
Adi begitu penasaran mengetahui belanjaan Tita yang begitu banyak, tak mungkin istrinya menghabiskan uang, setahunya Tita adalah type wanita yang pandai mengatur keuangan, Adi mulai merasa curiga pada Tita.
Dilihatnya kembali belanjaan milik Tita yang kalau dihitung lumayan lebih dari empat jutaan, dilihat dari merk dan bahan dari kain baju bayi yang terlihat halus, terlebih kereta dorong bayi yang harganya bukan main-main.
Adi mulai dilanda cemburu, mungkinkah istrinya punya pria idaman lain?
Pikiran Adi sangat kacau, tak mungkin ia memperlihatkan kecemburuan pada Tita yang memang dia sendiri berselingkuh.
Tapi dasar otak lelaki yang sedang gelap mata, Adi diam-diam mengambil beberapa kain parnel dan beberapa stel baju bayi. Dimasukannya ke dalam kantong plastik tanpa sepengetahuan Tita, dan memasukannya ke dalam jok motornya.
Bukan tanpa alasan Adi nekad melakukan semua itu, tentu saja ia akan menyerahkannya pada Risna yang sama-sama tengah mengandung anaknya.
Tita yang anteng di kamar mandi, tak mengetahui bahwa suaminya telah mengambil beberapa helai perlengkapan bayi dari lemarinya.
Selesai mandi Tita bergegas menuju kamar dan bersiap-siap untuk tidur, tanpa curiga sedikitpun pada Adi.
Keesokan harinya, seperti biasa Tita menyiapkan sarapan untuk Adi, tapi pagi itu Adi begitu terburu-buru pergi ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu.
Melihat Adi yang selalu terburu-buru, Tita hanya bisa mengelus dada dan membiarkannya, karena Tita sudah terbiasa.
Tita bergegas menuju kamarnya.
Dibukanya lemari, dimana ia menyimpan belanjaannya kemarin, dirapihkannya satu-persatu pakaian milik anaknya kelak. Wajah Tita seketika berubah, ia ingat betul membeli parnel satu lusin tapi kok parnelnya cuma ada enam, kemana sisanya? Tita mulai mencari-cari barangkali jatuh ke bawah lemari, tapi tetap saja Tita tak menemukannya, iapun membongkar satu kantong yang berisi baju-baju bayi yang cukup bagus, tapi baju bayi juga hilang empat stel, kembali Tita memeriksa kantong yang lainnya, lagi-lagi sepatu kecil yang mungil tak ada dua, Tita ingat betul, bu Popy membeli empat sepatu bayi.
__ADS_1
Tita mulai kalang kabut tak karuan, ia sungguh merasa aneh, kemana hilangnya sebagian barangnya.
"Oh! Tidak!" mungkinkah Adi yang mengambilnya? tapi untuk apa Adi mengambil pakaian bayi miliknya?
Mungkinkah Adi ......
Jantung Tita berdetak kencang.
"Adi?!
Tita menjerit begitu keras, Tita baru sadar suaminya telah mengambil perlengkapan anaknya.
Tita menangis, air matanya tak terbendung lagi, begitu tega suaminya berbuat jahat padanya, begitu perih bathin Tita, sungguh Adi sudah kelewat batas menyakitinya, bagaimana suaminya bisa berbuat kejam padanya, demi seorang wanita, yang Tita sendiri tak mengetahui siapa wanita yang telah merubah suaminya menjadi begitu kejam pada dirinya.
Dada Tita terasa sesak, ia mulai sulit bernafas karena syok, kini Tita yakin suaminya telah mempunyai istri lagi, dan mungkin saja sama seperti dirinya yang tengah mengandung.
Air mata Titapun tumpah, dunia terasa gelap, suaminya begitu tega melakukan kekejaman yang tak henti-henti.
Sampai kapan ia bertahan?
Rasanya Tita sudah tak sanggup lagi untuk hidup yang selalu berteman dengan air mata, sampai kapan tubuhnya yang mulai kurus, karena selalu menahan tekanan bathin yang diterimanya setiap hari.
"Ya Alloh...Tita memanggil sang kuasa, untuk melindunginya, hanya pada Tuhanlah ia meminta dan memohon petunjuknya.
__ADS_1
Tita berusaha bangkit dan bergerak sambil memegang perutnya yang mulai tegang.
"Astagfirulloh....
Tita mencoba menguatkan hatinya agar tetap tegar menghadapi semua cobaan yang di hadapinya.
Langkahnya yang gontai, berusaha meraih sesuatu yang ada di dompetnya.
Iapun mengambil sebuah kartu nama milik Yudha dari dalam dompetnya.
Di pegangnya kartu nama milik Yudha,Tita berusaha menghubungi Yudha di ponselnya .
"Hee---lo," lirih Tita seraya memegang perutnya yang mulai terasa sakit.
Tapi hanya terdengar nada sibuk di ponsel Tita.
Sebenarnya Tita merasa sungkan menghubungi Yudha, tapi karena ia sudah hilang akal, keterpaksaannyalah yang membuat Tita tak berdaya.
Tita bisa saja menghubungi orang tuanya, tapi ia tahu betul dengan penyakit ibunya yang punya darah tinggi, tentu akan membahayakan kondisi ibunya jika ia mengatakan yang sebenarnya.
Itulah mengapa Tita berani menghubungi Yudha yang memang begitu baik dan perhatian padanya.
Tita sudah tak sanggup lagi berjalan,
__ADS_1
tubuhnya mulai lemah, suaminya telah berlaku tak adil padanya.