Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 89


__ADS_3

Ilham bisa merasa puas hanya dengan mendengar suara Arini.


Ia merasa heran dengan dirinya sendiri, kenapa dia merasa jatuh cinta lagi pada Arini sang mantan istri.


Bahkan cinta yang ia rasakan sekarang cenderung lebih besar dan menggebu ketimbang dulu.


Sayang seribu sayang kini Arini sudah tidak sendiri lagi. Hal itu membuat rasa penyesalannya semakin tidak terkendali.


Dalam otaknya hanya ada pertanyaan 'seandainya' dan seandainya saja.


Tak jauh berbeda dengan Anita yang semakin terpuruk. Dari hari ke hari suami dan mertuanya tak berhenti menyiksa bathinnya.


Bagaimana cara bu Lastri dan Ilham menjauhkan Cila darinya menjadi pukulan bathin paling menyiksa untuknya.


Seperti pagi itu, Anita Ingi Sekali menggendong bocah perempuan itu yang kebetulan lewat di depannya.


Ia tertegun saat Cila menolak dia dekati


"Cila, ini ibu..!" ucapnya penuh haru.


Bocah dua tahun itu tidak perduli.


Ia malah berlari ke arah sus nya.


"Anakmu tidak akan mengakui seorang pel***r sebagai ibunya!" kata


Bu Lastri yang sudah berdiri memperhatikannya.


"Harusnya kau berterimakasih, karena Setelah apa yang kau perbuat, kami masih mau menampung mu dan Cila disini." imbuhnya lagi.


Anita hanya terdiam.


Ilham dan Bu Lastri terus menyiksa perasaan Anita.


Sampai suatu hari tiba-tiba Anita merasa tidak tahan lagi dan jatuh pingsan.


Tidak ada orang dirumah, hanya Bu Lastri dan pengasuh Cila.


"Biarkan saja, pasti dia hanya berpura-pura." ujar Bu Lastri sinis.


Namun setelah di tunggu beberapa menit, Anita tidak kunjung sadar juga, bu Lastri menjadi panik.


Ia membawa Anita kerumah sakit,


Bu Lastri di panggil Dokter di ruangannya.


"Sakit apa sebenarnya wanita itu, Dok?" tanyanya tak sabar.


"Kami masih perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut. tapi gejala awal yang di tunjuk kan cukup serius.. Ia mengalami pembengkakan di alat kelaminnya."


Bu Lastri ternganga.


Ia keluar dari ruangan dokter dengan penuh tanda tanya.


"Rasain kau, pasti ini upah dari perbuatannya selama ini." umpatnya tanpa belas kasihan.


Dokter menemui Anita secara khusus.


"Sejak kapan ibu merasakan keluhan di daerah kelamin? "


"Baru seminggu ini, Dok. Saya sakit apa sebenarnya?" ia sangat was-was:sekaligus penasaran.


"Maaf, apakah ibu sering berhubungan dengan banyak orang selain pasangan?"


Pertanyaan dokter itu membuat Anita terhenyak karena mengingat dosa-dosanya.


"Iya, dokter.." Anita mengangguk malu.


'Ini belum pasti, tapi ciri-ciri yang ibu derita, ibu terpapar HIV Aids."

__ADS_1


Bagai di sambar petir di siang bolong Anita mendengar penjelasan dokter muda di depannya itu.


"Tuhan.. Begitu berat kah karma yang harus ku tanggung...." bathinnya merintih.


Anita pulang sendiri tanpa Bu Lastri yang sudah meninggalkannya.


Kabar tentang penyakit kutukan yang baru di dengarnya membuat runtuh seluruh pertahanannya selama ini.


Mulai saat itu ia sering jatuh pingsan tiba-tiba.


Di tambah bengkak di area sensitifnya semakin menjadi.


membuat ia semakin tidak percaya diri.


Ilham tidak pernah lagi menyapanya secara baik-baik, apalagi Bu Lastri.


Yang masih memperlakukannya dengan wajar di rumah itu hanyalah Siska.


Anita tidak pernah mengatakan penyakitnya kepada Mertua dan suaminya.


Hatinya sudah sangat terluka oleh Cila yang sudah tidak menganggapnya, di tambah penyakit kutukan yang di deritanya.


Suatu hari Anita kepergok oleh Ilham sedang mengkonsumsi suatu obat. Tak sengaja kertas di tangannya terjatuh. Ilham langsung memungutnya. Ia kaget saat mengetahui penyakit yang di derita Anita.


Antara kasihan dan rasa benci bercampur aduk dalam hatinya.


Ilham mengusap airmatanya saat ada orang mengetuk pintu depan.


Ia terheran melihat dua orang pria sedang berdiri dengan angkuh di depan pintu.


"Cari siapa, ya pak?"


"Bu Lastri.." jawab seorang dari mereka.


Wala merasa heran, Ilham mempersilahkan mereka duduk di teras. Dia sendiri Memanggil Bu Lastri di kamarnya.


"Bu, ada orang mencari ibu di depan."


"Ada urusan apa mereka dengan ibu?" selidik Ilham.


"Ibu mohon maaf.. Ibu tidak pernah cerita, tapi..." ucapnya ragu.


Bu Lastri bergegas kedepan.


"Maaf, bapak-bapak.. Mau minum apa?"


Sapanya ramah.


"Jangan berbasa basi, Bu Lastri. Kami kesini karna suruhan juragan Tohir. Ibu pasti sudah tau!" kata si brewok dengan garang.


"Tenang, saya minta waktu satu Minggu lagi.. Kalau sudah ada uangnya saya langsung ke juragan." jawab Bu Lastri.


Ilham yang bersembunyi di balik pintu hanya mendengarkan.


Setelah melewati drama yang panjang sampai Bu Lastri mengeluarkan airmata palsunya, kedua pria itu akhirnya pergi.


Ilham mendekati ibunya yang terduduk lemas di kursi.


"Siapa mereka dan apa maksudnya dengan menagih uang pada ibu?" tanya Ilham beruntun.


Hatinya mulai tak enak.


"Waktu kau sakit, ibu butuh uang banyak untuk biaya pengobatan mu dan Anita.


Pihak rumah sakit minta ibu menyiapkan uang lima puluh juta baru mereka mau mengoperasi kalian."


Ilham masih terdiam.


"Dari mana ibu mendapatkan uang sebanyak itu kalau tidak berhutang? karenanya ibu menerima tawaran Denis. Ibu mengambil uang dari Denis sebesar lima puluh juta. Tapi karna ibu merasa tidak suka padanya, ibu meminjam ke juragan Tohir untuk melunasi uang Denis.

__ADS_1


Waktu itu Ibu pikir tidak akan menerima bantuan Denis dan istrinya."


Ilham ikut gelisah karna cerita ibunya.


"Lalu dengan apa kita akan melunasinya.?"


"Ibu juga tidak tau.. Tidak ada cara lain lagi kecuali kita berhutang lagi."


"Tapi itu tutup lobang dan menggali lobang yang sama, Bu." keluh Ilham.


"Tidak ada cara lain lagi." jawab Bu Lastri pasrah.


Hari itu Ilham berusaha mencari pinjaman kesana sini. Namun hasilnya nihil.


Siapa sih yang meminjami uang sebanyak itu tanpa jaminan apa pun?


Pihak kantor juga sudah enggan menolongnya karna sudah terlalu sering.


"Kita terpaksa harus angkat kaki dari rumah ini kalau dia hari lagi kita tidak bisa melunasi uang pinjaman." kata Bu Lastri sedih.


Benar saja..


Hari yang di janjikan tiba, karna Bu Lastri tidak bisa menyediakan uang yang di maksud.


Mereka terpaksa keluar dari rumah itu.


Bu Lastri yang terlihat paling shok.


"Kita mau kemana?" ucapnya putus asa.


Karna mereka tidak bisa membayar jasa baby sitter lagi, terpaksa Anita sendiri yang memegang Cila, walaupun agak kesulitan dengan kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan, Anita menerima dengan senang hati.


"Tempat kost ku memang kecil, tapi untuk menampung sementara sebelum kalian mendapat kontrakan baru tidak apa-apa lah...," usul Siska.


Tidak ada pilihan lain, Ilham dan Bu Lastri menerima usulnya.


"Kenapa nasib keluargaku begitu buruk setelah meninggalkan Arini?" keluh Ilham dalam hati.


Sedangkan Bu Lastri terus menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi.


Di tempat kost Siska yang sempit, terpaksa Bu Lastri dan Anita harus berbagi tempat.


Sedangkan Ilham memilih keluar menyusuri jalanan tanpa arah tujuan.


Antara bingung gelisah dan penyesalan menyatu dalam dadanya.


Ia tidak tau di tempat kostnya, Anita sedang menangis panik karna Bu Lastri tiba-tiba jatuh pingsan, saat bangun badannya tidak bisa di gerakkan lagi.


Iia mengalami kelumpuhan tiba-tiba.


Siska yang sedang menginap di tempat temannya pulang saat di telpon Anita, Ia kaget saat mengetahui keadaan ibunya.


"Ibu, kenapa?" raungnya histeris.


Ia menggoncang tubuh ibunya, Bu Lastri tidak bereaksi. Hanya matanya yang seolah ingin mengatakan sesuatu.


Ilham terduduk lemas di kursi.


Ia menatap keadaan Bu Lastri yang terbaring diam tidak bisa menggerakkan anggota badannya.


Karna sibuk mengurus ini dan itu selama Bu Lastri sakit, bukan lagi teguran yang di terima Ilham, tapi surat pemecatan.


Keadaan Ilham sangat menyedihkan.


Di saat ia benar-benar butuh biaya hidup dan perawatan ibunya, ia menjadi pengangguran.


Lengkap sudah penderitaan keluarga itu.


Sangat berbalik dengan keadaan Arini yang bahagia dengan suaminya, Denis.

__ADS_1


Denis sangat memanjakannya..


Apalagi setelah dia mengutarakan ingin punya anak, ia semakin memanjakan isterinya.


__ADS_2