Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 39


__ADS_3

Keadaan rumah tangga Ilham semakin berantakan. Di ia rumah selalu uring-uringan.


Di kantor pun tidak fokus pada pekerjaan, hal itu mengakibatkan ia mendapat teguran dari atasannya.


Keadaan perutnya yang semakin membesar membuat Anita minta istirahat dari pekerjaannya.


Karna kehamilannya pula yang membuatnya tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah sedikitpun. Terpaksa Bu Lastri sendiri yang turun kedapur untuk mengerjakannya.


"Aduh, lututku rasanya mau copot! masa di usia yang segini masih harus mengurus pekerjaan rumah." ratapnya dengan suara keras.


"Siska, tolong goreng ikan ini! " ucapnya sembari duduk di kursi sambil memegangi lututnya


"Aduh maaf bu, Siska buru-buru, ada jam kuliah lebih pagi. aku berangkat!"


Siska mencium tangan ibunya dan berlari keluar.


'Anita, tolong potongin sayur ini, encok ibu kumat kayaknya." teriaknya, namun tidak ada jawaban.


Karna penasaran, ia mendekati kamar Ilham.


Di lihatnya Ilham sedang mengobrak abrik isi lemari karna mencari sesuatu.


"Nit, dimana Laos kaki ku?"


"Mas, apa ya g kau lakukan? hei berhenti! baju-bajuku ikut berantakan." pekik nya.


"Aku mencari kaos kaki lagi sebelah." jawabnya sambil terus mencari.


"Kaos kaki di laci paling bawah..!" jawab Anita kesal.


"Sana kedapur, ibu memanggil mu dari tadi!" ujar Ilham.


Anita kembali menarik selimut.


"Aku masih ngantuk Mas, ibu pasti mengerti. Karna dia sudah pernah hamil kayak aku!" jawabnya jutek.


Ilham tidak menggubrisnya lagi.


Bu Lastri yang semula ingin memanggil Anita, mengurungkan niatnya.


Ia duduk terpekur di dapur.


Dulu, saat Arini masih ada di rumah itu,


Dirinya tidak pernah turun kedapur. Ia hanya kedapur untuk memprotes rasa masakan yang tidak sesuai menurutnya.


Tapi jujur, ia mengakui masakan Arini sangat enak. Bahkan lebih enak dari masakan rumah Padang di ujung gang mereka itu.


Tapi dasar Bu Lastri yang selalu sirik, ada saja alasannya untuk menjatuhkan Arini.


Entah masakan yang kurang enak, entah cucian yang kurang bersih dan sebagainya.


Arini tidak pernah mengeluh apa pun.


Tapi lihatlah perbedaanya sekarang? dia terpaksa harus memasak dengan susah payah. Karena menantu kesayangannya tidak mau terkena asap dapur. Ia hanya sibuk berdandan dan berdandan saja.


"Ilham, sepertinya kita harus mencari jasa pembantu rumah tangga Nak! ibu sudah tua, tenaga ibu sudah tidak seperti dulu lagi." ucapnya memohon.


"Tapi dari mana kita dapat uang untuk jasa pembantu Bu? kan masih ada Anita dan Siska,." jawab Ilham cuek.


Anita terbelalak.


"Aku,as? harus bekerja di dapur? oh tidak, kuku ku bisa l rusak, biaya perawatannya sangat mahal."


Ilham dan ibunya membuang muka.


"Kau yang ngotot jadi menantu di rumah ini, kau juga yang ingin Arini angkat kaki dari sini.

__ADS_1


Lalu kenapa tidak mau mengambil alih pekerjaannya?"


sindir Ilham.


"Tentu saja aku tidak mau, yang jelas aku bukan Arini yang mau di jadikan budak di rumah ini!" Ilham dan ibunya tercengang.


"Maksud aku, aku wanita karier Mas, aku tidak bisa dong kalian samakan dengan Arini.


Lagian aku sedang hamil, ibu tau kan rasanya orang hamil kaya gimana?" matanya memandang Bu Lastri.


Bu Lastri malas berdebat dengan Anita, kalau Arini jelas akan diam dan menerima semua omelannya. Tapi Anita, Dia akan terus mengoceh seperti burung beo.


"Ok, begini saja, kalau kau tidak mau turun kedapur, keluarkan uang untuk menyewa jasa pembantu. bagaimana?" usul Ilham acuh.


Sebenarnya masalah itu tidak terlalu membebaninya.


Ia tidak perduli kalau dirumah tidak ada makanan. toh dia masih bisa makan di luar.


Anita terlihat berpikir keras.


"Aku tidak mau mengeluarkan uang untuk keperluan seluruh keluarga ini, mending cuma aku dan mas Ilham. ini lengkap dengan ibu dan adiknya!" sungut Anita dalam hati.


Ilham tersenyum sinis melihatnya.


Bu Lastri tidak banyak bicara, semua yang terjadi seakan bertitik balik pada Arini.


Menyesal kah Bu Lastri? tidak! Dia masih terus menyangkal bahwa Arini adalah seorang istri dan menantu yang baik.


Pagi itu kembali terjadi kehebohan


"Mbak Anita ayo bantu di dapur, jangan mau enaknya saja. Bangun tidur langsung sarapan!" ucap Siska keras berteriak dari luar kamarnya.


"Ayo!" Ilham memberi isyarat pada Anita agar kedapur.


Di dapur ia seperti jijik menyentuh sesuatu.


"Aku tidak mau dua duanya!" jawabnya putus asa.


Ya, sudah. jangan ikut makan nantinya"


ancam Siska.


Anita hanya duduk-duduk melihat mertua dan ipar nya bekerja.


"Kenapa aku harus capek-capek kerja, aku bisa pesan makanan.." ucapnya cuek.


Siska semakin geram melihatnya, hampir saja dia melempar Anita dengan piring di tangannya.


"Begitu, tuh tingkah menantu kesayangan ibu, kita yang malah di jadikan babu!" gerutu Siska.


Bu Lastri hanya terdiam. Dia tidak bisa bereaksi apapun karena memang Anita adalah menantu pilihannya.


Anita bergegas keluar karna pesanannya sudah datang.


Dengan bangganya pula dia membawanya kedepan Siska.


Ia membawa dua piring ke kamarnya.


Siska hanya bisa menatapnya dengan sinis.


Bu Lastri dan Siska sudah duduk di meja makan saat Ilham datang bergabung.


"Lho Mas. bukannya kalian sarapan di kamar? mbak Anita sudah pesan makanan." sambut Siska.


"Aku lebih suka makan di meja makan seperti biasa." ucapnya datar.


Ilham masih terngiang kata-kata Anita barusan.

__ADS_1


"Mas, kita makan disini, saja! aku sudah pesan makanan.."


"ibu dan Siska?"


"Mereka di meja makan lah, biarin saja mereka makan masakannya sendiri." jawab Anita santai.


"Kalau begitu, nikmati saja makananmu sendiri!" Ilham tak memperdulikan teriakan Anita lagi.


Ilham sarapan hanya sedikit. Dengan suasana rumah yang selalu ribut membuatnya tidak selera makan.


"Kenapa sarapannya hanya sedikit?" sapa ibunya.


"Aku rindu masakan Arini, Bu!" jawabnya lirih.


Mendengar itu, Siska ikut meletak kan sendoknya.


Suasana di meja makan itu kembali hening.


"Mas, nanti sore jadwal aku periksa kandungan." ucap Anita.


Ilham hanya mengangguk.


Anita tidak puas dengan respon suaminya. Ia berkata lagi.


"Setelah ke dokter, kita makan di luar, ya!"


Ilham kembali hanya mengangguk.


Sore harinya, Saat mereka pergi memeriksakan kandungan.


Tak sengaja berpapasan dengan Arini dan Denis.


Mereka hanya terdiam tanpa saling menyapa.


Arini terlihat cantik dan segar dengan polesan make up tipisnya.


Apalagi sekarang dia terlihat lebih Lues berjalan di samping Denis, tidak ada lagi kecanggungan seperti dulu.


Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Begitu pula Denis yang tampak sangat perhatian pada Arini.


Mereka melangkah melewati pasangan itu tanpa bicara.


Mata Ilham terus mengikuti langkah keduanya.


Hal itu membuat darah Anita mendidih.


"Rin, tunggu sebentar!"


Ilham mengejarnya.


Arini berhenti dan menatap Denis yang mengangguk padanya.


"Ada apa lagi?"


sapa Arini ketus.


"Aku sudah menerima surat dari pengadilan.


Aku tidak menyangka kau begitu serius untuk berpisah, Rin!"


'Tidak ada yang tersisa,Mas. bila dalam sebuah hubungan sudah tidak ada rasa saling percaya,


buat apa di pertahankan?' kata Arini.


"Ada? kita masih punya sesuatu yang sangat berharga."?


Arini terdiam. ia menunggu ucapan Ilham selanjutnya.

__ADS_1


๐Ÿ’žOk guys.. selamat datang di kisahnya Arini๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2