatinya sangat nyeri saat mengingat Cila adalah anak Anita dengan pria lain.


Siska menggamit tangannya.


"Bu, jangan ikutkan Cila dalam peperangan ini. Dia masih kecil tidak tau apa-apa." kata Siska mengingatkannya.


Bu Lastri tidak mengindahkan nasehat putrinya. Ia terus saja meninggalkan Cila yang menangisinya.

__ADS_1


Hati Anita semakin teriris menyaksikannya.


"Jangan hukum anak ku atas kesalahan ku tuhan...!" rintihnya dalam hati.


__ADS_2