Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 34


__ADS_3

Malam harinya, Anita sudah berdandan secantik mungkin. Dia sengaja memakai busana yang seksi walaupun dengan perut yang sudah kelihatan tidak rata.


Ilham masuk kamar karena ia merasa matanya begitu berat.


Namun ia menahan langkahnya saat melihat Anita sudah menunggunya di tempat tidur dengan baju seksinya.


Ilham merasa heran. Kenapa dia merasa biasa saja melihat Anita yang berpose begitu seksi. Kenapa kelelakiannya tidak terusik sama sekali? Ia merasa merinding membayangkan kalau senjata pusaka nya tidak akan bertuah lagi.


Ilham masih berdiri mematung di depan pintu, saat Anita memanggilnya dengan suara lemah gemulai.


"Mas, kenapa berdiri di situ?"


Ilham jadi salah tingkah karna kepergok sedang berdiri di sana.


"Emmh.. aku, aku merasa gerah di kamar!"


Melihat Ilham hendak kembali ke ruang tamu, tentu saja Anita tidak membiarkannya.


"Mas, kenapa kau enggan masuk kamar? apa aku ada salah?" tanyanya dengan bahasa tubuh yang menggoda.


"Tidak, aku cuma merasa gerah saja. Ingin cari udara segar." kilahnya beralasan.


"AC nyala lho Mas, kenapa masih kegerahan?"


Anita tidak memberi Ilham kesempatan mencari alasan lagi.


Ia menggiring Ilham masuk dan mengunci pintunya dari dalam.


Ilham tertegun. Sekarang dia terjebak satu kamar dengan Anita.


Hal yang biasa baginya saat masih menjalani hubungan diam-diam dengannya.


Tapi kenapa sekarang berbeda? Ilham tak habis pikir. Kenapa dia tidak bisa bergairah melihat Anita saat ini.


Anita memakai berbagai cara untuk memancingnya, tapi Ilham tetap tenang. Justru Anita yang seperti cacing kepanasan karena menahan gejolak hasratnya.


Melihat Ilham dingin seperti gunung es, membuat Anita capek dan menyerah. Mereka tidur saling diam dan memunggungi.


Ilham merasa ada yang tidak beres pada dirinya. Dimana kejantanannya selama ini yang biasa ia bangga-banggakan di depan Anita.


Karna merasa penasaran. Ia meraba senjatanya itu, ternyata masih normal letak dan ukurannya seperti biasa. Lalu dimana letak kesalahannya?"


Paginya, Bu Lastri kembali memeriksa keadaan putranya.


"Ilham.. kenapa kau belum menunaikan kewajibanmu!"


Bi Lastri memutar tubuh Ilham sambil menggerutu.


"Ibu, apa maksud ibu?" tanya Ilham tak terima.


"Kemarin kau tidak keramas, sekarang juga begitu! kewajibanmu bukan hanya memberi nafkah lahir pada Anita, tapi bathin juga!" bentaknya kesal.


Ilham terdiam. Ia teringat Arini yang selalu teraniaya di rumah itu. Jangankan mendapat pembelaan seperti itu dari ibunya, kata kata yang tidak menyinggungnya saja jarang dia dapatkan.


Ilham mendesah panjang, dadanya terasa sesak saat mengingat Arini.


"Sedang apa Arini sekarang? apakah dia baik-baik saja, apakah kandungannya juga baik-baik saja?" ucapnya dalam hati.


Ilham baru menyadari, betapa sakitnya menahan rindu, betapa perihnya mengharap tapi terabaikan. Itulah yang terjadi sekarang padanya.


Seberapa pun keras usahanya untuk membawa Arini kembali, tetap saja Arini tidak akan bersedia.

__ADS_1


Dia sudah mendapatkan kenyamanan dan perlindungan yang selama ini tidak dia dapatkan,


Ilham menyadari itu semua. Tapi ia merasa tidak bisa mengabaikan Arini, perasaanya pada wanita itu semakin besar justru di saat keadaan sedang tidak berpihak pada dirinya.


Keberangkatan Ilham pagi itu ke kantor di iringi omelan Bu Lastri.


Tampak olehnya ibunya itu sedang membesarkan hati Anita.


"Kau harus sabar, menghadapi pria macam Ilham memang harus memakai hati. jangan pakai akal..." ucapnya memegang tangan menantu kesayangan nya itu.


Anita hanya mengangguk pasrah.


"Yang anaknya aku atau Anita? ibu memang aneh!" sungutnya dan melangkah keluar.


"Mas mau menemui mbak Arini, kan?"


Ilham bertemu Siska di halaman.


Mas belum tau Sis.."


"Kalau kemarin dia marah saat kau temui,


sekarang temui lagi. Kalaupun nanti dia marah lagi, besok usaha lagi!" Siska terus memberinya semangat.


"Terimakasih ya, Sis. kata-kata mu membangkitkan semangat Mas Ilham lagi." Ilham mengusap kepala gadis itu.


***


Denis termenung memikirkan apa yang di alami Arini di ruang rapat hari ini.


Ia merasa geram pada pada Tiara.


"Benar kata Arini, kedekatan ku dengannya hanya membuat masalah baginya."


Denis tidak tahan ingin melihat keadaannya.


Tapi bila itu dia lakukan, pasti Tiara akan berbuat lebih nekat lagi.


"Aku tidak mau memberi masalah lagi buatnya, aku harus menahan diri untuk tidak bertemu dengannya di kantor ini."


Denis merasa tidak sabar menanti jam kantor usai. Sebentar-sebentar dia melirik ponselnya. Ia berharap Arini menelponnya.


Tapi harapannya hanya tinggal harapan.


Karna tidak tahan, Denis memencet nomor Arini.


"Tidak tersambung, apakah Arini mematikan ponselnya?"


Hati Denis semakin gelisah.


Tapi bila dia melihat keadaan Arini sekarang, Tiara pasti sedang mengawasinya.


Jam pulang Akhirnya tiba juga.


Bergegas Denis berlari keluar. Ia berharap bertemu Arini di parkiran seperti biasa.


Denis kecewa, Arini tidak ada di manapun.


Denis mendesah kecewa.


Secara tak sengaja dia menangkap sosok Arini yang sedang bicara dengan Ilham.

__ADS_1


"Dia lagi, benar'-benar laki-laki tidak punya muka!"


Denis mendekati mereka.


Ilham memandang Denis dengan sinis.


"Aku sudah tegaskan, aku tidak mau dan tidak ingin lagi berhubungan denganmu bapak Ilham Kurniawan yang terhormat. jadi tolong pergilah, masalahku sudah banyak. Jangan di tambah lagi."


Arini berdiri dengan wajah merah penuh amarah.


Denis tidak berani menyapanya.


"Maafkan aku Rin, aku berjanji tidak akan memberi masalah lagi padamu. kita akan cari tempat tinggal. kau tidak akan serumah lagi dengan mereka. kita akan mulai dari awal lagi."


"Dasar laki-laki egois!" gumam Denis geram.


"Kau tidak perlu ikut campur!"


"Kau yang diam, kau harusnya ngaca!" sudah menyakiti hatinya, sekarang dengan gampangnya mau meminta maaf dan kau anggap semua selesai!"


"Apapun yang kau katakan, Arini masih istriku!


Lalu kau siapanya hah?" ucap Ilham dengan angkuh.


Denis terdiam. apa yang di katakan Ilham ada benarnya.


Memangnya siapa dirinya bisa mempertanyakan Ilham yang karuan masih suaminya.


Sedangkan dirinya? boro-boro Arini menganggapnya teman, setelah ia membernya masalah tadi pagi.


Arini melirik Denis ya g tertunduk lesu


Ilham tertawa menang.


"Aku janji, kau anak kita adalah prioritas ku!"


"jangan salah, dia bukan anakmu!" tegas Arini.


Dia sudah bisa. melihat tingkah Ilham Yang plin plan seperti anak kecil, kemarin dia menuduh Denis ayah dari anaknya, Sekarang dia malah mengakuinya."


"Lalu siapa ayahnya? aku yakin kau tidak akan bisa menjawabnya! karna memang itu anakku!"


ucap Ilham percaya diri.


"Kau yakin sekali kayaknya mas?"


Ilham tersenyum bahagia, kali ini dia yakin Arini akan ikut pulang karena sudah terpojok


Arini memandang ke arah Denis yang sedang memandangi ujung sepatunya.


"Denis adalah ayah dari anak ku!"


Kata-kata Arini yang pelan namun tegas, membuat kedua pria di depannya sama terkejutnya.


Mulut Denis terkunci, ia tidak menyangka Arini akan mengakui dirinya sebagai ayah dari


anaknya.


Sedangkan Ilham menggerutu kesal.


"Dan ingat Mas, diantara kita tidak ada hubungan lagi!"

__ADS_1


Arini melangkah meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Denis


💞Tolong dukungannya guys, dengan like koment vote dan Gift. jangan lupa klik favorit.


__ADS_2