
Shofia tercekat saat Denis mengatakan kalau dirinya sudah menemukan orang yang di cintainya.
Shofia tau orang yang di maksud Denis adalah Arini, tapi ia belum siap mendengar kalau Denis akan mengatakannya langsung seperti saat ini.
"Siapa, Mas?"
"Arini.. dulu kau pernah mempertanyakan tentang statusnya dan keadaannya yang sedang hamil, walaupun sebenarnya itu tidak berpengaruh sedikitpun, tapi mas Elang tegaskan, sekarang dia sudah bebas, sudah resmi bercerai, dia juga sudah kehilangan anaknya. Jadi tidak alasan lagi buatmu untuk tidak merestui hubungan kami."
Shofia memalingkan mata basahnya.
"Pria ini sangat keterlaluan, dia tau semua yang dia katakan ini akan menyakiti hatiku, tapi tetap saja dia mengatakannya." bathin Shofia.
Ia berusaha tegar dan menerima semua penjelasan Denis.
"Kau harus mengerti! bukan sekedar akan mencobanya." tegas Denis sambil memegang kedua bahu gadis itu.
"Apakah aku kurang cantik, Mas?" tanyanya dengan airmata yang sudah mengembun.
"Kau sangat cantik, masih muda dan tidak ada kekurangan sedikitpun. Tapi perasaan tidak bisa di paksa. Cinta tidak bisa kita atur harus berlabuh pada siapa, cobalah membuka hatimu untuk orang lain. Mas, yakin kau akan menemukan orang yang tepat untukmu.
Kau mengerti, kan?"
Shofia mengangguk walau hatinya terasa perih.
"Kita pulang saja Mas.!" ajaknya tiba-tiba.
"Tidak jadi makan?" tanya Denis heran. Tadi Shofia bersemangat sekali untuk mengajaknya makan, tapi sekarang tiba-tiba saja ingin pulang.
Aku agak urang enak badan, Mas." ucapnya beralasan sembari mengusap tengkuknya.
"Kau sakit?" Denis meraba keningnya. Shofia menggeleng.
Sepanjang perjalan pulang, Shofia lebih banyak terdiam.
Denis membiarkannya, Shofia perlu waktu untuk menerima kenyataan yang barusan ia dengar.
Di tempat lain, secara tak sengaja Ilham melintas di depan toko Arini.
Ia penasaran dengan orang yang mengantri belanja.
Ia pun turun lalu masuk dan memilih beberapa potong kue.
"Silahkan bayarnya di kasir, Pak!" ucap seorang pramuniaga.
Ilham menuju meja kasir.
"Ini, pak kuenya. dan terimakasih." ucap Arini sambil menangkupkan kedua tangannya.
Namun mereka sama-sama tercekat saat menyadari dengan siapa mereka berhadapan
"A-rini?" Ilham kaget, begitu pula Arini.
__ADS_1
Ini pertama kali mereka bertemu kembali setelah bercerai.
"Ini belanjaannya dan silahkan cepat keluar dari sini!" Arini menyodorkan bungkusan kue yang di bayar Ilham.
Ilham menatap Arini tanpa berkedip.
Ia kagum pada penampilan Arini yang sudah jauh berubah.
Arini terlihat jauh lebih cantik dan terawat. Sangat jauh berbeda dengan saat dia tinggal bersama Ilham, dia juga selalu di olok bau bumbu oleh mertuanya.
"Pak, tolong suruh orang ini keluar dari toko saya!" perintahnya tanpa perasaan.
"Rin, aku ingin bicara sebentar saja." ucapnya memohon.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, di antara kita sudah tidak ada yang tersisa!"
bentak Arini dengan suara keras.
"Aku, tau itu. Aku juga tau, kau tidak akan percaya bahwa aku sangat menyesal."
Ilham memegang tangan Arini dan berlutut di depannya. Hal itu mengundang perhatian beberapa orang yang yang sedang belanja.
Aku sangat menyesal Arini.." wajah Ilham terlihat sangat tersiksa.
Arini sangat muak melihat pria di depannya itu. Ia merasa heran, kenapa dulu bisa begitu cintanya pada pria yang tak bertanggung jawab itu.
"Pergilah dari sini, aku tidak ingin melihatmu lagi!" ia mendorong Ilham sampai hampir terjatuh.
"Apa? anak kita? dasar pria tidak malu!
Kau tidak pernah punya anak dari Arini. Cam, kan itu!!" suara Arini begitu tegas hingga membuat Ilham semakin terisak.
Sungguh hal yang tidak di sangka,.Bu Lastri datang ketempat itu karna ingin mencicipi kue yang di jual Arini.
"Mbak saya coba yang ini, ya!" ia menunjuk salah satu kue yang terpajang di lemari kaca.
Saat itulah dia mendengar keributan di dekat meja kasir.
"Ilham, kau disini?" Dia sangat terkejut saat melihat Ilham bersimpuh di depan Arini.
"Bangun!" ia langsung menarik tangan Ilham untuk bangkit.
"Tidak pantas seorang pria gagah seperti mu mengemis pada seorang wanita. Apalagi hanya karena wanita ini!" Bu Lastri mencibir ke arah Arini dengan congkaknya.
Arini masih terdiam, ia masih menunggu hinaan mantan mertuanya itu selanjutnya.
"Kau jangan besar kepala karena Ilham masih belum bisa melupakanmu, dalam hal ini memang putraku yang bodoh, dia masih saja mengejar wanita tukang selingkuh ini sampai sekarang.
Padahal, dia sudah punya istri yang lebih cantik, anak yang lucu pula." ucap Bu Lastri dengan bangganya.
"Bu, jangan ikut campur, ini urusan Ilham. ibu, pergilah." Ilham membujuk ibunya.
__ADS_1
Namun Bu Lastri mengibas tangan putranya.
"Ibu, ibu.. ayo sini! mohon perhatiannya sebentar. Wanita ini adalah mantan istri dari putraku yang tampan ini, tapi dia telah berani bertemu dengan pria lain di belakang anak ku secara diam-diam, dan setelah putraku meninggalkannya, sekarang dia datang untuk menggodanya lagi."
Ilham melongo oleh ocehan ibunya
"Ibu, kau sudah salah paham." kata Ilham memegangi tangan ibunya.
"Salah paham apanya? hei mbak, mana bos mu pemilik tempat ini, bilang padanya, jangan menerima pelanggan yang tidak tau diri ini, dia adalah wanita pembaca sial!" ucapnya bersemangat.
Semua orang yang ada disitu bertambah bingung.
Sebelumnya mereka melihat Arini yang memojokkan Ilham, tapi kini justru Bu Lastri yang menghina wanita itu.
Arini masih berusaha diam.
"Sudah selesai? ayo lanjutkan, Bu! jangan cuma menghinaku saja, kau ceritakan juga pada mereka bagaimana putra kesayanganmu ini telah berkhianat pada mantan istrinya hingga membuahkan seorang anak!" ucap Arini tenang.
Mendengar itu, Bu Lastri semakin terpancing emosinya.
Ilham berusaha menjelaskan kepada ibunya, tapi wanita tua itu sudah benar-benar kalap karna kebencian di hatinya.
"Kau sudah berani sekarang? apa yang kau banggakan? kau tidak ingat saat dulu aku memungut mu jadi menantu, harusnya kau berterimakasih karna kami sudah mengangkat derajat mu!" ucapnya lagi.
Arini berusaha menenangkan gemuruh di dadanya karna ocehan Bu Lastri.
Ia tak habis pikir kenapa ada orang seperti Bu Lastri yang menimpakan semua kesalahan pada orang lain.
Padahal dia sangat tau apa yang sudah di lakukan putranya.
"Berterima kasih? oh, ya.
terimakasih ibu Lastri..
Karena kau sudah membuka mataku, kau menyadarkan ku bahwa kau tidak pantas jadi seorang mertua. Aku juga berterimakasih karna kau juga, aku bisa lepas dari anak mu.
Bu Lastri merasa kesal karena Arini selalu bisa menjawab setiap perkataannya.
"Hey, mana bos mu? cepat panggil kesini! kue yang kalian jual ini memang enak, tapi karna kehadirannya disini jadi mempengaruhi rasanya." ucapnya pada pegawai Arini.
Ilham hanya bisa menghela nafas panjang melihat tingkah ibunya.
"Maaf, ibu. kalau ibu mau bertemu orang yang punya toko ini, beliau lah orangnya."
Saat pegawai toko itu menunjuk Arini, Bu Lastri malah tertawa.
"Kalian jangan bercanda, dia bisa punya usaha sebesar ini? kalian pikir aku percaya? wanita ini bahkan tidak akan mampu membeli sepotong roti tanpa pemberian dari anak ku!" ucapnya congkak.
Hati Arini kembali teriris mengingat penderitaannya di rumah Ilham dulu.
"Aku juga tidak perlu pembeli dari orang sombong seperti anda!" jawab Arini lalu mempersilahkan pembeli lain untuk di dilayaninya.
__ADS_1
"Silahkan, mbak.! tidak usah dengarkan Kata-kata dari ibu ini. maklum dia sudah mungkin karna frustasi dan usia dia jadi pikun." ucap Arini tersenyum mengejek.