
"Tapi? mas Elang lupa janji yang di rumah sakit saat itu" kata Shofia dengan mata yang mulai berkabut.
"Bukan lupa, kau boleh minta waktu atau pertolongan mas Elang kapan pun asal masih sewajarnya, tapi.. .ada tapinya lho,
kau harus mengerti sekarang mas Elang tidak sendiri lagi. Kami akan menikah, mas Elang tidak single lagi."
Denis bicara sambil terus menggenggam tangan Arini. Hal itu membuat Shofia merasakan sakit yang amat sangat.
Nilam yang datang langsung menegur Denis karena telah membuat Shofia menangis.
"Apa-apaan ini, kita yang lebih dewasa harusnya lebih bijak dalam menyikapi sebuah masalah. kalian tidak malu mengeroyok Shofia?"
"Maaf Mbak Nilam, kami hanya memberi pengertian doang padanya, bahwa berusaha merebut sesuatu yang tidak di takdirkan pada kita. itu, salah." jawab Arini.
'Tapi tidak begini juga caranya." sungut Nilam sambil menuntun Shofia menjauhi kamar tamu.
Arini dan Denis saling pandang sebelum mereka tertawa bersama.
"Terima kasih, ya sudah tegas pada Shofia."
"Aku hanya ingin membuatmu nyaman, apa pun itu akan aku lakukan." jawab Denis.
"Jangan pikirin segala tingkah mba Nilam, ya!"
Arini mengangguk.
"Mbak Nilam juga keluargaku, aku tidak akan tersinggung olehnya. asal kau selalu bersamaku untuk memegang tanganku di setiap ada duri yang menghadang jalan kita, itu cukup bagiku."
Denis merasa sangat bahagia mendapat pasangan hidup seperti Arini. ia selalu bijak dalam menghadapi setiap masalah.
"Aku tidak rugi melajang sampai usia segini kalau akan mendapat pendamping seperti mu." ucap Denis serius.
"Gombal..!" jawab Arini.
"Aku serius. oh ya, Rin, apakah kau tidak mengundang Ilham dan keluarganya?" tanya Denis pelan.
"Tidak." jawabnya pasti.
Denis tidak membahasnya lagi.
Sementara itu, Nilam dan Shofia sedang mengobrol serius.
"Kau serius mencintai Elang?"
Shofia mengangguk pasti.
"Mbak bisa bantu aku mengembalikan mas Elang padaku? tolong lah mbak!" ucap Shofia bersungguh-sungguh.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena ibu mertua lebih memihak padanya, kau lihat saja bagaimana dia membela Arini ketimbang aku yang menantu kandungnya."
ucap Nilam sengit.
Mereka terdiam.
Lalu Nilam tersenyum karna ingat sesuatu.
"Aku ada ide." Lalu dia membisik kan sesuatu ke telinga Shofia.
Hari yang di tunggu Denis dan Arini pun tiba.
Keduanya tampak bahagia.
Arini sedang di rias di kamarnya, ia menyewa jasa rias pengantin yang merupakan sahabatnya sendiri.
Nilam dan Shofia mengintip dari balik pintu.
"Kita tunggu beberapa menit, badannya pasti bentol-bentol karna aku sudah mencampurkan sesuatu di bedaknya." ucap Nilam bersemangat.
Namun mereka kecewa karna menunggu sudah dua puluh menit tidak terjadi apapun pada Arini. Ia baik-baik saja dan malah terlihat sangat cantik.
"Kau sangat cantik, Rin. Ini efek kau tidak biasa pakai riasan wajah. Sekali Makai hasilnya maksimal, aku jadi pangling." puji sahabatnya.
__ADS_1
"Kau bisa saja.." jawab Arini merendah.
Tapi dalam hati ia sendiri kagum melihat bayangan dirinya di cermin.
"Mbak, mana? tidak terjadi apapun pada mbak Arini.
Nilam termenung, ia heran kenapa bisa Arini baik-baik saja setelah memakai bedak yang di telah di campurnya.
"Aku juga tidak tau, jelas-jelas tadi sudah aku campur sesuatu." ucapnya bingung.
Di dalam, Arini sedang tersenyum sendiri.
Ia membayangkan wajah kesal Nilam dan Shofia karna gagal mengerjainya.
Nilam tidak tau, saat ia membubuhkan sesuatu di bedak sahabatnya, Arini melihat dan membiarkannya. Setelah Nilam keluar, Arini mengganti bedak itu. Dan kini setelah dirinya selesai di rias. Arini mengembalikan bedak semula lagi di tempatnya.
Ia sengaja mengajak sahabatnya keruangan lain.
"Peralatanku gimana, Rin?"
"Sudah, biarin saja disitu. Aman kok!"
Setelah Arini dan temannya pergi. Nilam dan Shofia bergegas masuk.
"Bedak ya benar kok, ini yang sudah aku taburi sesuatu." ucapnya benar-benar heran.
"Aku penasaran, biar aku coba. " Nilam mencoba memakai bedak itu, begitupun Shofia.
Prosesi ijab kabul segera di mulai.
Denis tak hentinya menatap Arini. Pandangan matanya seolah ingin segera melahap calon istrinya itu.
"Jangan memandangiku seperti itu, aku jadi grogi.." bisik Arini.
Denis hanya tersenyum kecil.
"Lebih baik aku yang memandangi mu, daripada pria lain, aku tidak rela!" balas Denis.
Dengan sedikit berdebar, akhirnya Denis bisa mengucapkan ijab kabul dengan lancar.
Semua menyambut dengan gembira.
Arini mencium tangan Denis. tak terasa Air matanya menetes deras.
Rasa haru bercampur bahagia menyelimuti dadanya.
Begitu pula dengan Denis.
Ia mencium puncak kepala Arini.
"Aku sudah sah menjadi imam mu, aku berjanji tidak akan membiarkan airmatanya menetes lagi." Denis merangkul erat istrinya.
"Hey cukup adegan mesranya, nanti kalian sambung lagi." gurau Bu Zah hingga membuat Arini tersipu.
Bu Zah merangkul kedua mempelai.
"Doa ibu selalu menyertai kalian. jadilah pasangan yang saling melindungi satu sama lain." ucap Bu Zah berkaca-kaca.
Semua bersuka cita bergantian memberi selamat.
"Nilam, Shofia? kenapa dengan wajah kalian," tanya Bu Zah kaget saat melihat wajah Nilam dan Shofia merah dan berdarah bekas cakaran.
Semua ikut memandang mereka, termasuk Arini.
"Kenapa wajahmu merah seperti terbakar, Mah?" tanya Pras pada istrinya heran.
Nilam tidak menjawab, ia malah menutupi mukanya dengan selendang.
Ia sempat melirik kearah Arini yang tersenyum mengejeknya.
"Rasain, emang enak di kerjain." bathin Arini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu, kami hanya korban iklan kosmetik." jawab Nilam kesal.
Bu Zah menggeleng tak mengerti.
"Ada apa dengan mereka?"
Denis heran melihat Arini yang terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Tau tau sesuatu,?"
Arini menggeleng.
Nilam terus menggerutu kesal karna Arini berhasil lolos lagi.
Shofia sendiri kembali ke rumahnya dengan wajah masam.
Hari Sudah sore saat Bu Zah mengijinkan Denis yang mohon diri untuk pulang kerumahnya sendiri.
"Besok pagi sekali kami sudah ada disini kok Budhe, Elang janji!" ucap Denis.
"Pergi lah, nikmati malam kalian ini." ucap Bu Zah merestui.
Denis melirik Arini yang tersipu.
Denis melirik Arini yang tengah duduk di sampingnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Ada sesuatu yang belum aku ketahui? wajahmu terlihat sangat puas." selidik Denis.
"Tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada menyadari kenyataan bahwa aku sudah resmi jadi istrimu."
Denis menggenggam erat tangan Arini yang terasa hangat.
"Aku sangat bahagia, aku ingin menikmati malam ini dengan tenang dan nyaman, tidak ada pengganggu. Karena itu aku minta pulang kesini.
kata Denis saat mereka sudah sampai.
"Tunggu, kau jangan keluar dulu, biar aku membuka pintu."
"Memang kenapa?" Arini tersenyum penasaran.
Denis bergegas membuka pintu.
Lalu dia membopong tubuh Arini masuk rumah.
Arini kaget tapi tidak menolaknya.
"Mau langsung ke kamar saja?" godanya pada Arini.
'Nakal!" jawab Arini mencubitnya.
Denis merebahkan tubuh istrinya di ranjang.
Ia memandanginya lekat wajah Arini di bawah temaram lampu.
"Kita Sholat Maghrib dulu, yuk!" bisik Arini menyadarkan Denis.
Denis langsung menarik wajahnya.
"Kau benar, ayo!" ucapnya sembari berjalan ke kamar mandi.
Arini telentang memandangi langit-langit kamar. pikirannya melayang ke beberapa tahun silam dimana saat itu dia berada di posisi yang sama dengan saat ini, hanya bedanya.
Hanya bedanya kini Denis lah yang ada di sampingnya, bukan Ilham.
Wajah Ilham tiba-tiba menari di matanya.
wajah dimana saat mereka baru menikah dulu, begitu santun, dan pengertian.
Lalu berkelebat satu persatu bayangan Bu Lastri dan Siska.
"Apa kabarnya anak itu?"
__ADS_1