Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 68


__ADS_3

Malam menjelang, Anita sudah berdandan cantik ia juga menyiapkan lingerie merah kesukaan Ilham dulu.


Ia berharap bisa membuat Ilham terkesan malam ini.


"Mas, baru pulang? " sambutnya ramah


"Iya, kamu sendiri bagaimana?" Ilham balik bertanya.


Ia merasa heran karena Anita bersikap ramah.


"Gitu -gitu saja, tapi ketimbang nganggur di rumah lumayan lah." jawabnya acuh.


"Kenapa kau bilang nganggur? kan ada Cila yang membutuhkan perhatianmu."


"Dia aman bersama ibu, kok!" jawabnya lagi.


"Mau aku siapkan makanan?" tawarnya dengan tersenyum.


Ilham menggeleng.


"Aku sudah makan."


Ilham masuk ke kamar mandi, sementara itu Anita bergegas memakai baju dinasnya.


Ilham sedikit heran dengan perubahan sikap Anita yang lebih manis.


Ilham yang merasa lelah merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Anita mulai melancarkan aksinya.


"Mas, kau tidak rindu masa-masa kita dulu? saat kita bertemu dengan sembunyi-sembunyi, saat harus berpura-pura saling cuek di depan Arini, sungguh aku rindu saat itu."


Ilham merasa tidak enak, apalagi saat Anita mengingatkan dosa-dosanya kepada Arini.


Anita langsung duduk di pangkuan suaminya itu.


Naluri Ilham sebagai laki-laki tergoda.


Apalagi sejak sering ada ketegangan di antara mereka, hampir bisa di bilang mereka tidak pernah melakukannya.


Namun Ilham merasa heran sekaligus khawatir, padahal dia merasa sangat bergairah tapi burungnya anteng saja alias tidak bisa berdiri.


Ditengah deru nafas yang memburu, Anita menghentikan aktivitas nya.


Ia memandang Ilham dengan penuh pertanyaan.


"Kenapa denganmu, Mas?"


Ilham tidak bisa langsung menjawabnya.


Ilham menarik nafas panjang, Ia melirik kearah juniornya yang seperti tidak terpengaruh sama sekali oleh ke kemolekan tubuh istrinya itu.


Ilham menggeleng lemah.


"Aku juga tidak mengerti..." jawabnya bingung.


Dengan perasaan kecewa Anita menimpuk suaminya dengan bantal.


"Percuma aku dandan cantik-cantik." keluhnya kesal.


Malam itu Anita tidur dengan membelakangi suaminya.


Ilham sendiri tidak bisa tidur.


"Apa yang terjadi denganku ya Allah, apa ini karma untuk ku? hamba mohon berilah karma yang lain saja, jangan yang ini." bisik Ilham dalam gelisah.


Pagi harinya, Anita masih terlihat marah kepada suaminya.


Ia sengaja mendiamkan Ilham.


"Nit, kita berangkat bareng hari ini." bujuk Ilham hati-hati.

__ADS_1


"Aku bisa berangkat sendiri." jawabnya ketus.


Ilham terdiam lagi. Ia sadar kalau dirinya sudah membuat Anita kecewa.


Anita heran tidak mendapati mertuanya di dapur.


"Kemana orang tua ini?"


"Bu, kenapa belum keluar kamar juga? ini sudah siang." Anita menghampiri kamar mertuanya.


Bu Lastri sedang tiduran sambil mengerang.


"Anita, ibu kurang enak badan, sebaiknya kau tidak masuk kerja dulu, siapa yang akan menjaga Cila?" ucapnya lirih.


"Yang benar saja , aku baru mulai masuk kemarin lho. Terus tiba-tiba sekarang mau bolos? ibu yang harus jagain Cila!"


"Tapi, Ibu benar-benar sakit, Anita."


"Aku tidak mau tau, ibu harus bangun, ayo keluar!" Anita memaksa mertuanya untuk bangkit.


'Ibu hanya demam sedikit, jangan manja. Kita adalah tim untuk menjatuhkan Arini. Jadi ibu harus kuat."


Dengan malas Bu Lastri menuruti perintah menantunya.


"Nah, begitu. Baru terlihat seperti Bu Lastri yang kuat dan tidak terkalahkan!" ujarnya memberi semangat pada Bu Lastri.


Bu Lastri melangkah dengan sempoyongan ke kamar Cila.


"Ingat, ya Bu! di depan mas Ilham ibu tidak boleh terlihat sakit, Mengerti, kan!"


Bu Lastri mengangguk.


Anita benar'-benar pergi meninggalkan Bu Lastri yang sedang sakit dan harus menjaga cucunya.


Ilham yang bingung dengan keadaannya sendiri tidak sempat melihat keadaan ibunya.


Ia pun berangkat ke kantor dengan hati galau.


"Kenapa sih, Mas? padahal aku sudah membayangkan dapat melewatkan waktu bersama, melupakan perselisihan yang selama ini terjadi."


"Nit, Nanti pulang kantor kau ikut, ya!" kata Lusi sahabatnya saat mereka tengah makan siang.


"Kemana?"


"Udah, jangan banyak nanya, yang jelas asik kok."


Anita tersenyum penasaran.


Anitta melihat pesan dari mertuanya.


( Anita, cepatlah pulang, ibu benar-benar sakit)


Saat tiba pulang kantor, bukannya pulang, Anita malah ikut dengan temannya.


Mereka masuk kedalam sebuah bar.


Di sana terlihat banyak pria yang sedang minum di temani gadis-gadis cantik.


"Tempat apa ini,Lus?"


"Sudah , kau duduk saja. Oh,ya. ini harus di buka sedikit."


Lusi membuka kancing atas blus yang di kenakan Anita.


Anita menatapnya penuh pertanyaan.


"Kau ingin dapat uang banyak dengan mudah, kan?"


Anita mengangguk, Dia belum bisa menebak apa yang akan terjadi.


Lusi berdiri saat ada Om-om yang menghampiri mereka. Setelah bicara sebentar dengan Om itu, ia mendekati Anita.

__ADS_1


"Rileks.. jangan tegang begitu, aku tau kau bukan pertama kali mengalami ini." ujarnya sambil mengedipkan mata.


Anita belum sempat protes karena pria botak itu sudah mendekatinya.


"Baru, ya? sebelumnya belum pernah saya melihat mu.'"


Anita hanya mengangguk.


"Ayo..!" pria itu menarik tangan Anita masuk ke sebuah kamar.


"Rupanya pria botak ini tipe orang yang tidak suka basa basi, dia langsung saja mau ke intinya." pikir Anita


Semula ia merasa canggung. Tapi setelah ingat apa yang menimpa Ilham dia mencari pembenaran pada dirinya sendiri.


"Aku tidak salah dong melakukan ini, hal yang seharusnya aku dapat dari suamiku dia tidak dapat memberikannya." ucapnya dalam hati.


Ia mulai mengimbangi pemainan pria botak itu.


"Walaupun dari wajah dan postur tubuhnya jauh dari mas Ilham, tapi setidaknya dia bisa memuaskan ku." pikir Anita lagi.


Ia semakin bergairah, mungkin karna hasrat yang semalam tidak bisa tersalurkan.


Pria bangkotan itu sampai menyerah di buatnya.


"Hebat, hebat. baru kali ini saya bertemu orang yang bisa menyaingi permainan saya dalam masalah ini.." pujinya.


Pria itu meninggalkan dua gepok uang di meja, lalu pergi meninggalkannya sendirian.


Anita terbelalak.


"Benar kata Lusi, ini cara instan cari duit tanpa bekerja. Sudah dapat enaknya, di bayar pula." ucapnya tersenyum bangga.


derrt..


Anita mengangkat panggilan dari Ilham dengan malas.


"Iya, Mas."


"Kau dimana? ini sudah malam, kenapa kau belum pulang? Ibu masuk rumah sakit!" suara Ilham terdengar marah.


"Sakit? iya sudah, aku segera pulang."


Anita menutup telponnya.


"Dasar wanita tua itu selalu merepotkan." omelnya sambil membereskan uang yang berserakan.


Anita langsung menuju rumah sakit tempat Bu Lastri di rawat


"Kau dari mana? mana ada orang kerja sampai jam segini?" sambut Ilham dengan pertanyaan.


"Aku kerja, Mas.. berpeluh-peluh di ranjang juga, kan kerja. Buktinya aku bawa duit yang banyak pulang." jawab Anita, tentunya hanya dalam hati.


"Tidak usah bahas itu dulu. Dimana ibu? dan Cila baik-baik saja, kan?"


Anita menerobos masuk.


Tampak Bu Lastri terbaring lemas di ranjang rumah sakit.


"Ibu kenapa pakai acara sakit segala sih? cuma demam gitu doang harus di bawa kerumah sakit." omelnya pelan.


"Ibu benar sakit Anita." jawab Bu Lastri kesal.


"Ibu, tidak usah banyak gaya, kalau sudah begini siapa yang bayar coba? aku juga. Dari mana mas Ilham punya uang lebih untuk keperluan mendadak seperti ini."


Bu Lastri mulai menangis mendengar Omelan menantunya.


" Dulu Arini tidak pernah mengeluh sedikitpun, apalagi menyumpahi ku."


"Jangan pernah bandingkan aku dengan wanita kampungan itu, ibu mengerti?" bentaknya kasar.


"Apa yang bisa di banggakan dari Arini? lihat aku, ini uang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari." Anita mengeluarkan gepokan uang di depan Bu Lastri.

__ADS_1


__ADS_2