Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 43


__ADS_3

Arini berangkat ke kantor seperti biasa.


Bedanya sekarang dia tidak naik ojek lagi, tapi naik mobil Denis.


Semua mata memandang kearah mereka.


"Beruntung sekali Arini, Pak Denis sangat perhatian padanya. tapi Artinya yang tak tau diri. Harusnya dia sadar, perbedaan di antara mereka sangat jauh!" gunjingan para karyawan membuat Arini tidak nyaman.


Ia sudah hendak meninggalkan tempat itu.


Namun Denis menangkap tangannya.


"Kalau kau pergi. itu tidak akan membuat mulut mereka berhenti nyinyir!"


Arini mengikuti langkah Denis.


"Saya harap kalian berhenti bergosip! kalian kesini untuk bekerja, bukan untuk sibuk mengurusi kehidupan orang lain."


"Saya dan Arini tidak ada masalah dengan kalian semua. Jadi, saya mohon kalian juga


bisa menghargai privasi kami!"


Semua bungkam oleh kata-kata Denis.


Tiara bertambah geram. usahanya menjatuhkan Arini tempo hari bukan membuat mereka semakin jauh. Tapi malah semakin dekat saja.


Tiara mulai mengganti triknya untuk menjatuhkan Arini.


Keesokan harinya.


Arini dan Denis terheran heran karna semua orang berkumpul sambil bergosip.


"Oh, tuanya begitu, wanita itu hamil dengan orang lain, lalu di usir oleh suaminya.


Sekarang malah menggaet orang baik seperti pak Denis. kasihan pak Denis..."


"Iya, aku malah kasihan sama pak Denis nya, dia pasti sudah kemakan rayuan wanita itu."


timpal yang lain.


Arini memperhatikan dari jauh.


Tiara datang dan membubarkan kerumunan, ia tau Denis dan Arini sudah mendekat.


Ia sengaja berakting seolah membela Arini.


"Bubar, bubar! kalian bisanya hanya menggosip saja. Perbuatan siapa ini?" tanyanya gusar.


Arini dan Denis sudah berada disana.


"Kalian??" Tiara pura-pura kaget.


Arini tertegun melihat pamflet yang di tempel di dinding.


Bukan hanya satu, tapi dengan jumlah banyak. sangat tidak mungkin dia akan mencopoti satu persatu sendirian.


Arini mendekat dan memperhatikannya.


Di sana terpampang photo dirinya di sertai keterangan dengan huruf besar.


WANITA ******! SETELAH HAMIL DENGAN SELINGKUHAN DAN DI USIR OLEH SUAMINYA. KINI, DiA MENGGAET ORANG KAYA SEBAGAI MANGSA SELANJUTNYA!!


Arini terguncang, ia merasa sangat geram.


Ia masih berdiri mematung memandangi kertas itu.


Denis menutup tulisan di hadapan Arini itu, lalu menarik dan meremasnya dengan kasar.


"Dengar semuanya! saya tunggu sampai besok, kalau kertas yang tertpel disini tidak berubah isinya, saya bersumpah! akan membayar semua ini dengan kontan beserta bunganya sekalian!"

__ADS_1


teriak Denis dengan muka merah padam menahan amarah.


Tiara yang juga berada di sana jadi merinding.


Baru kali ini dia melihat kemarahan di mata Denis.


Yang dia kenal selama ini Denis adalah pria yang pendiam dan kalem.


"Jangan di kira saya tidak tau perbuatan siapa ini, saya juga bisa berbuat yang lebih memalukan dari ini!" mata Denis menyapu ke arah Tiara yang berdiri dengan canggung.


"Bubar semua...!" teriaknya lagi sambil


mencopoti satu persatu kertas yang menempel di dinding.


Seorang karyawan maju membantunya, lalu satu persatu mereka bergabung mencopoti kertas yang menempel di dinding itu.


"Maafkan kami, pak Denis. Kami sudah termakan oleh isi pamflet itu tanpa bertanya kebenarannya. padahal kami tau, bapak orang baik, begitu juga Arini."


"Yaa, kami semua minta maaf..!!" ujar mereka serentak.


"Sudah lah, jadikan ini pelajaran, jangan cepat termakan hasutan orang kalau kalian sendiri tidak tau apa yang terjadi sebenarnya." nasehat Denis.


Perlahan Tiara mundur teratur dan meninggalkan tempat itu.


Denis sempat memperhatikannya.


"Lihat, Rin. semua masalahnya sudah kelir."ucap Denis mendekatinya.


Arini menggeleng pelan.


Tidak segampang itu, mungkin hari ini Iya, tapi besok? lusa? apakah bisa di jamin tidak akan terjadi lagi?"


Denis mendesah panjang. Susah payah dia membangun kepercayaan diri Arini, tapi dengan mudahnya kini harus down lagi.


"Memang sumber masalahnya adalah aku, Den! coba kau tidak dekat-dekat denganku, hidupmu akan lurus dan damai seperti dulu." ucapnya sendu.


"Benar kata mertuaku, aku pembawa sial!


"Cukup Arini!"


Denis membentaknya. untungnya disana hanya ada mereka berdua, semua karyawan sudah masuk.


"Siapa kau? yang bisa memutuskan kapan dan dimana hidupku akan bahagia,?"


Denis benar'-benar merasa kesal saat ini.


"Apa kau pernah bertanya apa yang membuatku bahagia? tidak pernah! lalu darimana kau beranggapan kalau aku menjauhi mu akan membuatku baik-baik saja?"


Arini hanya terdiam mematung. Dia mengusap air mata dengan punggung tangannya.


"Sudah lah, ayo kita masuk! jam kerja sudah akan di mulai."


Arini mengikuti langkah Denis.


***


Di rumah sakit, Ilham mulai gelisah karena Arini belum datang juga.


"Arini kenapa belum datang juga, Bu?" tanyanya khawatir.


"Kan, sudah ada ibu, kau tidak perlu Arini lagi!"


jawab Bu Lastri ketus.


"Jangan begitu, lah Bu. Arini adalah istri ku!"


Hampir saja Bu Lastri keceplosan bilang bahwa mereka sudah hampir bercerai.


Ia teringat pesan dokter agar menjaga emosi Ilham.

__ADS_1


"Lupakan Arini! sebentar ya,"


Beberapa saat Bu Lastri kembali dengan membawa bayi mungil di tangannya.


"Kau lihat? ini siapa, ayo tebak!"


Ilham terlihat bingung.


"Siapa?" ia balik bertanya.


"Masa kau tidak lihat wajahnya mirip siapa?"


"Mirip siapa, ya?" Ilham berpikir keras.


"Aku tau! dia mirip mas-mas itu, kan?"


Ilham menunjuk seorang pemuda yang sedang mengepel lantai.


"Issh ... !" Bu Lastri mendesis geram.


"Coba saja dia tidak dalam keadaan sakit, pasti sudah aku jitak kepalanya"


ucapnya dalam hati.


"Hanya bercanda Bu..! jangan di bawa serius, habisnya ibu, tiba-tiba datang membawa bayi dan ngajak aku main tebak-tebakan."


"Ini anakmu!" Ilham tersenyum tipis.


"Ibu tidak usah menghayal, sebentar lagi Arini akan memberi ibu seorang cucu!"


"Ibu tidak menghayal! ini beneran anakmu, lihatlah, walaupun dia perempuan tapi wajahnya sangat mirip denganmu waktu masih bayi"


Ilham masih tidak percaya.


Aku lelah, Bu. mau istirahat dulu. Tolong bangunin kalau Arini sudah datang!"


Ilham membalik badannya menghadap tembok.


Dia benar-benar tidak mau melihat anaknya.


Bu Lastri membawa bayi itu ke ruangan Anita lagi.


"Apa kata mas Ilham, Bu? dia pasti senang melihat putrinya." ucap Anita gembira.


"Aku ingin sekali melihat keadaanya. tapi dokter belum mengijinkan aku banyak bergerak." keluhnya putus asa.


Bu Lastri menghela nafas panjang.


Dia merasa bingung.


"Apa yang akan di katakan nya


kalau sampai Anita tau keadaan Ilham sebenarnya.


Masalahnya semakin sulit saja, Ilham hanya mengingat Arini, padahal mereka sudah di ambang perpisahan. Dia justru lupa pada Anita yang sudah di nikahinya, dan memberinya seorang anak.


Bu Lastri bertambah bingung dengan biaya pengobatan mereka berdua.


Ilham memang mendapat bantuan dari kantornya, tapi itu hanya separuhnya saja.


Karna bingung dan panik. Bu Lastri menggadaikan surat-surat rumah tanpa sepengetahuan Ilham dan Siska.


Tanpa sepengetahuan Arini pula, Bu Lastri dan Denis melakukan transaksi itu,


"Denis memberikan sejumlah uang pada Bu Lastri dengan jaminan surat surat rumah yang mereka tinggali.


Arini sudah tiba di rumah sakit malam itu,


Rin, pekerjaanmu banyak, ya? kau sampai telat menjenguk ku?" pertanyaannya membuat Arini bingung.

__ADS_1


"Rin, antarin aku ke kamar kecil!"


💞 Hai dukungannya, ya.. !🙏🙏


__ADS_2