Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 58


__ADS_3

Bu Lastri terdiam mendengar sindiran dari putrinya.


Ia tidak bisa lagi berpikir jernih.


Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah bagaimana caranya mengembalikan ketenangan rumahnya.


"Kalau menurutmu ibu bersalah, baiklah ibu terima. Tapi yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan rumah tangga kakak mu. Yang lalu sudahlah berlalu. kita pikirkan bagaimana kedepannya.' ucap Bu Lastri akhirnya.


Siska menggeleng.


Ia yakin ibunya berkata demikian hanya untuk menyudahi perdebatan dengannya.


Ibunya tidak tulus telah menyadari kesalahannya.


Ia juga heran kenapa kebencian ibunya sampai begitu dalam pada Arini, sehingga dia tidak bisa melihat kebenaran sedikitpun dari mantan menantunya itu.


"Percuma, Bu. Ibarat sebuah bangunan, yang kokoh itu adalah pondasinya. Ibu sudah menggoyahkan pondasinya, yaitu mas Ilham. Dia sudah kehilangan kepercayaan pada yang namanya hubungan pernikahan!" ucap Siska dengan ketus.


Bu Lastri terdiam. Ia tidak menyangkal kalau kata- kata Siska ada benarnya.


Namun gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui kesalahannya.


"Sudah kepalang tanggung. Aku harus mengembalikan ketenangan rumah ini bagaimanapun caranya." gumamnya pelan.


"Ibu punya rencana lagi?" sapa Anita tiba-tiba duduk dengan wajah kesalnya.


"Tidak, yang kemarin saja gagal mungkin mereka memang punya nyawa cadangan hingga selalu selamat dari usaha kita." bisik Bu Lastri.


"Terus ibu mau menyerah begitu saja? kehormatan keluarga kita di pertaruhkan, Bu!"


ucap Anita emosi. Ia merasa khawatir karena ibu mertuanya terlihat melemah.


"Mbak Anita jangan coba pengaruhi ibu lagi! kalau mau jahat, jahat saja sendiri. jangan ngajak- ngajak orang!" Siska yang mendengar Anita menghasut Ibunya tak tahan lagi untuk bicara.


"Diam kau anak kecil, kau tau apa tentang rumah tangga? yang ada di otakmu hanya uang, dan uang saja!" bentak Anita kalap.


"Kalau aku mata duitan masih mending, yang penting tidak merugikan orang. tapi kau, dengan alih-alih menyelamatkan kehormatan keluarga kau menghasut sana sini. percaya deh padaku, dengan sikap mu yang seperti ini bukannya membuat Kaka ku jatuh cinta, tapi malah tambah eneg melihat mbak Anita!"


jawab Siska tak mau kalah.


"Hentikan!" teriak Bu Lastri, namun Anita tak perduli.


"Beraninya kau..!" Anita sudah mengangkat tangannya hendak menampar Siska.


Namun tangannya di tangkap oleh Ilham yang tiba-tiba sudah di situ.


"Jangan coba-coba main tangan pada Siska!"


Anita menghempas tangannya dengan kesal.


"Kalau aku tidak boleh main tangan padanya, Ajari adikmu sopan santun bagaimana caranya bersikap pada orang yang lebih tua!"


Teriaknya emosi.


"Siska akan bisa bersikap baik pada orang yang baik pula!" jawab Ilham ketus.


Siska mengangguk.


"Cukup!! ibu bilang cukup. Ibu lelah mendengar perdebatan demi perdebatan di rumah ini!" Bu Lastri menutup kedua telinganya.


Semua terdiam. Tangisan Cila membuat Anita beranjak ke kamar melihatnya.


Semakin keluarganya tidak tenang, semakin Bu Lastri menyumpahi Arini sebagai penyebabnya.


"Arini sudah lama pergi, tapi kesialannya masih saja menghantui rumah ini!" omelnya geram.

__ADS_1


Sedangkan Anita sambil menenangkan anaknya, ia berpikir keras mencari cara membalas dendam pada Arini.


"Arini memang sudah pergi, tapi Arini kecil muncul di rumah ini!" ia menggeram kesal saat mengingat kelancangan Siska.


***


Sementara itu di rumah sakit.


Denis baru terbangun dari tidurnya.


Ia langsung memeriksa ponselnya. Ia berharap Arini sudah membalas pesannya semalam.


Ia mendesah kecewa saat tau Arini belum membalasnya sama sekali.


"Selamat pagi, Mas Elang sayang..!"


Shofia masuk dengan senyum manisnya.


"Pagi, Shof. Dari mana?"


"Dari luar cari kopi,mau?" Shofia meletakkan secangkir kopi di meja.


Denis menggeleng.


"Mas, menunggu kabar dari mbak Arini, ya?"


tanya Shofia dengan wajah kurang suka.


"Iya, dari semalam mas Elang kirim pesan belum di balas." jawab Denis.


"Memang aku liat Mbak Arini terlalu sombong. Sebenarnya apa sih yang mas Elang lihat dari seorang mbak Arini?"


selidik Shofia.


"Sudahlah, kau tidak akan mengerti hati orang dewasa."


"Aku sudah tujuh belas tahun, mas! aku bisa mengerti." Shofia tidak terima.


"Maksudku, kau tidak akan bisa mengerti kenapa mas Elang bisa suka padanya. itu yang tidak akan bisa kau pahami."


Shofia menatap lurus ke mata Denis.


"Mas Elang itu sempurna lho, sudah ganteng, mapan. Kenapa harus mbak Arini? lagi pula dia sedang hamil anak suaminya lho, mas Elang nyadar tidak? akan banyak sekali gadis cantik yang mengejar mas Elang. Bahkan yang jauh lebih muda dari Mbak Arini, seperti aku misalnya."


ucapnya pelan.


Denis tertawa,


"Kamu, suka pada mas Elang? gadis seusia mu itu masih labil. Mungkin hari ini kau merasa menyukai mas Elang. Tapi besok, saat kau melihat teman cowok mu yang lebih dari mas Elang, rasa sukamu juga akan berpindah ke dia. lain halnya dengan orang dewasa, mereka menjalin hubungan bukan lagi sekedar mencari kekasih untuk cinta cintaan, tapi lebih pada mencari pasangan hidup.


Deskripsi sayang orang dewasa juga sudah tidak sama, tidak lagi melihat pasangan dari fisik semata."


Shofia terdiam, sebenarnya ia tidak mengerti dan tidak mau mengerti dengan apa yang di katakan Denis.


"Kau mengerti, kan Shof? mas Elang harap, kau bisa membedakan mana sayang seorang adik terhadap kakaknya, mana sayang seorang gadis pada lawan jenisnya."


Denis meraih kepala gadis itu dan mengusapnya.


Shofia berusaha tersenyum. Walau dalam hatinya menangis.


"Oh, ya. Dokternya akan datang jam sembilan. mungkin mas Elang sudah bisa pulang sore ini." Shofia mengalihkan pembicaraan.


"Makasih, ya, tersenyum dong! mas Elang tidak mau kehilangan senyum ceriamu itu."


"Aku permisi cari sarapan dulu, ya!" ucapnya dengan wajah lesu.

__ADS_1


Denis mengangguk


Shofia menghilang di balik pintu, hatinya begitu hancur menerima penolakan dari pria yang sangat di cintainya itu.


"Ini bukan salah mas Elang saja, tapi juga kesalahan mbak Arini. kenapa dia harus muncul di tengah-tengah kami?"


Shofia terduduk lemas di kursi taman rumah sakit. Ia tidak tau lagi harus bagaimana untuk mendapatkan hati Denis kembali.


Denis juga merasa bersalah karna telah membuat gadis belia itu bersedih hati.


"Maafkan mas Elang Shof, tapi ini harus aku lakukan agar kau tidak berharap. Akan lebih menyakitkan lagi kalau kau mengetahuinya di kemudian hari."


Ting!


Denis tergesa membuka ponselnya.


Ia mendesah kecewa saat pesan yang masuk bukan dari Arini.


"kenapa kau tidak menjawab pesanku,Rin? apakah segitu sibuknya sehingga pesanku kau abaikan?"


Denis meletakkan ponselnya kembali.


Notifikasi ponselnya kembali berbunyi.


Namun kali ini Denis enggan membukanya.


"Paling juga sms banking.." gumanya pasrah.


Tak di sangka, ponselnya berdering.


"Arini..!" ucapnya girang.


"Assalamualaikum.." ucap Arini dari sebrang.


Tak tau kenapa Denis merasa gugup menerima telpon dari orang yang dari semalam ia pikirkan.


"WAalaikum salam.. kenapa kau tidak membalas pesanku?" tanya Denis tak sabar.


"Oh, kau menunggu balasan, ya?" goda Arini.


Denis tersipu.


"Iya,lah.. masa aku capek -capek merangkai kata tidak ada respon sama sekali darimu.


Bilang apa, kek?"


Arini tertawa.


"Terimakasih, ternyata kau puitis juga."


"Aku bisa puitis juga karena dirimu. Aku tau, kau pasti tidak percaya, tapi sumpah, Rin. Aku tidak bohong!"


"Percaya, percaya kok! oh ya, Dimana Shofia?"


"Ada, dia lagi cari sarapan"


Sunyi kembali.


Masing-masing sibuk dengan gejolak hatinya.


"Mungkin nanti sore aku sudah boleh pulang."


kata Denis kaku.


❤️Hai hai.. dukungannya, ya!!

__ADS_1


__ADS_2