
Sebelum meninggalkan tempat itu,
Tak lupa Arini menegaskan,
"Tunggu saja surat dari pengadilan, aku sudah tidak sabar ingin bebas dari mu!"
Arini menggamit tangan Denis dan meninggalkan tempat itu.
Meninggalkan rasa cemburu di hati Ilham.
Rin, kau tidak apa-apa?" tanya Denis saat melihat pundak Arini berguncang.
"Menangislah! kalau itu bisa membuat bebanmu berkurang."
Arini Menatapnya dengan sendu.
"Boleh aku pinjam pundakmu sebentar?"
Denis terdiam lalu berbalik dan membiarkan Arini menumpahkan semua kesedihannya di sana.
"Terima kasih Den.. dan maaf, makan malamnya jadi begini"
Denis tersenyum tulus.
"Aku berharap, kasus perceraianku cepat selesai." ucap Arini pelan.
"Apa kau yakin ingin berpisah darinya?"
""Apalah artinya sebuah ikatan, kalau di dalamnya sudah tidak ada lagi kepercayaan." ucap Arini.
Ia terlihat pasrah walau hatinya tersayat.
Denis memandang Arini dengan iba.
Dalam hati Ia merutuki Ilham yang tak berhenti membuat wanita itu menangis.
"Den, aku sudah begitu banyak meminta selama ini. Masih Boleh kah aku minta sesuatu yang mungkin berat bagimu."
Denis mengangguk cepat.
"Maukah kau tetap berpura-pura menjadi pasanganku di depan mas Ilham? aku tau, ini sangat tidak adil buatmu. Tapi kau tau sendiri, setiap bertemu tidak ada topik lain yang di bahasnya kecuali prasangka buruk mereka tentang kita. aku akan mengabulkan tuduhan mereka walaupun hanya berpura-pura."
"Kau tenang saja, Rin. dengan senang hati aku akan membantumu."
"Terima kasih, terima kasih!" ucap Arini sambil mengusap air matanya.
Suasana kembali hening. Hanya ada desah nafas berat dari Arini.
"Kali ini kau jangan menolak lagi, aku akan mengantarmu,!" kata Ilham memaksa.
Arini merasa tidak enak selalu menolak niat baik pria itu, lagi pula mereka, kan hanya bersahabat, tidak lebih. tentunya Bu Zahra akan mengerti.
Tanpa banyak tanya dia langsung naik di boncengan Denis.
Keduanya terdiam, masing-masing sibuk dengan pikirannya.
Denis terus melajukan motornya ketempat di mana biasa Arini minta turun dan berganti dengan naik ojek.
"Di mana alamatnya?"
"Terus saja, nanti aku kasi tau."
Denis agak kaget menyadari jalanan yang di tunjuk Arini.
"Bukan kah ini menuju rumah Bu dhe?" pikirnya.
"Rin, siapa nama iBu kost mu?"
"Nanti aku kenalkan!" jawab Arini asal.
Denis semakin tercengang saat Arini menunjuk rumah Bu Zahra.
"Kau tinggal disini?"
"Iya, kenapa kaget begitu?"
__ADS_1
Denis tersenyum. "Ini sebuah kebetulan atau bagaimana?" ucapnya dalam hati.
"Ayo masuk! aku mau kenalin pada ibu kost, aku tidak ingin beliau berpikiran yang aneh-aneh tentang kita."
ucap Arini.
Dia tidak melihat wajah Denis yang kaget.
"Duduk disini! aku akan memanggilnya."
Denis duduk dengan tenang di teras rumah itu.
Sementara itu Arini masuk untuk memanggil Bu Zahra.
"Bu, sahabat saya ada di depan. dia ingin bertemu ibu." kata Arini sopan.
"Tumben kau membawanya kesini?" ucap Bu Zah sambil melenggang kedepan.
"Lho, mana orangnya?"
Bu Zahra dan Arini celingukan mencari Denis.
"Barusan dia disini kok!" ucap Arini heran.
Sementara itu, Denis yang sudah menyelinap masuk, tengah merenungi yang sudah terjadi.
"Berarti wanita yang Bu Dhe ceritakan selama ini adalah Arini?"
"Baiklah, aku akan membuat kejutan untuk dua wanita itu."
Bu Zah dan Arini berbincang tentang Denis yang menghilang tiba-tiba.
"Siapa Denis Bu Dhe?"
Denis keluar dengan wajah datar.
"Lang? kapan kau datang? tiba-tiba saja sudah dari kamar."
"E-lang..?" Arini tak kalah kagetnya.
Arini menepuk jidatnya.
"Apa penglihatan ku yang bermasalah? bukankah itu Denis, kenapa Bu Zah memanggilnya Elang?"
Denis duduk di antara dua wanita beda generasi itu.
"Benar kata Bu dhe, aku Elang. Tapi Arini juga tidak salah kalau menurutnya aku adalah Denis."
Arini mulai mengerti apa yang terjadi.
Bu Zah masih terlihat bingung.
"Bu Dhe, aku dan Arini teman baik, tapi dia mengenalku sebagai Denis, bukannya Elang seperti panggilan Bu Dhe."
Bu Zah baru mengerti.
"Oalaah.. kok ribet gini tho? jadi Elang adalah Denis, dan Denis adalah Elang."
Mereka bertiga tertawa.
"Bu Dhe memang lebih suka memanggilku Elang, sedangkan di kantor orang mengenalku dengan nama Denis."
Arini tersenyum simpul.
"Dunia ternyata sangat sempit."
Bu Zah merasa gembira, ternyata Arini dan Denis adalah sahabat yang mereka ceritakan.
Bu Zah merasa bersyukur. ternyata keinginannya mendekatkan Arini dan Elang sudah terkabul.
***
"Mas ada surat buatmu!"
Siska mengangsurkan sebuah surat.
__ADS_1
Ilham menerima dan membukanya.
Siska merasa khawatir karna melihat perubahan wajah Ilham setelah membaca surat itu.
Surat itu terjatuh dari tangannya.
Siska memungutnya dan ikut kaget saat tau isinya.
"Surat dari pengadilan, Mbak Arini benar-benar serius dengan ucapannya."
Siska ikut shok.
Bu Lastri datang dan merebut surat itu dari tangan Siska.
"Hoo! baguslah, masalah akan cepat selesai!"
ucapnya gembira.
Namun ia heran melihat wajah murung kedua anaknya.
"Kalian kenapa lagi? menangisi Arini?"
Ilham dan Siska tidak mengindahkan ibunya. Mereka beranjak ke kamar masing-masing.
"Mantra apa yang di pakai Arini hingga kedua anakku terkena guna-gunanya.." omel Bu Lastri.
"Ada apa Bu?" Anita datang mendekat.
"Ilham dapat surat panggilan dari pengadilan. Dia malah murung, bodoh sekali!"
"Ibu, benar. aku juga heran, kenapa mas Ilham tidak melepaskan saja wanita itu. Sudah jelas-jelas dia selingkuh dengan Denis."
Bu Lastri melirik nya tajam.
"Tidak ada bedanya dengan kau dan Ilham!"
Anita terdiam. Niat hati mau menjatuhkan Arini malah di balikkan oleh mertuanya.
"Arini sudah tidak sabar berpisah Mas! buktinya dia sangat bersemangat memproses gugatan cerainya."
Melihat Ilham terdiam, Anita melanjutkan kata-katanya.
"Dasar wanita tidak punya moral, berani muncul berdua di depan umum. Padahal Arini belum mendapat Surai cerai."
Anita berlagak heran.
"Aku semakin yakin, kalau anak yang di kandungnya itu anaknya Denis. Lihat saja cara mereka saling pandang. Menjijikan kan!"
"Sudah?" Ilham menatapnya dengan ketus.
Anita mendongak heran.
"Hobinya mencari kesalahan orang, tapi dia tidak bercermin pada dirinya sendiri!"
gerutu Ilham sambil meninggalkan Anita.
"Mas, kau malah menyindirku? aku sedang membela mu!" teriak Anita kesal.
"Aku pikir, dengan Arini meninggalkan rumah ini akan membuat mas Ilham membencinya, tapi ini malah sebaliknya."
Ilham benar- benar merasa galau. Bayangan Arini dan Denis sedang makan berdua, kembali mengganggunya.
Ia tidak menampik kalau dirinya merasa sangat cemburu.
Ia sendiri merasa heran. Kenapa Arini terlihat lebih cantik di matanya saat ini, kenapa semua di sadarinya saat hati Arini mulai berpaling darinya.
Dulu, Arini adalah istri yang setia, yang selalu mengutamakan kepentingannya di banding yang lain. Selalu rela melakukan apa saja untuk keluarganya, tak pernah mengeluh sedikitpun pada keadaan.
Tak pernah protes kalau mertuanya selalu menimpakan semua kesalahan padanya.
Arini juga tidak pernah menuntut apa pun, termasuk uang belanja untuk keperluan pribadinya.
Ilham baru menyadari, istrinya adalah berlian yang terpendam di lumpur.
Namun semua sudah terlambat. pintu maafnya sudah tertutup, cintanya sudah berpindah ke pelabuhan lain.
__ADS_1
Ilham merasa putus asa.