Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 93


__ADS_3

Arini memberi tau Denis tantang Anita yang menelponnya.


"Jangan sampai kebaikanmu dimanfaatkan lagi oleh mereka." sindir Denis yang sedang tiduran sambil memeluk pinggang istrinya.


""Kali ini sepertinya tidak." Arini berusaha melepaskan rangkulan suaminya.


Namun Denis semakin erat memeluknya.


"Ayolah, Rin. Ini waktu kita berdua, kapan jadinya si junior kalau kau selalu sibuk mengurusi orang lain. Sekali sekali pikirkan juga suami mu ini..!" bisik Denis sembari mengambil ponsel Arini dan meletakkannya di atas nakas, lalu ia kembali memeluknya.


"Aku minta maaf kalau kau merasa tersisih suamiku, sayang .." Arini berbalik dan menatap wajah Denis. Kini wajah mereka begitu dekat.


"Tapi untuk yang ini aku mohon dengan sangat, ijinkan aku pergi. Jangan lihat Anita, tapi lihatlah anaknya.." bujuk Arini dengan lembut.


Dengan enggan Denis bangkit dari tempat tidur, Walaupun masih jengkel pada Anita,Ia tidak mengijinkan Arini pergi sendiri.


"Biar aku pergi sendiri, kau istirahat saja."


"Aku takut mereka memperdayamu lagi, kau terlalu baik hati." sungut Denis.


"Kalau begitu, senyum dong sayang .. Senyum itu ibadah lho..!" ledek Arini sambil menyentuh bibir Denis.


Denis melebarkan senyumannya.


"Yang ikhlas dong, biar lelahnya tidak sia-sia." gurau Arini lagi.


"Aku paling tidak bisa menolak permintaan istriku ini." ujar Denis tersenyum tulus.


"Karna kau mang pria baik hati, karna itu pula aku sangat mencintaimu." kata Arini pelan sambil memalingkan wajahnya.


"Kau bilang apa barusan? Aku tidak jelas mendengarnya.." Denis memasang telinganya.


"Terimakasih sudah ikhlas.." jawab Arini tersenyum penuh arti.


"Bukan yang itu.." sergah Denis.


"Ikhlas itu termasuk ibadah juga sayang.."


"Sesudahnya, ya sesudah itu."


Denis bersikeras.


"Apa ya..?" Arini pura-pura lupa.


"Ayo dong jangan bercanda, serius aku ingin mendengar kau bilang mencintaiku.' ucap Denis dengan wajah lucu.


"Owh yang itu?"


Denis mengangguk.


"Sayang.. Aku memang tidak pandai mengungkapkannya. Tapi, kau bisa tatap lewat mataku, kata orang, mata adalah jendela hati.


Coba saja melongok ke dalam hatiku, pasti kau lihat hanya nama mu saja." Arini mengalungkan kedua tangannya di leher Denis dengan manja.


Denis tersenyum bahagia.


"Kau sangat berarti dalam hidupku, aku akan mempertahankan mu dari wanita manapun yang ingin mengambil mu dariku. Percayalah...!" kata Arini lagi.


Denis mencium bibir Arini yang sedang mendongak padanya


"Terimakasih, sudah menjadikan ku pria beruntung yang begitu berharga dalam hidupmu."


"Oh,ya.. Anita pasti sudah lama menunggu." kata Arini yang baru sadar Anita sedang menunggunya.


Bu Zah keluar dari kamarnya saat mendengar suara mobil Denis.


"Kalian mau kemana?"


"Kami mau menemui seseorang bu Dhe, istirahat kembali saja." kata Arini.


Bu Zah masuk kembali kekamarnya.


Di tempat lain, Anita sedang gelisah menunggu Arini.


"Kenapa lama sekali, tapi mungkin saja Arini berubah pikiran, aku tidak akan menyalahkan, mu Rin. Aku memang pantas menerimanya."

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Sebuah mobil berhenti tepat di depannya.


Anita menarik nafas lega melihat Arini yang turun dari mobil itu.


"Anita, kenapa kau membawa anakmu malam begini di jalanan?"


Anita hanya bisa menangis.


Hati Arini terenyuh melihat keadaan Cila.


Anita sedang duduk sambil memangku anaknya.


"Rin, aku minta maaf, inilah karma yang sudah ku terima karna perbuatanku pada mu selama ini." ucap Anita berurai air mata.


Arini masih tertegun, begitu juga Denis.


"Aku tidak minta kau memaafkan aku, karna itu tidak pantas buatku. Tapi aku mohon selamatkan anak ku!"


Anita meraih tangan Arini dan menciuminya.


"Tolong bawa Cila, aku mohon!"


Arini dan Denis saling pandang.


"Dimana mas Ilham?"


"Panjang sekali ceritanya, Arini... Jangan lihat keadaanku, lihatlah nasib putriku "


Anita menengok kanan dan kiri, ia merasa takut ada anak buah nyonya kejam itu membuntutinya.


"kalau begitu, ikutlah bersama kami dulu. Kau bisa ceritakan apa yang terjadi sebenarnya." usul Arini.


" Ingat, Nit. Aku melakukan ini hanya karna iba melihat anak yang tak berdosa ini." sesal Arini.


Anita terdiam. Ia kembali terbayang bagaimana Bu Lastri telah dengan sengaja melenyapkan anaknya Arini.


"Aku mengerti, Rin. Bahkan jika kau meludahi wajahku saat ini pun aku terima."


Denis menyetujuinya.


Walaupun hatinya sangat membenci Anita, tapi saat melihat keadaan Cila, hatinya ikut terketuk.


Dia baru menyadari, sahabat sejati adalah segalanya. Dia akan tetap ada bahkan di saat kita terpuruk seperti sekarang ini, apapun alasannya.


Dengan berat hati, Anita mengikuti tawaran Arini dan suaminya.


Tak ada kata di sepanjang perjalan. Ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tak terasa mereka tiba di rumah Denis.


"Ayo masuk..!" ajak Arini.


Anita memperhatikan sekelilingnya, rumah kediaman Denis Arini sangat nyaman. walaupun tidak terbilang mewah, namun terkesan asri dan menenangkan.


"Arini sangatlah beruntung...!" bathin Anita


Dengan langkah ragu, Anita melangkah mengikuti tuan rumah.


Silahkan duduk dan tolong ceritakan apa yang terjadi."


Dengan berurai air mata, Anita mulai menceritakan semua yang terjadi.


Arini dan Denis mendengarkan dengan seksama.


Belum sempat Arini memberi tanggapan.


Tiba-tiba Anita jatuh pingsan di hadapannya. Cila yang sedang tidur di gendongannya hampir saja terjatuh.


"Anita..! dia pingsan." ucap Arini.


Bu Zah yang ikut hadir dan mendengar kisah Anita, ia mengambil Cila dari gendongan ibunya.


"Bantu mengangkatnya ke kamar." kata Arini kepada Denis.


"Sepertinya dia kecapean, apa perlu kita panggilkan dokter?" gumam Arini sendiri.

__ADS_1


"Gosok kakinya dengan minyak kayu putih dulu." usul Denis.


Dengan telaten Arini mengurus Anita,


tidak ada lagi dendam di hatinya. Yang di lihatnya dari Anita hanyalah seorang wanita yang sedang butuh pertolongan.


Denis memperhatikan istrinya tanpa berkedip.


Arini jengah saat menyadarinya.


"Kenapa?"


"Hati mu terbuat dari apa sih, Rin. Kau terlalu baik." kata Denis kagum.


Arini hanya tersenyum.


"Kalau aku membalas perbuatannya padaku, apa bedanya aku dengannya?" tanyanya sambil menggosok tengkuk Anita.


"Itulah kelebihanmu yang tidak di miliki orang lain. Aku masih harus banyak belajar darimu tentang cara memaafkan." puji Denis.


"Aku jadi malu, kau akan menarik pujianmu kalau tau alasanku sebenarnya."


"Apa?"


"Aku tidak menaruh dendam ataupun membalas perbuatan mereka, karna aku rasa secara tidak sengaja mereka telah menguntungkan ku, kalau tidak karna musibah ini, bagaimana aku bisa bertemu dengan suamiku yang tampan, baik hati dan sangat aku cintai saat ini."


Denis merasa tersanjung dengan penjelasan Arini.


Saat itu Anita mulai membuka matanya.


Ia menarik kakinya yang sedang di pegang Arini.


"Dimana Cila?" ucapnya seperti ketakutan.


"Dia aman bersama mertua ku." jawab Arini.


"Kau tidak sehat, Nit. Kami antar ke dokter, ya ?"


Anita menggeleng lemah.


"Kalian terlalu baik, aku tidak pantas menerimanya " ucap Anita tertunduk


Bu Zah datang membawa semangkuk sop hangat.


"Makan lah dulu, kau terlihat lemas." ucap Bu Zah.


"Terima kasih, Bu."


Arini mengangguk setuju.


Karna perutnya yang kosong seharian, Anita tidak menolak, dia langsung makan dengan lahapnya.


Setelah makan, wajahnya terlihat lebih segar.


"Rin, kenapa kau menolongku? Bukannya seharusnya kau biarkan aku mati di jalanan?"


"Aku tidak tau, Nit. Hati ku memang masih sakit saat mengingat semua yang telah kalian lakukan padaku, tapi aku juga tidak bisa menutup mata melihat penderitaan kalian, hatiku ikut terluka." tutur Arini sambil mendesah panjang.


'Kau memang wanita berhati mulya..


sedangkan aku, aku sudah menerima balasan dari semua kejahatan ku di masa lalu."


Anita tertunduk sedih.


"Rin, bolehkah aku menitipkan putriku ke tangan perempuan mulya seperti mu? Aku tenang kalau Cila berada di tanganmu." Isaknya sedih.


"Kenapa kau harus menitipkannya padaku? Memangnya kau mau kemana,?"


"Aku wanita penyakitan, tidak bisa menjadi ibu yang baik buat putriku. Aku mengidap HIV."


Arini menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Anita..?" Arini menatapnya iba.


"Aku memang belum menceritakan sisi gelap kehidupanku, padamu. Selama ini aku sering berhubungan dengan banyak pria. Mungkin dari situlah awalnya."

__ADS_1


Anita terlihat tegar.


Arini masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya. Semua seperti mimpi baginya, Semua pembalasan atas perbuatan mereka nyata dan begitu cepat datangnya..


__ADS_2