Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Popy Meminta Tita Untuk Menjadi Madunya


__ADS_3

Saat Yudha mengejar Popy. Tita hanya diam terpaku wajah bayi mungilnya selalu di pandangnya dengan haru.


"Kemari nak Tita."


Ibu Yudha menyuruh Tita untuk duduk di dekatnya.


"Nak Tita, ibu tak mengerti. Kok Yudha begitu perhatian sama kamu?"


Tita hanya tersenyum mendengar ucapan ibu Yudha.


"Sebaiknya kamu malam ini tidur disini ya! gak usah balik lagi ke Villa."


Tita sedikit terkejut mendengar permintaan ibu Yudha.


"Mmmm ...sebaiknya saya tanya mas Yudha dulu bu...."


"Alahhh....ngapain nanya Yudha!"


Tita begitu heran dengan sikap ibu Yudha yang sedari tadi memandanginya. Sesekali tangan ibu tua itu mengelus - ngelus rambut Tita.


"Nak Tita, ibu sebenarnya sangat kaget liat Yudha yang begitu perhatian sama kamu, setahu ibu. Dia tuh orangnya dingin, tapi sama kamu kok beda ya?"


Deg.


Seketika jantung Tita berdetak kencang apa maksudnya ibu Yudha mangatakan tentang Yudha.


"Mas Yudha emang baik sih bu."


Tita mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudah. Malam ini kamu tidur saja di sini ada banyak yang ingin ibu diskusikan."


Diskusi! Tita tak mengerti apa maksud semua perkataan ibu Yudha ini, apa yang mau didiskusikan? apakah mengenai Bunga?


"Mah, sudahlah jangan nangis. lagian mamah gak pernah nurut sih. Sama papah.'


"Tapi ibumu seharusnya tidak usah menghina saya seperti itu pah!"


Popy kembali memeluk bantal dan menelungkupkan tubuhnya, hatinya masih sakit mendengar ucapan mertuanya.


"Ya....udahlah mah. Maafin ibu saya, maklum ia sudah tua."


Yudha meraih tangan Popy dan langsung merangkulnya.


Yudha menciumi Popy dengan lembut bagaimanapun sifat Popy yang selalu menjengkelkannya tapi ia begitu mencintai istrinya.


"Sebentar ya mah...papah mau lihat dulu Tita."


Setalah menenangkan Popy. Yudha kembali menemui Tita yang sedari tadi ia biarkan dengan ibunya yang cerewet.


Nampak ibunya tengah asyik mengobrol dengan Tita.


"Lagi ngapain istrimu pasti mewek, hhh dasar! punya menantu menyebalkan!"


"Sudahlah bu...ibu itu jangan terus memarahi Popy. Dia itu kan istriku bu!"


"Istri! kalau istri tuh harus bisa ngasih keturunan Yud!"


"Bu! jangan bicara begitu!"


"Terus ibu harus bicara apa hah!"


"Kok. Ibu jadi marah."


Inilah yang tak diinginkan Yudha sifat ibunya yang bawel membuat Popy dan Yudha merasa tak betah tinggal di rumah.


"Nanti malam ada yang ingin ibu bicarakan."


"Memangnya ada apa bu?"


"Sudahlah nanti malam, kalian bertiga kumpul di sini."


Mendengar kita bertiga Yudha dan Tita sangat penasaran memangnya apa yang akan dikatakan ibunya yang sepertinya sangat serius.


"Nak Tita, sebaiknya kamu istirahat dulu.Oh ya? tunjukan kamarnya Yu!"


Yudha kemudian menunjukkan kamar yang biasa di pake tamu jika menginap. Tita kemudian masuk dan menidurkan bunga yang mulai rewel.


_Singkat cerita_


Malam yang membuat penasaran Yudha Tita dan Popy akhirnya tiba.


Mereka sudah terlihat kumpul di ruang tengah. Tita terlihat masih menggendong bayinya sementara Popy duduk berdampingan dengan Yudha.


Wajah ketiganya sangat serius menunggu.


"Yudha anakku....kamu sayang pada ibu..."


"Tentu saja bu, mengapa ibu pertanyaan gitu sih?"


"Kalau kamu sayang sama ibumu, maukah kamu mengabulkan permintaan ibu?"


"Tentu saja bu, memangnya ibu mau apa dari saya?"


"Ibu minta kamu nikahi Tita...

__ADS_1


Bagai kena petir di siang bolong wajah ketiganya berubah seketika.


"Ibu! Apa yang ibu bicarakan?"


"Diam kamu Po!"


Ibu Yudha kembali membentak Popy yang memotong pembicaraannya.


Yudha dan Tita hanya diam terpaku mendengar ucapan ibu Yudha yang memang serius.


"Dengar! jangan potong pembicaraan ibu! saya akan meminta pendapat kalian jika ibu menyuruhnya. Mengerti?!"


Untuk sesaat semua diam ada.unek_ unek yang ingin mereka lontarkan atas permintaan ibu Yudha tapi ibu Yudha tak menginginkan mereka untuk mendebatnya selagi ia bicara.


"Yudha! ibu mau tanya sama kamu?"


"Iya bu...."


Yudha dengan terpaksa menjawab walaupun hatinya masih sedikit kaget dengan pertanyaan ibunya.


"Jawab ibu dengan jujur! maukah kamu menikahi Tita?"


Yudha begitu tersudutkan dengan pertanyaan ibunya.


Tita dan Popy hanya saling pandang ada banyak kecemasan di antara dua wanita itu tapi mereka tahan sampai ibu Yudha menyuruhnya.


"Jawab!!


"Begini ...bu..sa..ya...."


Yudha tak kuasa menjawab pertanyaan ibunya yang tentunya akan menyakiti hati Popy.


"Baiklah kalau kamu tak mau menjawab! sekarang saya akan bertanya pada Popy."


"Po! kamu sebagai istri Yudha dengan segala kekuranganmu, apakah kamu rela jika suamimu menikah lagi?"


"Mmm....."


Seperti halnya Yudha, Popy tak bisa menjawab pertanyaan ibunya. Ia hanya diam menyembunyikan air matanya, hatinya begitu hancur mendengar permintaan mertuanya. Rahimnya yang tidak bisa mengandung selalu dijadikan alasan untuk mertuanya menghina dan merendahkannya.


"Baiklah. Po, kamu juga tak bisa menjawab! sekarang Tita..."


Keringat dingin mulai membasahi dahi Tita.


"Tita! sekarang ibu mau tanya sama kamu.


Maukah kamu menikah dengan Yudha?"


Mendengar permintaan ibu Yudha mata Tita untuk sesaat memandang ke arah Popy. Tita tahu betul apa yang dirasakan Popy saat itu dan dengan tegas Tita berkata.


Popy sangat kaget mendengar perkataan Tita, yang begitu menyentuh hatinya sebagai wanita. Sungguh Tita adalah wanita yang baik dan bijaksana, padahal bisa saja Tita tak menolaknya apalagi mertuanya adalah figur wanita yang tegas dengan segala kekayaan yang berlimpah, tentu Tita akan terjamin hidupnya kelak bersama anaknya jika ia menuruti kemauan mertuanya.


Tak berbeda jauh dengan Yudha, ia begitu kagum pada keteguhan hati Tita. Ia tahu betul Tita sejak pertama mengenal Tita Yudha memang sudah mengagumi sifatnya yang sabar.


"Baiklah. Semua sudah mengatakan pendapatnya, ibu hargai pendapat kalian, ada satu lagi pertanyaan ibu! Ini pertanyaan terakhir dari ibu! untuk kamu Yudha!"


"Ya bu."


"Baiklah. Kira_kira siapa nanti yang akan menjadi ahli warismu?" itu saja pertanyaan terakhir ibu. Tak usah dijawab."


Pertanyaan terakhir ibunya membuat Yudha tersentak.


Kemudian ibu Yudha pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Oh ya? Tita sebaiknya kamu pulang saja ke rumah orang tuamu, tak baik kamu berada diantara Popy dan Yudha, bawa saja Bunga bersamamu!"


"Jangan!" Popy berusaha menyela dan memohon pada mertuanya untuk tak melibatkan Bunga dalam masalah ini.


"Jangan bu! Bunga biar sama saya," lirih Popy memohon sambil menyentuh kaki mertuanya.


"Bunga bukan anakmu! akui itu!" bentak ibu Yudha sambil menghalau tangan Popy yang menangis dan memohon.


"Sudahlah mah...." bisik Yudha pada Popy.


Tita begitu merasakan apa yang dirasakan Popy mertuanya memang sangat tegas dan begitu banyak menekan Popy, tapi apa daya ia tak bisa menolong Popy.


Titapun pergi masuk kamar dengan bayinya begitupun Yudha yang memapah Popy karena terus saja menangis.


🌜


Keesokan paginya Tita bersiap_siap untuk kembali saja pada orang tuanya, ia tak mau lagi dilibatkan dengan urusan rumah tangga Yudha dan Popy. Sudah cukup ia mengalami banyak penderitaan.


Sementara Yudha pun bergegas untuk ikut mengantar Tita pulang, orang tua Tita pasti akan mengatakan banyak hal kepada Tita terlebih Yudha harus bertanggung jawab mengenai masalah Tita yang tak pernah diketahui orang tua Tita.


Dengan berat hati Popy harus merelakan Bunga. Air matanya tak terbendung.karena Bunga akan jauh darinya, Ia tak sanggup mengantar Tita, hatinya sungguh hancur bila melihat bayi mungil Tita.


Mertuanya hanya memperhatikan sikap Popy yang keukeuh pada pendiriannya untuk terus berumah tangga tanpa seorang anak, sampai kapan Popy bertahan pendapat mertuanya untuk menikahkan Yudha dengan Tita tak digubrisnya, harus diberikan kepada siapa ahli waris kekayaan Yudha nantinya.


Sementara Tita tak akan pernah menyerahkan Bunga begitu saja pada keluarga Yudha, meskipun Popy rela memberinya harta tapi Tita bukan type wanita yang segalanya mudah di dapat oleh uang baginya Bunga adalah harta terbesarnya.


Setelah pamit pada Popy dan ibunya Yudha. Tita kemudian pergi meninggalkan rumah Yudha baginya kenangan Yudha hanya akan ia simpan dalam hatinya, pantang baginya merusak rumah tangga Popy apalagi Popy pernah menolongnya tak mungkin Tita menyakitinya dengan menikahi suaminya, ia masih ingat bagaimana perasaan seorang wanita jika dimadu.


🧚


Bogor adalah kota kelahiran Tita, hampir dua jam perjalanan ia berada di mobil bersama Yudha. Tak ada lagi pembicaraan yang berarti Tita hanya diam membisu begitupun Yudha. Meskipun berat melepas Tita dan Bunga tapi apa daya, ia tak mau lagi menyakiti dua wanita yang begitu ia sayangi.

__ADS_1


Merekapun sampai ditempat tujuan, hampir setahun Tita tak mengunjungi ibunya perceraiannya dengan Adipun ia rahasiakan pada ibunya. Kini dengan terpaksa Tita harus menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.


Kakinya begitu berat melangkah dihadapannya tampak rumah sederhana .


Semua masih pada tempatnya, di depan ada dua kursi tempat dimana ia selalu duduk santai sambil menunggu tukang bakso langganannya.


Dengan hati yang deg_degan Tita mengetuk pintu rumahnya.


Tok....tok...


Suara ketukan pintu mengagetkan yang empunya rumah. Pintupun terbuka.


"Neng.....'


Teriakan seorang ibu yang begitu lama merindukan Tita anaknya.


Keduanya hanyut dalam kerinduan yang sekian lama terpendam.


"Neng! ini anak kamu?"


"Iya bu."


Air mata membasahi pipi manakala Tita menunjukan seorang bayi mungil pada ibunya.


Ada yang menarik perhatian ibunya. Yaitu sosok Yudha yang datang bersama Tita.


Yudha tersenyum sambil mengenalkan diri pada ibunya.


"Nengg! siapa dia?'


"Ini Yudha bu...."


"Ohhhh...jadi ini yang namanya Yudha?"


"Kok ibu tahu?"


Tita dan Yudha begitu kaget mendengar ucapan ibunya yang seolah - olah mengetahui Yudha.


Ibu Tita kemudian menceritakan kedatangan Adi tiga bulan yang lalu dan mengatakan padanya bahwa Tita telah kabur meninggalkan Adi dengan pria lain, tapi ibu Yudha tak begitu saja mempercayai Adi. Tak mungkin Tita berbuat senekad itu.


"Tidak bu! Adi telah berbohong pada ibu!"


Tita begitu kesal mendengar cerita ibunya Adi sudah begitu kejam memfitnah dirinya.


Tita kemudian menceritakan kisah sebenarnya pada ibunya walaupun ibunya akan syok mendengarnya tapi Tita harus menjelaskan semua kebenaran tentang Adi.


Ibu Tita sangat terpukul mendengar kisah Tita sungguh anaknya selama ini menahan begitu banyak penderitaan selama berumah tangga dengan Adi. Ia merasa bersalah telah menjodohkan anaknya pada pria yang tak bertanggung jawab seperti Adi.


"Nak Yudha, terima kasih sudah menjaga Tita."


"Iya bu, enggak masalah. Tita juga sangat baik bu."


Setelah semuanya selesai dan tak ada lagi yang disembunyikan Tita dari ibunya, kini semuanya sudah jelas, bahwa Adilah biang dari kehancuran hidup Tita selama ini.


Yudha kemudian pamit. Tak ada lagi kecurigaan ibunya terhadap dirinya Yudha berharap Tita akan baik - baik saja bersana keluarganya.


"Tita, jaga dirimu baik- baik, hubungi saya bila kamu membutuhkan sesuatu."


"Iya mas, terima kasih."


Yudha pergi meninggalkan Tita dengan membawa kepedihan yang dalam kini tak ada yang perlu ia cemaskan. Tita sudah kembali berkumpul dengan keluarganya.


🌹


Tiga tahun telah berlalu. Kini bunga semakin tumbuh menggemaskan. Tita merawatnya dengan baik.


Untuk menghidupi keluarganya Tita berjualan sembako di rumahnya sambil menjaga Bunga, ibu dan adiknya selalu membantu mengasuh Bunga jika Tita sedang ada keperluan, baginya hasil dari keringatnya sendiri begitu banyak berkah yang ia dapatkan dari pada harus menerima tawaran mertua Popy untuk menjadikannya istri kedua Yudha.


Kini hidupnya terasa tenang walaupun kadang kekurangan itu hal yang wajar karena rejeki sudah diatur oleh sang maha pencipta.


Hari itu Tita sangat sibuk meladeni pelanggan yang biasa mengerumuni warungnya setiap pagi, saking sibuknya Tita tak memperhatikan anaknya Bunga.


"Bunga! sini nak! mainnya jangan jauh_ jauh."


Tita begitu kaget Bunga yang biasa main di depan rumahnya tak terlihat.


Tita begitu kebingungan dan berusaha mencari anaknya yang menghilang.


Sesosok pria berdiri tegak di hadapan Tita seraya menggendong Bunga.


"Mas Yudha!!


Tita begitu kaget melihat Yudha yang tengah menggendong bunga, yang lebih mengagetkan lagi Yudha tak datang sendiri Popy dan ibunya Yudha juga datang.


Ternyata kedatangan Yudha kesana untuk meminta Tita menjadi istrinya dengan ijin Popy tentunya. Entah ada angin darimana Popy tiba_tiba memohon pada Tita untuk mau menjadi madunya.


Tentu saja ada alasan yang kuat mengapa Popy menyetujui semua permintaan mertuanya, karena mertuanya berusaha mencari calon istri buat Yudha tentu saja Popy tak menyetujuinya. Wanita yang akan dijodohkan dengan Yudha belum tentu wanita sebaik Tita. Lebih baik Popy menerima Tita sebagai madunya dari pada harus menerima madu pilihan mertuanya.


Semua malam itu dua keluarga berkumpul mendiskusikan masalah perjodohan Tita dan Yudha.


Hampir seharian Tita memikirkan permintaan Popy untuk menjadi madunya dengan begitu banyak pertimbangan akhirnya Tita menerima Yudha.Tita yakin mengapa Popy mau menerima Tita menjadi madunya, mungkin mereka hanya menginginkan bayi dari rahimnya untuk kelak ada ahli waris yang memang dari dulu selalu jadi perdebatan.


Dulu Tita pernah berhutang Budi pada Yudha yang telah menyelamatkan nyawanya dan bayi yang waktu itu masih dikandung Tita. Kini saatnya Tita harus membayar hutang budinya pada Yudha dengan menyetujui permintaan Popy dan ibu Yudha.


jangan lupa kasih like_ comen dan vote untuk cerita ini ya...pembaca yang sangat kucintai 🙏🙏😁😁

__ADS_1


__ADS_2