
Arini terhenyak, walaupun sindiran Shofia sangat pedas tapi dia akui ada benarnya juga.
"Hus, tidak boleh berkata begitu, Ini semua sudah takdir dari Allah."
Bu Zah menengahi.
"Ia, lagi pula keadaanku tidak begitu parah.
Dan kalian tau? karna Arini lah aku bisa sampai rawat disini!" ucap nya membesarkan hati Arini.
"Kau juga terluka?" Bu Zah mengalihkan pembicaraan yang mulai menegang.
"Hanya lecet saja Bu Dhe.." jawab Arini singkat.
"Coba aku liat, Mbak!" Shofia mengamati luka di siku Arini.
"Hanya lecet biasa.." ucapnya santai.
"Memang hanya lecet, tapi kejadian ini berat baginya karna dia sedang hamil. Itu yang membedakannya!"
Denis kembali kembali membela Arini di depan Shofia.
Shofia mendengus tidak suka.
"Mungkin benar kata Shofia, semua ini salahku, andai Denis tidak datang menyusul ku, semua ini tidak akan terjadi." ucapnya menyesal.
Denis dan Bu Zah saling pandang.
"Kau ngomong apa, Rin? kau rajin sholat, kenapa tidak percaya yang namanya takdir?"
kata Bu Zah.
"Aku tegaskan lagi, ini bukan salahmu. Kita berdua yang kecelakaan, bukan aku sendiri "
"Kau kelihatan lelah, pulanglah bersama Bu Dhe dan Shofia."
"Lalu siapa yang menemanimu?" ucap Arini dan Shofia hampir bersamaan.
"Aku bisa sendiri, selama ini juga aku hidup sendiri. kalian tidak usah khawatir."
Denis mengedipkan matanya Arini.
"Benar, Rin. kau harus istirahat." timpal Bu Zah.
Akhirnya Arini setuju untuk ikut pulang.
Tapi yang membuat perasaanya kurang enak, Shofia akan diam menemani Denis.
Shofia berkeras walaupun Bu Zah melarang dan Denis sendiri merasa keberatan.
"Tidak usah risau, aku bisa mengatasinya." ucap Denis sangat pelan hingga Shofia tidak bisa mendengarnya.
Arini hanya tersenyum kecil.
"Kata Elang, Ilham sudah mengucap talak padamu, benar?" tanya Bu Zah saat mereka sudah di dalam taksi.
"Benar, Bu."
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Setelah berhenti bekerja, saya bermaksud mencari rumah kontrakan kecil-kecilan, sambil memulai usaha kue." jawab Arini mantap.
"Bagus itu, ibu dukung rencanamu untuk maju. Tapi, ibu akan kesepian setelah kepergian mu." ucap Bu Zah sedih.
"Ibu tidak akan sendirian, saya hanya pindah tempat usaha saja, kita akan masih sering bertemu kok." Arini merangkul wanita malaikat penolongnya itu.
"Seandainya saja....?" mata Bu menerawang.
__ADS_1
"Seandainya??" Arini menunggu kalimat Bu Zah ya g menggantung.
"Seandainya kau dan Elang..."
Bu Zah menghentikan ucapannya.
"Lupakan saja!" ucapnya tersenyum.
Arini terdiam.
Ia sangat tau maksud dari wanita yang berhati mulia itu. Bukannya pura-pura tidak tau, namun Arini tidak bisa terburu-buru mengambil keputusan. Surat cerai saja belum di terimanya.
Arini merebahkan tubuhnya di atas ranjang, semua kejadian hari ini sangat menguras emosi dan tenaganya.
Bayangan Ilham yang marah dan tidak mengakui anaknya membuat matanya kembali mengembun.
"Tenang saja, nak. Kau masih ibu, ibu janji akan memberimu kasih sayang yang tidak bisa di berikan ayahmu! kau adalah kekuatan ibu!" Arini mengelus perutnya, tak di sangkanya bayi dalam perutnya itu merespon dengan bergerak sangat aktif.
"Kau bisa mendengar suara ibu? dua bulan lagi.. dia bulan lagi kita akan segera bertemu." ucap Arini berbisik antusias.
Setelah berbicara dengan anaknya, Arini merasa lebih tenang.
Ia meraih ponsel dan membuka pesan dari Denis.
"Denis.. semakin hari perlakuannya padaku rasanya semakin manis saja.." gumamnya pelan.
(Rin, kau sudah sampai rumah, kan? istirahatlah.. jangan banyak pikiran. jangan pikirkan orang yang tidak pernah perduli pada perasaanmu,!)
(Tapi cobalah bayangkan orang yang sedang berusaha sekuat tenaga untuk membuatmu nyaman, dan tentunya dia sangat ingin dekat denganmu)
(Aku tau ini sulit buatmu, tapi dia akan sabar menunggu dimana saat kau bisa membuka hatimu kembali)
(Jika kau dalam kegelapan, dia akan berusaha menjadi lilin penerangmu.
Jika kau rapuh, dia akan jadi tongkat penyangga kekuatanmu)
(Yakin lah.. bahunya selalu siap kapan pun kau butuh bersandar)
"Denis Denis.. kau puitis juga."
Arini membayangkan. Denis dan Shofia sedang berdua.
"Kenapa denganku? kenapa aku harus merasa tidak enak kalau melihat mereka berdua? Shofia masih muda, cantik dan sangat mencintai Denis. sedangkan aku? aku hanya seorang wanita malang yang di buang suamiku saat hamil. Tentu saja tidak bisa bersaing dengan Shofia."
Arini menutup wajahnya dengan bantal, ingin mengusir bayangan Denis namun tidak bisa.
***
Di kediaman Ilham.
Bu Lastri sedang memperlihatkan cucunya di depan Ilham.
"Lihatlah lucu sekali.. mata, hidung dan alisnya persis kamu waktu bayi dulu, dan bibirnya, jelaslah nurun neneknya!! rambutnya lebat seperti Siska."
"Semua sudah kebagian. lah, aku sebagai mamanya apa dong yang mirip denganku?" gurau Anita mendekati mertuanya.
"Apa, ya..? ah ya, baru ingat. suaranya!
Anita mengerutkan dahi ya.
Suara tangisnya itu melengking seperti saat kau sedang bicara!" ujar Bu Lastri yang membuat Anita cemberut.
Nenek itu terus berceloteh ria tentang cucu kesayangannya.
Ilham hanya menanggapi seperlunya. pikirannya terus kepada Arini.
Ia pun mulai berandai.
__ADS_1
"Andai anak ini adalah anaknya Arini dariku."
Ilham mendesah keras.
"Apa yang ada di pikiranmu?" tanya Bu Lastri curiga. Ilham menggeleng.
"Aku mau ke kantor untuk melihat keadaan, Bu, sudah lama aku absen." ucap Ilham seraya meraih kunci mobil.
"Ke kantor atau mau menemui Arini?"
Anita sudah berdiri dengan dekat pintu keluar.
"Kantor!" jawab Ilham singkat.
"Bohong!" suara Anita tak kalah keras.
Ilham menarik nafas panjang.
"Tolong Nit, aku lagi malas bertengkar."
"Aku juga lelah Mas .. karena itu aku mau kau lupakan mantan istrimu itu!"
"Kenapa kau selalu membawa Arini di setiap perselisihan kita? dia sudah melanjutkan hidupnya!" bentak Ilham.
Suara gaduh mengundang Bu Lastri mendekati mereka.
"Apa kalian tidak malu? setiap bertemu pasti ada masalah. Lihat anak kalian!" Bu Lastri murka.
"Ini, nih putra ibu tidak pernah bisa move on dari mantannya." tuduh Anita ketus.
" Mana buktinya? kau jangan asal menuduhku!" Ilham membela diri.
Anita merebut paksa dompet Ilham lalu membaliknya hingga isinya jatuh ke lantai.
termasuk foto Arini.
"Kau mau ngelak lagi, Mas? ini apa? jawab!" jerit Anita.
"Diam kalian, malu sama tetangga." Bu Lastri memohon.
Wajah Ilham merah padam oleh kelakuan Anita.
"Lancang!" pekik Ilham. Hampir saja dia menampar Anita kalau tidak dicegah Bu Lastri.
Ilham memunguti isi dompet nya yang berserakan.
Anita berlari masuk kamar sambil menangis.
Ilham juga pergi tanpa menghiraukan ibunya yang berteriak memanggilnya.
"Aku. pikir akan bahagia tanpa Arini, tapi nyatanya?"
Aaarrgh!!
Ilham memukul kursi di sampingnya.Bu Lastri duduk termenung di kursi tengah.
Ia merasa rumah tangga putranya semakin hari semakin berantakan. Tapi kembali ia menyalahkan Arini atas semua yang terjadi.
"Kenapa harus Arini, Arini dan Arini lagi!" jeritnya putus asa.
"Bagaimana caranya aku melenyapkan Arini dari kehidupan Ilham selamanya, kali ini aku harus tega."
Bu Lastri mulai memikirkan cara untuk membuat kesalah pahaman di antara mereka semakin parah.
"Ada apalagi dengan menantu ibu, itu?" sindir Siska yang ikut duduk di samping ibunya.
" Yang ibu lakukan hanya untuk kebahagiaan kalian saja."
__ADS_1
"Kebahagiaan kami atau ego ibu sendiri? yang benar saja, Bu? setelah ibu berhasil memisahkan mereka, apakah putra ibu bahagia? apakah ibu bahagia? aku tidak percaya kalau ibu mengaku masih bisa tidur dengan nyenyak saat ini." sindir Siska.
💞Salam❤️ buat para pembaca setiaku🙏🙏